Wamendikdasmen Fajar: Pidato Kenegeraan Presiden Prabowo Menegaskan Kebijakan Pendidikan sudah Dirasakan Nyata hingga Ujung Negeri
Ilustrasi(Dok Kemendikdasmen)

DARI Kristina Beno di Merauke hingga Syafira di Batam yang kembali bersekolah sambil membantu orang tuanya berjualan es cendol, menegaskan bahwa kebijakan pembangunan sumber daya manusia di bawah pemeritahan Presiden Prabowo Subianto mulai dirasakan anak-anak Indonesia dengan latar kehidupan dan kondisi geografis yang berbeda.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq menilai Pidato Kenegaraan Presiden Prabowo menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia mencerminkan kebijakan yang telah berjalan, mulai dari pemenuhan gizi dan kesehatan hingga pemerataan akses terhadap pendidikan bermutu.

“Presiden Prabowo Subianto menunjukkan pandangan yang utuh tentang pembangunan manusia. Anak-anak harus memperoleh gizi yang cukup, tumbuh sehat, belajar di sekolah yang layak, dan mendapatkan pendidikan bermutu. Dari fondasi itulah negara membuka jalan bagi mereka untuk mencapai cita-cita,” ujar Fajar di Jakarta, Jumat (14/8).

Pesan tersebut tergambar melalui kehadiran Kristina Beno, siswi kelas VI sekolah dasar dari Merauke, Papua Selatan, yang telah merasakan manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG). Presiden Prabowo dalam pidatonya menyemangati  Kristina agar terus belajar dan suatu hari dapat kembali ke ruangan tersebut sebagai pemimpin bangsa.

“Kristina mewakili jutaan anak Indonesia yang menyimpan mimpi besar. Tempat seorang anak dilahirkan tidak boleh menjadi batas masa depannya. Pemerintah di bawah arahan Bapak Presiden Prabowo kini terus hadir sejak kebutuhan dasarnya dipenuhi hingga ia mampu menggapai cita-cita tertinggi,” ungkap Fajar.

Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menyampaikan bahwa sebanyak 16.167 satuan pendidikan menerima bantuan revitalisasi pada 2025. Pada 2026, cakupannya meningkat menjadi 71.774 satuan pendidikan, termasuk sekolah di Miangas, salah satu pulau terluar Indonesia.

Pemerintah juga mempercepat digitalisasi pembelajaran melalui penyediaan papan interaktif digital (PID). Pada 2025, pemerintah menyediakan satu perangkat untuk setiap sekolah. Pada 2026, dukungan tersebut ditingkatkan menjadi tiga perangkat untuk setiap sekolah.

Revitalisasi dan digitalisasi pembelajaran merupakan pelaksanaan Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2025. Menurut Fajar, revitalisasi menghadirkan ruang belajar yang lebih aman dan nyaman, sedangkan PID membantu guru menyajikan materi secara lebih visual, interaktif, dan terhubung dengan beragam sumber pengetahuan.

“Revitalisasi dan PID bukan sekadar pembangunan gedung dan pembagian perangkat. Keduanya mulai mengubah pengalaman belajar anak. Ruang kelas menjadi lebih layak, pembelajaran lebih hidup, dan guru saat ini memiliki lebih banyak cara untuk menjelaskan materi,” tuturnya.

Dampak tersebut disaksikan Fajar ketika mengunjungi sekolah di berbagai daerah. Di SMPN Teriak 3 Bengkayang, Kalimantan Barat, ia melihat perubahan lingkungan belajar setelah sekolah direvitalisasi. Di PAUD Indo Tionghoa Tarakan, Kalimantan Utara, anak-anak antusias mengikuti permainan edukatif menggunakan PID.

Cerita yang lain, usai menghadiri rangkaian Hari Guru Nasional 2025 di Manokwari, Papua Barat, Fajar juga mengunjungi SD Inpres 10 Mansinam. Untuk sampai di sana, Fajar harus menggunakan speedboat lalu dilanjutkan dengan berjalan kaki.

Sekolah yang berdiri sejak 1980 itu kini telah menerima PID sehingga pembelajaran digital turut menjangkau anak-anak di Pulau Mansinam.

Pada Juli 2026, Fajar menyambangi SD Maritim Mola dan SMP Maritim Mola di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, yang melayani anak-anak Suku Bajo. Ia meninjau pemanfaatan PID dan langsung berkoordinasi untuk mendorong percepatan revitalisasi SD Maritim Mola.

Pada Rabu (12/8), Fajar juga mengunjungi Pulau Belakang Padang, Kota Batam, Kepulauan Riau, salah satu wilayah terdepan Indonesia yang berhadapan langsung dengan Singapura. Ia menyapa anak-anak PAUD serta murid jenjang pendidikan dasar dan menengah.

“Dari Mansinam hingga Wakatobi dan Pulau Belakang Padang di Kepualauan Riau, saya melihat semangat belajar anak-anak dan pengabdian guru yang luar biasa. Jarak geografis tidak boleh menjadi jarak kesempatan,” ujarnya.

Fajar menegaskan Kemendikdasmen di bawah kepemimpinan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti terus turun langsung untuk memastikan kebijakan Presiden berjalan sesuai kebutuhan masyarakat.

“Bapak Presiden dalam berbagai kesempatan mengingatkan kami agar kebijakan tidak boleh berhenti di atas meja. Kami hadir untuk melihat, mendengar, dan memastikan berbagai program prioritas beliau benar-benar bekerja serta menjangkau anak-anak yang paling membutuhkan,” tegasnya.

Upaya pemerataan mutu diperkuat melalui Instruksi Presiden Nomor 10 Tahun 2026 tentang Program Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT). Sebanyak 17 SNT saat ini mulai memberikan layanan pada tahun ajaran 2026/2027 dan disiapkan sebagai pusat mutu yang turut memberikan dampak kepada sekolah lain di sekitarnya.

Di Banyumas, Fajar meninjau kesiapan lahan pembangunan SNT dan menyapa calon murid yang mengikuti seleksi. Di Cianjur, ia bertemu calon murid angkatan pertama SNT. Di antara mereka ada yang bercita-cita menjadi psikolog agar dapat menyuarakan aspirasi anak-anak daerah dan ada pula yang ingin menjadi arsitek setelah tertarik pada pembelajaran berbasis STEAMS.

“SNT bukan sekolah yang eksklusif secara sosial. SNT harus menjadi pusat mutu di daerah, tempat potensi akademik dan nonakademik anak berkembang, sekaligus menjadi rujukan yang memberikan dampak kepada sekolah-sekolah di sekitarnya,” kata Fajar.

Kehadiran negara juga diperkuat melalui Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) sebagai bagian dari pelaksanaan Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2026 tentang Pencegahan dan Penanganan Anak Tidak Sekolah. PJJ membuka jalan bagi anak yang menghadapi hambatan geografis, sosial, dan ekonomi untuk kembali mengikuti pendidikan formal.

Saat meninjau PJJ di SMAN 1 Bungo, Jambi, Fajar bertemu Renaldi Pratama yang bekerja sebagai pencuci motor sejak lulus SMP. Melalui PJJ, Renaldi dapat kembali belajar tanpa meninggalkan pekerjaannya.

“Harapan saya bisa dimudahkan mendapatkan ijazah sambil tetap bekerja untuk bantu keluarga,” kata Renaldi.

Setelah mengunjungi Pulau Belakang Padang, Fajar melanjutkan perjalanan ke SMA Negeri 20 Batam, Kota Batam, Kepulauan Riau, salah satu sekolah mitra penyelenggara PJJ. Di sekolah tersebut, ia berdialog dengan Syafira, yang sempat berhenti sekolah karena kendala ekonomi dan harus membantu orang tuanya berjualan es cendol.

Melalui PJJ, Syafira kini dapat kembali mengikuti pendidikan formal dengan waktu belajar yang lebih fleksibel. Ia menilai pembelajarannya menyenangkan, penjelasan guru mudah dipahami, dan pendampingan tetap dapat diperoleh ketika mengalami kesulitan.

“PJJ membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi, sosial, dan geografis tidak harus mengakhiri pendidikan seorang anak. Negara menyediakan jalan agar mereka dapat kembali belajar, memperoleh ijazah pendidikan formal, dan menata masa depan,” ujar Fajar.

Pemerintah juga telah menyelesaikan pembangunan empat SMA Unggul Garuda baru di Belitung Timur, Konawe Selatan, Bulungan, dan Timor Tengah Selatan. Sekolah Unggul Garuda Transformasi telah menjangkau 42 sekolah di 15 provinsi untuk membuka jalan bagi talenta terbaik bangsa menuju perguruan tinggi unggulan.

Menurut Fajar, seluruh kebijakan tersebut membawa satu pesan yang sama: tidak boleh ada satu pun anak Indonesia yang ditinggalkan.

“Pidato Kenegaraan Bapak Presiden Prabowo dalam menyambut HUT ke-81 RI  menegaskan bahwa saat ini negara telah hadir agar anak-anak kita tumbuh sehat, belajar di ruang yang nyaman dan aman, memperoleh pendidikan bermutu, dan memiliki kesempatan yang sama untuk mencapai cita-cita. Dari ruang kelas hingga pulau terdepan, hari ini kita menyaksikan kebijakan pendidikan Presiden Prabowo telah berjalan dan mulai dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dari pusat kota hingga ujung negeri,” pungkas Fajar. (H-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *