
WARISAN budaya Indonesia kembali mendapatkan panggung kehormatan melalui penyelenggaraan Festival Bedhayan VI yang berlangsung pada Sabtu, 8 Agustus 2026, di Gedung Kesenian Jakarta. Perhelatan rutin ini bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan sebuah perayaan luhur yang membawa misi pelestarian nilai-nilai spiritual dan filosofi kehidupan Nusantara kepada generasi mendatang.
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menegaskan bahwa Festival Bedhayan merupakan wadah penting bagi seni adiluhung.
Tahun ini, festival mengusung tema “Memayu Hayuning Bawana”, sebuah falsafah Jawa yang mengajak manusia untuk memperindah, memelihara, dan menjaga keseimbangan dunia demi terciptanya kehidupan yang damai serta berkelanjutan.
Sinergi Maestro dan Generasi Muda
Diselenggarakan oleh kolaborasi Laskar Indonesia Pusaka, Jaya Suprana School of Performing Arts, dan Yayasan Swargaloka, festival ini menjadi ruang dialog budaya yang mempertemukan para maestro, akademisi, hingga komunitas tari muda.
Sebagai rangkaian menuju acara puncak, telah dilaksanakan lokakarya “Beksan Srimpi Sangupati” pada 28 Juli 2026 di Auditorium Ki Nartosabdho, dengan menghadirkan narasumber K.R.Ay. Rahmalina Lintang Sasongka beserta jajaran narasumber ahli lainnya.
Untuk menjaga kualitas artistik dan nilai edukasi, penyelenggara melibatkan tokoh-tokoh besar seni tari Indonesia sebagai pengamat, antara lain Theodora Retno Maruti, Gusti Moeng (GKR. Wandansari Koes Moertiyah), KP Sulistyo S. Tirtokusumo, Wahyu Santoso Prabowo, dan Dr. Sal Murgiyanto.
Daftar Penampilan Festival Bedhayan VI
Festival ini terbagi dalam dua sesi pertunjukan yang menampilkan 16 kelompok tari dari berbagai kota, masing-masing membawa kekhasan koreografi dan nilai budaya tersendiri:
| No | Kelompok Tari | Karya yang Ditampilkan |
|---|---|---|
| 1 | Jaya Suprana School of Performing Arts | Bedhayan Arum Dalu |
| 2 | Satria Buwana | Bedhaya Brama Astra |
| 3 | Cunduk Andum | Bedhayan Ura-ura |
| 4 | Bale Marojahan | Tari Dayang Nan Tujuh |
| 5 | Arkamaya Sukma I | Bedhaya Tolu |
| 6 | Komunitas Perempuan Menari | Bedhayan Wanu Prasthi Mataya |
| 7 | The Ary Suta Center Dance Academy | Bedhayan Angger-Angger Sewelas |
| 8 | Sekar Tanjung Dance Company | Bedhayan Basukarna |
| 9 | Sekar Puri | Bedhaya Tolu |
| 10 | Komunitas Kebaya Menari | Bedhayan Retna Kumala |
| 11 | Arkamaya Sukma II | Bedhaya Ela Ela |
| 12 | Mitra Tari Hadiprana | Bedhaya Darma |
| 13 | Sanggar Tari Udaya Upasanta | Bedhayan Prawiradirian |
| 14 | Padnecwara | Bedhayan Nawaretna |
| 15 | Wulangreh Omah Budaya | Bedhayan Dewi Sri |
| 16 | Paguyuban Adi Yuswa Abaksa | Bedhaya Nawagraha |
Penguatan Ekosistem Budaya melalui UMKM
Selain panggung tari, festival ini juga menghadirkan Pasar UMKM sebagai bentuk dukungan terhadap ekonomi kreatif. Pengunjung dapat menikmati berbagai produk kuliner, wastra, dan kriya khas Nusantara.
- Kuliner: Karisae by Mie Ayam Gondangdia, Kenros Rasa, Nichi, Ngramu, Simbokesti, dan Pawon Omah Wulangreh.
- Wastra & Aksesoris: Altamagi, Manjusha Nusantara, Anita Ayu Batik, Batik Nitik Wundri, Batik Panenmas, Cinta Batik Indonesia, Kenya Rosar, Klambine Bu Broto, Merona, Riskavebrie, dan Warna Waktu.
Ketua Umum Laskar Indonesia Pusaka, Aylawati Sarwono, menyampaikan harapannya agar masyarakat tidak hanya menikmati estetika tari, tetapi juga meresapi nilai luhur di dalamnya. “Di tengah perubahan zaman, seni tradisi diharapkan tetap hidup, berkembang, dan menjadi inspirasi bagi generasi mendatang dalam menjaga identitas budaya Indonesia,” pungkasnya. (Z-1)
