
MAJELIS Musyawarah Sunda (MMS) menggelar Milangkala ke-2 tahun ini. Kali ini, para tokoh Sunda kembali menekankan pentingnya peningkatan tingkat pendidikan guna mendongkrak pembangunan.
Burhanudin Abdullah, Pinisepuh MMS, mengatakan, jumlah penduduk yang menyelesaikan pendidikan sarjana di masyarakat Sunda masih kalah dari provinsi lainnya.
“Ternyata, yang sudah sarjana juga banyak yang menganggur karena tidak mampu berdikari dan menciptakan lapangan kerja. Karena itu, kita perlu terus konsilidasi untuk meningkatkan indeks pembangunan Jawa Barat,” katanya dalam “Pasamoan Inohong Sunda” di Gedung IMERI Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Lantai 3, Jalan Salemba Raya No. 6, Jakarta Pusat, Sabtu (8/8).
Selain Burhanudin, turut hadir dua menteri berdarah Sunda, yakni Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat, dan Wakil Mendagri Akhmad Wiyagus. Pasamoan juga dihadiri Sekretaris Daerah Pemprov Jabar Herman Suryatman, Pinisepuh MMS asal Banten Komjen (Purn) Taufiequrachman Ruki, tokoh Betawi yang juga anggota DPD RI asal Jakarta, Dailami Firdaus.
Dalam pertemuan besar ini juga berkumpul mantan Menteri Perhubungan Agum Gumelar dan Menteri/Kepala Bappenas Paskah Suzetta, Komisaris Utama Pertamina M Iriawan, anggota DPR RI Adang Daradjatun, Eks Kapolda Metro Jaya Makbul Padmanegara, Rektor UI asal Sukabumi Prof Heri Hermansyah, Rektor Untirta Banten Prof Fattah Sulaeman, Pinisepuh MMS yang pernah menjadi Kepala Staf TNI-AL Ade Supandi, eks Wagub Jabar Nu’man Abdul Hakim, serta tokoh perempuan Sunda yakni Halimah Munawir, Eni Sumarni, dan Ella Girikomala.
Lebih jauh Burhanudin mengungkapkan setelah berbagai kegiatan dan forum pemikiran Majelis Musyawarah Sunda (MMS) banyak berlangsung di Kota Bandung, kini MMS membawa semangat tersebut ke Jakarta.
KERJA SAMA TIGA WILAYAH
Sementara itu, Direktur Eksekutif Badan Pekerja MMS Andri Perkasa Kantaprawira menyebutkan, bahwa peserta yang hadir berasal dari Banten, Jakarta, dan Jawa Barat. Ada hubungan sejarah di antara masyarakat di ketiga wilayah tersebut.
“Tapi yang paling penting itu bahwa secara eko-region, secara bentang alam, tiga provinsi ini saling, memiliki saling ketergantungan. Kita harus bisa menata ruang tiga provinsi ini dengan sebaik-baiknya. Jangan terhambat oleh batas-batas administrasi politik. Kan Sungai Ciliwung tergantung dari Gunung Gede dan yang lain. Untuk itu, kita harus bisa membuat sebuah perencanaan pembangunan bersama,” tambahnya.
Menurut dia, penting bagi ketiga pemimpin di wilayah itu untuk bekerja sama dengan universitas atau ilmuwan membangun wilayah bersama terkait kesejahteraan masyarakat ke depannya.
“Yang paling penting itu jangan dipisahkan. Jika Kita bicaranya Jakarta saja, Jawa Barat saja, Banten saja itu menjadi satu kelemahan. Kesatuan itu harus dibangun oleh para pemimpin,” tegas Andri.
KEARIFAN LOKAL
Pada kesempatan yang sama, Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat menyampaikan tentang pentingnya kearifan lokal dalam pembangunan. Semua itu diawali dengan pentingnya memperjuangkan suku, ras, agama atau SARA.
“Saya rasa memperjuangkan SARA itu mulia. Tapi menindas SARA nista. Jadi suku, agama, ras, dan antargolongan orang boleh memperbaiki terus-menerus. Yang punya suku Sunda, memperbaiki kesundaannya yang baik supaya sejahtera. Suku Jawa, suku Sasak, suku apa pun,” tambahnya.
Menurut dia, yang tidak boleh dilakukan adalah menindas dan menistakan atas nama SARA. Pandangan sinis atas nama SARA juga tidak boleh dilakukan.
“Salah satunya MMS berkhidmat untuk masyarakat Sunda. Mungkin masih ada masyarakat yang ketinggalan dalam pembangunan. Kita sama-sama dorong supaya lebih merata dan lebih maju. Jadi itu tujuannya baik sekali,” bebernya.
Jumhur juga mengingatkan pentingnya pemerataan pembangunan. Selain itu, juga pentingnya kearifan lokal dalam pembangunan.
“Karena setiap pembangunan dan pemerataan pasti ada local wisdom yang dimanfaatkan. Pembangunan tanpa memanfaatkan local wisdom atau kearifan lokal itu akan apa hampa, akan tertinggal dan tercerabut dari akar-akarnya,” tegasnya.
