Cuaca Panas Ekstrem Ancam Kualitas Obat dan Vaksin, Rantai Dingin Harus Dijaga
Ilustrasi(magnifik)

PERUBAHAN suhu dan meningkatnya kejadian cuaca panas ekstrem menjadi tantangan baru bagi sistem kesehatan, termasuk dalam menjaga kualitas obat dan vaksin. Produk farmasi tertentu membutuhkan kondisi penyimpanan yang terkontrol agar tetap aman dan efektif hingga digunakan oleh pasien.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa sejumlah produk biologis, termasuk vaksin, memiliki tingkat kestabilan yang berbeda terhadap panas, cahaya, serta perubahan lingkungan. Paparan suhu yang tidak sesuai selama penyimpanan maupun distribusi dapat memengaruhi kestabilan produk dan menurunkan potensinya.

Vaksin menjadi salah satu produk yang sangat bergantung pada pengendalian suhu. WHO menyebut sebagian besar vaksin yang digunakan dalam program imunisasi harus disimpan dalam rantai dingin pada suhu sekitar 2 hingga 8 derajat Celsius.

Beberapa jenis vaksin bahkan membutuhkan kondisi penyimpanan yang lebih dingin. Jika vaksin terpapar suhu terlalu panas atau terlalu dingin, efektivitasnya dapat menurun atau produk menjadi tidak dapat digunakan.

Masalahnya, mempertahankan suhu tersebut tidak selalu mudah, terutama ketika produk harus melewati perjalanan panjang dari fasilitas produksi menuju gudang, fasilitas kesehatan, hingga akhirnya diberikan kepada masyarakat.

Gangguan listrik, peralatan pendingin yang tidak memadai, keterlambatan transportasi, atau paparan suhu tinggi selama perjalanan dapat menyebabkan terjadinya perubahan suhu di luar batas yang diperbolehkan.

WHO menekankan pentingnya pemantauan suhu dalam seluruh rantai pasok vaksin. Studi pemantauan suhu yang dilakukan WHO menunjukkan bahwa vaksin dapat mengalami paparan suhu yang berpotensi merusak selama proses distribusi.

Karena itu, pencatatan dan pemantauan suhu diperlukan untuk menemukan titik lemah dalam rantai pasok serta mencegah kerusakan produk.

Persoalan tersebut menjadi semakin relevan ketika negara menghadapi kondisi cuaca yang lebih panas. Sistem pengawasan obat dan vaksin tidak cukup hanya memastikan produk sampai ke fasilitas kesehatan, tetapi juga perlu memastikan kualitasnya tetap terjaga sepanjang perjalanan.

WHO juga mengembangkan konsep controlled temperature chain untuk vaksin tertentu yang memiliki stabilitas terhadap panas. Dalam kondisi yang telah memenuhi persyaratan, beberapa vaksin dapat berada pada suhu hingga 40 derajat Celsius selama periode terbatas.

Namun, pendekatan tersebut hanya berlaku untuk vaksin yang memang telah memiliki data stabilitas dan mendapatkan izin penggunaan dalam kondisi tersebut.

Artinya, tidak semua vaksin dapat disimpan sembarangan pada suhu tinggi. Setiap produk memiliki persyaratan penyimpanan yang harus mengikuti informasi dari produsen dan ketentuan regulator.

Paparan panas yang melebihi batas yang ditentukan dapat mempercepat hilangnya potensi vaksin. WHO menegaskan bahwa ketika potensi vaksin telah hilang akibat kerusakan suhu, kondisi tersebut tidak dapat dipulihkan.

Selain vaksin, obat-obatan tertentu juga memiliki persyaratan penyimpanan khusus. Karena itu, sistem pengawasan obat yang tangguh terhadap perubahan iklim perlu mempertimbangkan kondisi lingkungan sejak tahap produksi, penyimpanan, transportasi hingga distribusi kepada pasien.

Penguatan sistem dapat dilakukan melalui pemantauan suhu secara berkala, penggunaan peralatan penyimpanan yang sesuai, pencatatan kondisi selama distribusi, serta kesiapan menghadapi gangguan seperti pemadaman listrik dan cuaca ekstrem.

Bagi masyarakat, obat dan vaksin sebaiknya tidak disimpan sembarangan di tempat yang terkena panas langsung. Petunjuk penyimpanan pada kemasan atau informasi dari tenaga kesehatan perlu diperhatikan karena setiap produk dapat memiliki persyaratan yang berbeda.

Dengan meningkatnya tantangan akibat suhu ekstrem, menjaga kualitas obat dan vaksin bukan hanya persoalan fasilitas kesehatan. Sistem rantai pasok yang mampu beradaptasi terhadap perubahan kondisi iklim menjadi bagian penting untuk memastikan masyarakat tetap memperoleh produk kesehatan yang aman, bermutu, dan efektif.

Sumber: World Health Organization (WHO)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *