
LABEL sekolah internasional dinilai tidak cukup hanya mengandalkan penggunaan kurikulum global seperti Cambridge. Kualitas tenaga pendidik dan cara pembelajaran diterapkan justru menjadi faktor utama yang menentukan mutu pendidikan.
Founder dan Chairman Singapore Intercultural Schools (SIS) Group, Jaspal Sidhu, mengatakan masih banyak masyarakat yang menganggap sekolah internasional identik dengan penggunaan kurikulum asing. Padahal, menurutnya, aspek terpenting terletak pada kualitas guru serta metode pembelajaran yang mampu membangun kemampuan kolaborasi, komunikasi, dan karakter peserta didik.
“International school is just not a curriculum. Yang membedakan adalah bagaimana kurikulum itu dijalankan. Gurunya harus memahami praktik pendidikan terbaik dan mampu membangun keterampilan abad ke-21 seperti kolaborasi, komunikasi, dan kepemimpinan,” kata Jaspal dalam acara topping off Inspirasi Schools CitraRaya Tangerang, Jumat (7/8).
Ia menilai tantangan pendidikan di Indonesia saat ini bukan lagi sebatas memperluas akses sekolah, melainkan meningkatkan kualitas proses belajar mengajar di ruang kelas.
Menurut Jaspal, Indonesia telah menunjukkan kemajuan besar dalam memperluas akses pendidikan dasar. Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan setiap peserta didik memperoleh pembelajaran yang berkualitas.
“Setelah anak-anak masuk ke sekolah, pertanyaannya adalah apa yang mereka pelajari. Di sinilah kualitas guru menjadi sangat penting,” ujarnya.
Karena itu, ia mendorong terjalinnya kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah dan sektor swasta dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Menurutnya, pendidikan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan seluruh pemangku kepentingan.
“Indonesia memiliki lebih dari 17 ribu pulau. Mengelola pendidikan di negara sebesar ini bukan pekerjaan mudah. Yang dibutuhkan adalah public-private partnership. Dunia usaha juga harus ikut membangun pendidikan,” katanya.
Jaspal juga mendorong sekolah swasta membuka ruang berbagi praktik pembelajaran dengan sekolah negeri, termasuk melalui pelatihan guru dan program magang agar kualitas pendidikan dapat meningkat secara merata.
Ia menambahkan, tren pendidikan global saat ini juga mulai bergeser. Orang tua tidak lagi hanya mencari sekolah dengan nilai akademik tinggi, tetapi juga yang mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan penyelesaian masalah melalui pendekatan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) serta pembelajaran berbasis proyek (project-based learning).
“Kurikulum boleh sama, tetapi yang membedakan adalah bagaimana guru menghidupkan pembelajaran di kelas. Kami selalu mengatakan, hire for attitude, train for skills. Sikap guru jauh lebih penting karena keterampilan dapat dilatih,” ujarnya.
Pandangan tersebut disampaikan bertepatan dengan seremoni topping off pembangunan Inspirasi Schools CitraRaya Tangerang yang dikembangkan melalui kerja sama Ciputra Group dan SIS Group. Berdasarkan keterangan perusahaan, pembangunan sekolah tersebut menandai selesainya struktur utama gedung dan selanjutnya akan memasuki tahap penyelesaian interior serta fasilitas penunjang sebelum beroperasi menerima peserta didik.
Director PT Ciputra Residence, Lalitya Ciputra Sastrawinata mengatakan kehadiran fasilitas pendidikan menjadi bagian dari pengembangan kawasan CitraRaya Tangerang sebagai kota terpadu. Menurutnya, penyediaan sekolah, fasilitas kesehatan, hingga pusat komersial dilakukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut, bukan semata-mata mendorong penjualan properti.
“Kami membangun kota agar menjadi tempat tinggal yang memiliki kehidupan. Karena itu fasilitas pendidikan merupakan bagian dari komitmen kami dalam membangun kawasan,” katanya. (Z-10)
