Remaja Ingin Tampil Beda di Tahun Ajaran Baru? Ini Penjelasan Psikolog
ilustrasi(Magnific)

MEMASUKI minggu pertama tahun ajaran baru, tak sedikit orangtua yang terkejut melihat perubahan mendadak pada penampilan anak remaja mereka. Mulai dari potongan atau warna rambut baru yang berani, gaya berpakaian yang sangat berbeda, hingga eksperimen dengan tata rias wajah. Namun, alih-alih menganggapnya sebagai bentuk pemberontakan dramatis, pakar kesehatan mental menyebut fenomena ini sebagai bagian dari proses alami pencarian identitas.

Veronica Lichtenstein, seorang konselor kesehatan mental berlisensi (LMHC), menjelaskan bahwa perubahan penampilan menjelang tahun ajaran baru merupakan sarana bagi remaja untuk ‘mencoba’ versi baru dari diri mereka. Menurutnya, eksperimen ini umumnya dilakukan melalui cara-cara sederhana, seperti berganti gaya pakaian, mengubah model rambut, hingga mencoba rutinitas perawatan kulit dan riasan baru.

Saat ini, tren yang diminati remaja sangat beragam. Mulai dari nostalgia estetika Y2K dengan kaus grafis oversized dan sepatu kets tebal, gaya clean girl aesthetic ala Hailey Bieber yang menonjolkan rambut klimis dan riasan minimalis, hingga pilihan busana thrifting yang berkelanjutan serta eksperimen gaya gender-fluid.

Lichtenstein menegaskan bahwa fenomena ini jarang sekali sekadar urusan fesyen belaka. Masa Sekolah Menengah Atas (SMA) adalah periode ketika pertanyaan “Siapa saya?” menjadi semakin intens. Penampilan fisik menjadi sarana tercepat bagi remaja untuk menguji jawaban atas pertanyaan tersebut. Eksperimen ini memberikan umpan balik langsung, baik berupa pujian dari teman sebaya, dorongan rasa percaya diri, maupun rasa diterima dalam kelompok sosial tertentu.

Perubahan gaya ini biasanya mencapai puncaknya pada siswa kelas 9 dan 10, di mana dinamika kehidupan sosial menjadi lebih kompleks. Selain itu, menentukan cara menampilkan diri merupakan langkah nyata bagi remaja untuk menegaskan kemandirian mereka.

Menghadapi situasi ini, Lichtenstein sangat menyarankan agar orangtua mendukung eksperimen gaya anak selama masih aman dan wajar. Menunjukkan rasa hormat terhadap pilihan remaja dapat membangun rasa percaya dan membuat mereka merasa aman saat mengeksplorasi diri. Orang ua disarankan untuk mengedepankan rasa ingin tahu daripada menghakimi. Pertanyaan sederhana seperti, “Apa yang kamu sukai dari gaya ini?” dapat membuka ruang dialog yang sehat.

Penting juga bagi orangtua untuk membedakan antara perubahan yang bersifat sementara dan keputusan permanen. Gaya pakaian dan potongan rambut tergolong berisiko rendah dan mudah diubah kembali. Namun, untuk keputusan permanen atau pembelian barang tren berharga mahal, pendekatan yang lebih tenang dan bertahap sangat diperlukan.

Mengenai pembelian busana tren yang sering memicu konflik finansial, putri dari Lichtenstein memberikan saran praktis: “Bingkailah dari sudut pandang keuangan. Tren dan busana itu sangat siklikal, jadi tunggulah sebulan sebelum membeli. Bingkai hal tersebut secara finansial, itu memberi insentif bagi remaja.”

Namun, orangtua perlu tetap waspada jika perubahan penampilan dibarengi dengan penurunan suasana hati yang drastis, penarikan diri dari lingkungan sosial, atau tekanan citra tubuh. Jika tidak ada indikasi masalah emosional mendalam, membiarkan remaja mengeksplorasi gaya mereka adalah langkah awal yang sehat untuk membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan percaya diri. (Parents/Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *