Pelajar Indonesia Juarai Kompetisi Internasional lewat Aplikasi Teknologi
(MI)

DUNIA masa depan dipenuhi tantangan kompleks, perubahan teknologi, dan situasi yang menuntut daya adaptasi tinggi. Untuk memenanginya, generasi muda tidak sekadar membutuhkan jawaban instan, tetapi juga kemampuan bertanya, berkolaborasi, menciptakan inovasi, serta bertanggung jawab atas setiap keputusan.

Kompetisi internasional menjadi wadah nyata untuk menguji ketangkasan tersebut. Ravakatya Anadra (Andra) dan Nicholas Emmanuel (Nicho), siswa kelas 12 EcoSocioTech School (EST) TB Simatupang (d/h Sekolah HighScope Indonesia), berhasil meraih Juara 1 pada 16th e-ICON World Contest melalui Hugrow, aplikasi yang dirancang untuk membantu keluarga membangun komunikasi, kebiasaan positif, dan hubungan yang lebih sehat. Dalam kompetisi tersebut, Andra dan Nicho berkolaborasi dengan dua pelajar Korea Selatan, Kim Siwoo dan Kim Mirae.

Ajang e-ICON World Contest diselenggarakan di bawah Kementerian Pendidikan Korea Selatan dan mempertemukan pelajar dari berbagai negara untuk mengembangkan solusi berbasis teknologi atas persoalan sosial yang selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Tim Hugrow memilih SDG 3: Good Health and Well-Being.

“Saat merancang kontribusi untuk SDG No. 3, kami memilih untuk mengintegrasikan faktor yang sudah ada menjadi sebuah solusi. Kami melihat keluarga sebagai esensi masyarakat sekaligus peluang utama untuk mengatasi masalah kesehatan mental dan kesejahteraan,” ujar Andra.

Ketika Masalah Keluarga Diubah Menjadi Solusi

Hugrow adalah aplikasi yang dirancang untuk mempererat hubungan keluarga dan mendukung kesehatan mental melalui langkah-langkah yang terstruktur dan terukur:

  • Initial Assessment & SMART Goals: Memetakan kondisi komunikasi awal keluarga, lalu menyusun target perbaikan yang spesifik dan terarah.
  • Daily Check-In & Rekomendasi Fitur: Memantau suasana hati anggota keluarga secara berkala serta memberikan rekomendasi aktivitas harian yang relevan.
  • Habit Building & Voucher Shop: Menyediakan tantangan harian yang dipersonalisasi untuk membangun kebiasaan positif, dilengkapi hadiah voucher sebagai bentuk apresiasi konsistensi.
  • Regular Assessment & Global Ripple Map: Evaluasi berkala untuk mengukur perkembangan hubungan, dilengkapi fitur pemetaan pola masalah anonim serta berbagi testimoni dan tips antar-pengguna.

Diuji Para Ahli dan Profesor

Kemenangan Hugrow semakin bermakna karena proses penjurian melibatkan panel dengan latar belakang akademik, teknologi pendidikan, dan industri. Panel juri di antaranya terdiri atas Prof. Soonsik Suh (Chuncheon National University of Education), Kihyun Park (CEO Tekville Education Co., Ltd.), hingga Youjin Hwang (Senior Professional di Samsung Electronics).

Komposisi panel juri tersebut membuat peserta tidak hanya dituntut untuk menghasilkan ide yang menarik, tetapi juga harus mampu menjelaskan dasar pemikiran, relevansi, implementasi, serta dampak dari solusi yang mereka kembangkan.

Nicho mengungkapkan perasaannya saat berkompetisi. “Perasaan kami campur aduk antara bahagia karena lolos ke grand final dan gugup saat naik ke panggung untuk presentasi terakhir. Tetapi dengan melakukan hal tersebut, kami mampu mengomunikasikan ide aplikasi yang diterima oleh para juri yang sudah berpengalaman.”

Ekosistem Pendukung di Balik Podium

Pencapaian Hugrow tidak semata-mata lahir dari kemampuan teknis siswa. Ada proses belajar, kerja keras, pendampingan guru, dukungan orang tua, serta lingkungan sekolah yang memberi ruang bagi siswa untuk berkembang. Guru berperan sebagai mentor yang membantu siswa melihat persoalan dari berbagai sudut pandang, menguji gagasan melalui riset, dan mendorong keberanian mengambil keputusan.

Sekolah menjadi laboratorium kehidupan tempat siswa memperlengkapi diri dengan critical thinking, creativity, communication, collaboration, dan problem-solving melalui pengalaman nyata. Kemenangan di Seoul menunjukkan apa yang dapat terjadi ketika siswa memperoleh kesempatan dan lingkungan yang percaya pada kemampuan mereka.

“Dalam kompetisi ini, siswa belajar bahwa gagasan lahir dari memahami persoalan, ditempa oleh disiplin, kepedulian, serta kemampuan berpikir dan mencipta. Pencapaian terbesar kami sebagai pendidik adalah ketika siswa percaya bahwa gagasan mereka berarti dan berani mewujudkannya,” ujar Dermawan Intiardy, guru pendamping tim. (I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *