Mengapa Sebagian Anjing Lebih Mudah Dilatih? Ini Jawabannya
ilustrasi(Magnific)

MENGAPA sebagian anjing sangat cepat memahami perintah manusia, sementara yang lain membutuhkan waktu lebih lama? Penelitian terbaru yang memanfaatkan pemindaian otak memberikan gambaran baru mengenai bagaimana struktur saraf anjing terbentuk oleh riwayat pembiakan dan proses pelatihan.

Studi yang dipimpin oleh Mélina Cordeau bersama Sophie Barton dan Erin Hecht dari Departemen Biologi Evolusi Manusia Harvard University ini menganalisis 108 ekor anjing (50 jantan dan 58 betina). Para peneliti menggunakan teknik Magnetic Resonance Imaging (MRI) khusus untuk memetakan jalur saraf berdasarkan aliran air di dalam otak anjing yang berasal dari Harvard Canine Brains Project dan organisasi anjing pelayan.

Dalam analisis pertama, tim membandingkan 95 ras modern dengan 13 anjing dari garis keturunan kuno, seperti ras Arktik, spitz Asia Timur, dan anjing desa. Hasilnya menunjukkan bahwa perbedaan utama di antara kedua kelompok terletak pada jaringan temporal, yaitu bagian otak yang memproses suara.

Selanjutnya, peneliti membandingkan 17 anjing pelayan yang lulus pelatihan dengan 11 anjing dari program pembiakan sama yang tidak menyelesaikan kursus bukan karena masalah perilaku, melainkan alasan fisik seperti alergi atau overbite. Hasil pemindaian memperlihatkan perbedaan pada jalur yang menghubungkan area pemrosesan suara manusia dengan area pengatur gerakan. Anjing yang lulus pelatihan memiliki lebih banyak jalur serat saraf di sisi kiri otak, sedangkan anjing yang dikeluarkan memiliki lebih banyak jalur di sisi kanan.

Selain itu, berdasarkan survei terhadap pemilik mengenai seberapa cepat anjing belajar dan merespons perintah, tim menemukan anjing dengan skor ketangkasan belajar (trainability) tinggi memiliki koneksi yang lebih kuat di lima jaringan otak sekaligus, meliputi gerakan, perencanaan, sentuhan, dan suara.

“Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran yang berhasil bergantung pada interaksi terkoordinasi di beberapa sistem otak, bukan hanya pada satu area terisolasi,” kata Cordeau kepada Earth.com.

Meski demikian, para peneliti belum dapat memastikan apakah struktur otak tersebut merupakan bawaan lahir atau hasil dari proses pelatihan itu sendiri, mengingat pemindaian hanya dilakukan satu kali setelah pelatihan selesai.

“Kami menemukan bahwa kemampuan untuk dilatih berkaitan dengan organisasi jaringan otak yang berhubungan dengan komunikasi, tetapi kami masih belum tahu apakah beberapa anjing terlahir dengan jaringan otak yang membuat mereka lebih mudah dilatih, atau apakah pelatihan itu sendiri yang secara bertahap membentuk kembali jaringan tersebut,” ujar Cordeau.

Oleh karena itu, Cordeau menyarankan agar pemilik fokus memberikan pengalaman interaktif bagi peliharaan mereka. “Jadi, daripada menunjuk pada satu metode pelatihan spesifik, hasil kami menyoroti pentingnya memberi anjing kesempatan yang kaya dan konsisten untuk belajar serta berkomunikasi dengan manusia,” tuturnya.

Untuk menjawab teka-teki ini, tim berencana melakukan penelitian lanjutan. “Langkah selanjutnya adalah mengikuti anjing secara longitudinal, memindai mereka sebelum dan sesudah pelatihan,” pungkas Cordeau.

Penelitian komprehensif ini telah dipublikasikan secara resmi dalam jurnal ilmiah JNeurosci. (Earth/Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *