Perkuat Produksi dan Branding Produk Berbasis Budaya Minangkabau
Ilustrasi(Dok Istimewa)

Tim Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas PGRI Sumatera Barat (Upgrisba) mentransformasi AKA Konveksi di Kelurahan Parik Rantang, Kota Payakumbuh. Melalui pendampingan komprehensif, usaha mikro ini berhasil meningkatkan kapasitas produksi hingga 33,33 persen, sekaligus mendongkrak nilai jual produk melalui identitas budaya Minangkabau. Program ini didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Tahun Pendanaan 2026. Sebelum program ini digulirkan, AKA Konveksi yang digerakkan 10 tenaga kerja sejatinya telah memiliki basis produksi yang solid. Namun, usaha ini menghadapi tantangan klasik yang sering menghambat pertumbuhan UMKM, yakni proses produksi yang belum terstandarisasi, pengendalian mutu yang longgar, pencatatan keuangan yang masih manual, serta minimnya strategi branding.

Melihat potensi besar yang dimiliki, tim dosen Upgrisba yang terdiri dari Trisna Helda, Vivina Eprillison, dan Hafizah Delyana turun langsung ke lapangan, melibatkan tiga mahasiswa, Dinda Tiara, Warhamna, dan Ine Mai Santia. Kolaborasi dosen dan mahasiswa ini dirancang untuk memberikan pendampingan riil, sekaligus mengasah kepekaan sosial dan kemampuan problem solving mahasiswa terhadap permasalahan usaha mikro.

Tiga Pilar Strategis

Fokus utama pendampingan diarahkan pada tiga pilar strategis, yakni pertama, penataan proses produksi melalui penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) dan checklist Quality Control (QC). Kedua, penguatan tata kelola usaha. Tim mendampingi mitra beralih dari pencatatan manual ke format digital yang terstruktur untuk cash flow dan manajemen stok. Ketiga, pengembangan branding dengan mengangkat bahasa dan budaya Minangkabau ke dalam desain produk, menciptakan ciri khas yang kuat dan bernilai estetika tinggi.

Hasil dari pendampingan intensif ini sangat signifikan. Evaluasi menunjukkan kapasitas produksi AKA Konveksi melonjak dari rata-rata 1.500 pieces per minggu menjadi 2.000 pieces per minggu, atau meningkat 33,33 persen. Peningkatan ini berbanding lurus dengan efisiensi waktu kerja. Waktu produksi per kaos yang semula membutuhkan 90 menit, kini terpangkas menjadi 60 menit. Tak hanya itu, proporsi produk yang memerlukan perbaikan atau reject berhasil ditekan hingga 56,25 persen berkat penerapan QC yang ketat. Dampaknya pada nilai ekonomi berkat penguatan branding budaya Minangkabau, harga jual produk naik dari Rp105.000 menjadi Rp115.000, atau meningkat 9,52 persen.

“Perubahan ini menunjukkan adanya peningkatan nilai ekonomi produk sekaligus membuka peluang bagi AKA Konveksi untuk membangun posisi produk yang lebih kuat. Program ini sangat penting untuk diadakan karena kami melihat potensi besar yang dimiliki AKA Konveksi,” kata Trisna Helda, Ketua Tim Pengabdian Upgrisba dalam keterangannya hari ini.

Apresiasi

Desi Suryani, Ketua AKA Konveksi mengapresiasi kehadiran tim UPGRISBA membawa angin segar dan perubahan mendasar bagi usaha mereka. “Tim UPGRISBA sangat profesional dalam membantu kami membenahi manajemen produksi, pemasaran digital, dan administrasi. Antusiasme mahasiswa memberikan energi positif bagi seluruh tim kami. Kami berharap kerjasama ini bisa terus berlanjut,” harap Desi.

Keberhasilan di AKA Konveksi membuktikan bahwa pengembangan UMKM tidak hanya butuh suntikan dana, tetapi juga transfer ilmu, penataan sistem, dan pemanfaatan kearifan lokal. Teknologi yang diterapkan pun disesuaikan dengan kemampuan mitra, menggunakan format digital sederhana yang mudah diadopsi.

Ke depan, pendampingan berkelanjutan akan terus dilakukan agar AKA Konveksi mampu berdiri mandiri, berdaya saing tinggi, dan menjadikan budaya Minangkabau sebagai kekuatan utama identitas produk lokal di pasar nasional. (H-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *