
SELAMA ini, buah dan daun mangrove di pesisir Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, kerap dibiarkan begitu saja tanpa dimanfaatkan secara ekonomi. Kondisi itu perlahan berubah sejak sekitar 20 perempuan setempat mengikuti pelatihan pengolahan mangrove pada 8-9 Agustus 2026, yang digelar tim Pengabdian kepada Masyarakat ( PkM) dari Institut Kesehatan dan Teknologi PKP DKI Jakarta bersama Universitas Negeri Jakarta (UNJ).
Melalui keterangan yang diterima hari ini menyebutkan Program bertajuk “Penguatan Eco-entrepreneurship Masyarakat Pesisir Muara Gembong Bekasi” ini didanai hibah Program Kemitraan Masyarakat (PKM) dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Dikti), Kemendiktisaintek dan bermitra dengan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Mina Bakti Bersama Muara Gembong.
Selama dua hari, peserta memperoleh materi teori sekitar 30 persen dan praktik langsung 70 persen pada hari pertama, dilanjutkan praktik mandiri pada hari kedua.
“Kami ingin ibu-ibu di sini tidak hanya jadi peserta pelatihan, tapi benar-benar punya usaha yang berjalan. Karena itu materi yang kami berikan bukan cuma resep,juga manajemen usaha dalam menghitung modal, menentukan harga jual, sampai memasarkan produk,” ungkap -Dr. Faisal M. Jasin, Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat/Dekan Fakultas Sains dan Teknologi .Institut Kesehatan dan Teknologi PKP DKI Jakarta.
Dijelaskannya peserta dilatih memproduksi empat jenis olahan berbahan dasar mangrove: dodol, sirup sari buah pidada yang dikenal warga sebagai buah papadah, keripik dan stik, serta batik tulis dengan pewarna alami. Rangkaian pelatihan ini menjadi modal awal bagi lahirnya kelompok usaha bernama Mangrove Forest Ecotourism, yang beranggotakan sekitar 20 perempuan pesisir Muara Gembong.
Para Ibu pesisir Muara Gembong bergotong royong dalam proses pembuatan dodol berbahan dasar mangrove.
Kelompok ini telah menyiapkan sebuah kedai UMKM di kawasan Mangrove Forest Ecotourism Pantai Bakti sebagai gerai pemasaran produk olahan mangrove kepada wisatawan maupun pembeli dari luar wilayah.
Untuk mendukung produksi awal, tim pengabdian turut menyerahkan bantuan peralatan, termasuk kompor gas, panci besar, dan perlengkapan masak lainnya.
Tim pengabdian menargetkan peningkatan kapasitas manajemen usaha kelompok mitra dari kondisi awal sekitar 35 persen menjadi 75-80 persen, mencakup kemampuan perencanaan usaha, pengelolaan keuangan, dan pemasaran, melalui pendampingan yang akan berlangsung berkelanjutan pascapelatihan.
Peserta menyiapkan bahan baku sirup sari buah pidada (papadah), salah satu produk unggulan kelompok Mangrove Forest Ecotourism. “Dahulu buah ini paling cuma jatuh begitu saja di bawah pohon. Sekarang kami mengetahui caranya diolah menjadi sirup yang bisa dijual. Semoga ke depan bisa menjadi penghasilan tambahan buat keluarga,” kata Ibu Lis, Peserta Pelatihan sekaligus Anggota Kelompok Mangrove Forest Ecotourism.
Dukungan dari Kampus
Tim dari Institut Kesehatan dan Teknologi PKP DKI Jakarta dan UNJ menyatakan komitmen untuk terus mendampingi kelompok ini pascapelatihan, termasuk mendorong keterlibatan pemerintah daerah dan sektor swasta dalam memperkuat permodalan, legalitas usaha, standar kemasan, hingga akses pasar bagi produk-produk olahan mangrove Muara Gembong. (H-2)
