
BANYAK pemilik hewan peliharaan yang menganggap kucing bertubuh gemuk sebagai tanda kesehatan dan kesejahteraan. Meski tampak lucu dan menggemaskan, kondisi tersebut justru berpotensi menjadi obesitas yang berdampak serius pada kesehatan jangka panjang kucing kesayangan.
Menyambut momentum International Cat Day atau Hari Kucing Sedunia yang diperingati setiap 8 Agustus, drh. Tetty Barunawati Siagian, M.Si., dosen Paramedik Veteriner Sekolah Vokasi IPB University, memberikan peringatan penting. Ia menegaskan bahwa obesitas pada kucing merupakan penyakit nutrisi kronis yang harus dicegah sejak dini.
Kapan Kucing Dikatakan Obesitas?
Menurut drh. Tetty, obesitas terjadi saat penumpukan lemak tubuh sudah berlebihan hingga mengganggu kesehatan serta kualitas hidup kucing. Secara teknis, kucing dikategorikan obesitas jika berat badannya melebihi 20% dari berat badan idealnya.
Namun, ia menekankan bahwa angka di timbangan bukan satu-satunya acuan. Penilaian yang lebih komprehensif menggunakan Body Condition Score (BCS). Dalam skala 1 hingga 9, kondisi tubuh kucing yang ideal berada pada skor 4–5.
Pemilik dapat melakukan deteksi dini secara mandiri di rumah dengan metode berikut:
- Meraba area tulang rusuk.
- Melihat lekukan pinggang dari arah atas.
- Memperhatikan bentuk perut dari posisi samping.
Meski bisa dicek secara mandiri, drh. Tetty menyarankan pemeriksaan ke dokter hewan untuk hasil yang lebih akurat melalui penilaian BCS dan muscle condition score.
Risiko Penyakit di Balik Tubuh Gemuk
Tingginya populasi kucing yang kelebihan berat badan membuat kondisi ini sering dianggap normal oleh masyarakat. Padahal, jaringan lemak adalah organ aktif yang memproduksi zat inflamasi dan hormon yang mampu mengganggu metabolisme tubuh.
Berikut adalah perbandingan risiko kesehatan antara kucing dengan berat badan ideal dan kucing obesitas:
| Aspek | Kondisi Ideal (Skor BCS 4-5) | Kondisi Obesitas (>20% Berat Ideal) |
|---|---|---|
| Risiko Penyakit | Rendah | Tinggi (Diabetes, Osteoartritis, Penyakit Hati) |
| Mobilitas | Aktif dan lincah | Sulit bergerak dan sulit membersihkan diri |
| Harapan Hidup | Lebih panjang | Berpotensi lebih pendek |
| Komplikasi Medis | Normal | Risiko tinggi saat anestesi (pembiusan) |
Langkah Penanganan dan Diet Sehat
Untuk menurunkan berat badan kucing secara aman, drh. Tetty sangat menyarankan pemilik untuk berkonsultasi dengan dokter hewan. Hal ini penting agar perhitungan kebutuhan energi harian dan target berat badan dilakukan secara tepat tanpa menyiksa hewan.
Beberapa langkah konsisten yang perlu dilakukan antara lain:
- Pengaturan porsi makan yang ketat.
- Penggunaan pakan khusus manajemen berat badan (weight management).
- Peningkatan aktivitas fisik melalui bermain selama 15–30 menit setiap hari.
- Pembatasan pemberian camilan (treats).
- Pemantauan berat badan secara berkala.
“Program diet juga harus didukung seluruh anggota keluarga. Jangan sampai ada yang diam-diam memberikan makanan tambahan karena hal ini sering menjadi penyebab kegagalan penurunan berat badan pada kucing,” tegasnya.
Sebagai penutup, ia mengajak para pemilik hewan untuk mengubah paradigma. Kucing yang sehat bukanlah kucing yang paling gemuk, melainkan kucing yang memiliki kondisi tubuh ideal, aktif, dan nyaman menjalani hidupnya. Obesitas adalah penyakit yang dapat dicegah melalui pola asuh yang tepat dan pemeriksaan rutin ke dokter hewan. (Z-1)
