
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menegaskan lembaganya menetapkan target nol kasus keracunan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sudaryono mengatakan, angka kasus keracunan MBG memang telah mengalami penurunan. Namun, kondisi tersebut belum cukup bagi BGN karena masih ada penerima manfaat yang harus mendapatkan perawatan akibat dugaan keracunan makanan.
“Memang betul keracunannya menurun dibandingkan sebelumnya, tapi saya bukan butuh penurunan, saya butuh nol,” kata Sudaryono saat meninjau korban keracunan MBG di RS Haji Medan, Sumatra Utara.
Ia menegaskan, satu kasus saja sudah menunjukkan adanya persoalan yang harus dievaluasi. Menurutnya, penerapan MBG berkaitan langsung dengan keselamatan penerima manfaat sehingga standar pelaksanaannya tidak boleh hanya mengejar penurunan angka kasus.
“Saya enggak butuh penurunan, saya butuhnya nol keracunan. Enggak butuh lagi keracunan,” ujarnya.
Sudaryono mengingatkan sekitar 27 ribu kepala dapur di seluruh Indonesia agar memberikan perhatian khusus terhadap setiap tahapan pengolahan makanan. “Ini enggak hanya masalah saja, ini masalah nyawa, masalah nyawa seseorang,” katanya.
Ia meminta seluruh kepala dapur, PIC, chef, dan pekerja di dapur MBG menjalankan SOP dengan disiplin. Jika ada petugas yang merasa tidak mampu menjalankan tanggung jawabnya, Sudaryono meminta yang bersangkutan tidak memaksakan diri. “Kau nggak bisa, kau mundur. Kalau merasa nggak mampu, mundur,” tegasnya.
Sudaryono mengatakan BGN telah menerapkan sejumlah langkah baru, termasuk sistem pelabelan dan berbagai prosedur penanganan untuk mencegah keracunan. Namun, ia menilai seluruh upaya tersebut harus dibarengi dengan kedisiplinan pelaksana di lapangan.
“Saya sebagai kepala badan, saya sudah berusaha untuk kemudian memberikan penanganan-penanganan baru, hal-hal baru yang kemudian bisa kita pedomani sehingga tidak ada lagi keracunan,” ujarnya.
Ia menegaskan evaluasi terhadap pelaksanaan MBG akan terus dilakukan agar kasus keracunan tidak kembali terjadi. (E-3)
