Pentingnya End-to-End Diabetes Ecosystem Support untuk Pasien Indonesia
Ilustrasi(magnific)

TANTANGAN penanganan diabetes di Indonesia kini tidak lagi hanya berkutat pada tingginya jumlah kasus baru. Masalah yang jauh lebih mendesak adalah memastikan setiap pasien mendapatkan pendampingan yang berkelanjutan setelah diagnosis ditegakkan. Tanpa kesinambungan layanan, risiko komplikasi bagi penyandang diabetes akan meningkat tajam.

Pengelolaan diabetes yang efektif memerlukan rantai layanan yang tidak terputus, mulai dari edukasi, deteksi dini, terapi, pemantauan, hingga perubahan gaya hidup. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, pendekatan End-to-End Diabetes Ecosystem Support dinilai semakin relevan guna memperkuat kualitas pengelolaan diabetes di tanah air.

Edukasi sebagai Fondasi Utama

Ketua Perkumpulan Edukator Diabetes Indonesia (PEDI), Ida Ayu Made Kshanti, menegaskan bahwa edukasi merupakan pilar utama dalam ekosistem pengelolaan diabetes. Pemahaman yang mendalam memungkinkan masyarakat mengenali faktor risiko lebih awal dan mengambil keputusan kesehatan yang tepat.

“Keberhasilan pengelolaan diabetes tidak hanya ditentukan oleh obat atau teknologi kesehatan. Pasien juga perlu memahami penyakitnya agar mampu menjalankan tata laksana medis secara konsisten,” ujar Ida Ayu pada Rabu (12/8).

Ia menambahkan bahwa edukasi yang berkelanjutan membantu pasien membangun kepatuhan terapi. Melalui pendekatan ekosistem yang terintegrasi, edukasi hadir di setiap tahapan perjalanan pasien, sehingga mereka tidak merasa berjuang sendirian dalam menghadapi penyakitnya.

Tantangan Pascadiagnosis

Senada dengan hal tersebut, Ketua Cabang PERSADIA Jakarta Barat, dr. Marshell Tendean, menyoroti realita di praktik klinis. Menurutnya, tantangan terbesar justru muncul setelah pasien menerima diagnosis. Banyak pasien yang kesulitan mempertahankan kepatuhan terapi dan gaya hidup sehat dalam jangka panjang.

“Dalam praktik sehari-hari, kami melihat banyak pasien datang ketika komplikasi sudah mulai muncul. Kondisi tersebut sering terjadi karena diabetes terlambat terdeteksi atau terapi tidak dijalankan secara konsisten,” ungkap dr. Marshell.

Ia menekankan bahwa kepatuhan terhadap tata laksana medis adalah kunci utama untuk mengendalikan kadar gula darah. Pendekatan End-to-End Diabetes Ecosystem Support memastikan pasien memperoleh pendampingan sejak dini hingga manajemen jangka panjang, yang pada akhirnya meningkatkan peluang pasien untuk mempertahankan kualitas hidup mereka.

Data Diabetes di Indonesia

Urgensi penguatan ekosistem ini didorong oleh data prevalensi diabetes yang terus meningkat di Indonesia. Berikut adalah ringkasan data terkini berdasarkan laporan International Diabetes Federation (IDF) dan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023:








Indikator Data / Statistik
Peringkat Dunia (IDF) Peringkat ke-5
Jumlah Penyandang Diabetes Lebih dari 20 Juta Jiwa
Prevalensi (Penduduk Usia 15+) 11,7% (Data SKI 2023)
Masalah Utama Rendahnya kepatuhan pengobatan dan pemeriksaan ulang

Sinergi Lintas Sektor

Pendekatan ekosistem ini tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan sinergi kuat antara pemerintah, tenaga kesehatan, organisasi profesi, akademisi, komunitas pasien, industri kesehatan, hingga peran keluarga. Dukungan kolektif ini mencakup seluruh spektrum, mulai dari pencegahan hingga manajemen jangka panjang.

Melalui sistem yang terintegrasi dan berpusat pada pasien, diharapkan penyandang diabetes di Indonesia dapat lebih patuh terhadap tata laksana medis, terhindar dari risiko komplikasi, serta tetap mampu menjalani hidup yang sehat, aktif, dan produktif. (Z-1)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *