
MUSIM kemarau dengan karakteristik udara panas, kering, dan rendahnya curah hujan memicu peningkatan risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Kondisi ini menyebabkan debu dan polutan lebih mudah beterbangan di udara dan terhirup oleh manusia.
Dokter spesialis anak subspesialis respirologi dari RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A, Subsp.Resp, menjelaskan bahwa gejala awal ISPA umumnya menyerupai selesma atau common cold. Meski sering dianggap ringan, masyarakat diminta tetap waspada terhadap perkembangan gejala yang lebih serius.
Gejala Ringan hingga Tanda Bahaya
Menurut Nastiti, manifestasi klinis ISPA yang paling ringan meliputi demam, batuk, dan pilek sederhana. Kondisi ini biasanya dapat sembuh dengan sendirinya seiring dengan meningkatnya kekebalan tubuh. Namun, kewaspadaan harus ditingkatkan jika muncul tanda-tanda kegawatan, terutama pada anak-anak.
Salah satu indikator utama yang harus diwaspadai adalah sesak napas, yang ditandai dengan peningkatan frekuensi napas (respiration rate). Anak yang mengalami sesak akan tampak “ngos-ngosan” seperti habis berlari, serta munculnya retraksi atau tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam saat bernapas.
Berikut adalah rangkuman gejala ISPA berdasarkan tingkat keparahannya:
| Kategori Gejala | Manifestasi Klinis |
|---|---|
| Ringan (Selesma) | Demam, batuk, pilek sederhana. |
| Tanda Bahaya (Segera ke Faskes) | Sesak napas (napas cepat/ngos-ngosan), retraksi dinding dada, kejang, kesadaran menurun. |
| Kondisi Darurat Lainnya | Mulut kebiruan (sianosis), demam di atas 40°C, muntah berulang, hingga dehidrasi berat. |
“Kondisi ISPA yang berlanjut menjadi pneumonia atau radang paru merupakan kegawatan yang paling sering terjadi. Bahayanya adalah peradangan sudah sampai ke jaringan paru sehingga membuat tubuh kekurangan oksigen,” ujar Nastiti, yang juga tergabung dalam Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
Kelompok Paling Rentan
Risiko ISPA tidak merata pada semua orang. Bayi dan balita menempati urutan pertama kelompok paling rentan karena sistem imunitas yang belum sempurna dan saluran napas yang masih sangat halus. Jika terjadi pembengkakan atau sumbatan pada saluran napas yang kecil tersebut, dampaknya akan jauh lebih fatal dibandingkan pada orang dewasa.
Selain anak-anak, kelompok rentan lainnya meliputi:
- Lansia: Mengalami penurunan imunitas seiring bertambahnya usia.
- Penderita Penyakit Kronis (Komorbid): Seperti asma, diabetes, dan penyakit jantung bawaan pada anak.
- Pekerja Luar Ruangan: Orang yang terpapar langsung dengan asap, debu, atau polusi udara secara terus-menerus.
Langkah Pencegahan
Untuk menekan risiko penularan dan keparahan ISPA di musim kemarau, dr. Nastiti menyarankan beberapa langkah preventif:
- Membatasi Aktivitas Luar Ruang: Terutama saat udara sangat kering dan berdebu.
- Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS): Rutin mencuci tangan dengan sabun dan menerapkan etiket batuk yang benar.
- Menjaga Hidrasi: Memastikan asupan cairan yang cukup sangat penting untuk menjaga selaput lendir saluran napas tetap lembap. Selaput lendir yang lembap berfungsi efektif melawan partikel asing yang masuk ke sistem pernapasan. (Ant/Z-1)
