
Pertumbuhan industri pembiayaan di Indonesia terus menunjukkan tren positif seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap akses pendanaan. Pembiayaan dengan jaminan Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB) masih menjadi segmen terbesar, sementara pembiayaan berbasis properti mulai mencatatkan prospek yang semakin menjanjikan.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Agustus 2025 menunjukkan bahwa sekitar 76% outstanding pembiayaan multifinance berasal dari segmen kendaraan bermotor dengan nilai mencapai Rp405,79 triliun. Capaian tersebut menjadikan pembiayaan kendaraan sebagai motor utama pertumbuhan industri multifinance nasional.
Di sisi lain, sektor properti juga memperlihatkan perkembangan yang positif. OJK mencatat kredit kepemilikan properti, yang mencakup rumah, apartemen, dan ruko, tumbuh 7,14% secara tahunan (year on year/YoY) pada Agustus 2025. Dari seluruh segmen tersebut, Kredit Pemilikan Rumah (KPR) menjadi penyumbang pertumbuhan tertinggi dengan kenaikan 7,22 persen secara tahunan.
Melihat peluang tersebut, berbagai pelaku industri pembiayaan terus memperluas jangkauan layanan agar masyarakat semakin mudah memperoleh akses pendanaan. Salah satunya dilakukan PT Anggrek Teknologi Indonesia melalui platform FINGO yang menghubungkan masyarakat dengan perusahaan multifinance untuk pengajuan pinjaman berbasis jaminan BPKB kendaraan maupun Sertifikat Hak Milik (SHM) properti.
Sejak beroperasi pada Mei 2024, FINGO membangun jaringan layanan melalui tim lapangan yang tersebar di berbagai daerah. Memasuki Februari 2026, perusahaan mulai mengubah strategi bisnis dengan mengembangkan sistem telemarketing guna menjangkau lebih banyak calon nasabah. Langkah tersebut dinilai mampu meningkatkan pertumbuhan penjualan secara konsisten dari bulan ke bulan.
CEO PT Anggrek Teknologi Indonesia, Chris Chen, mengatakan transformasi menuju sistem telemarketing menjadi salah satu langkah penting dalam memperluas layanan perusahaan.
“Menurut kami, sistem telemarketing sangat membantu dalam menjangkau nasabah dari berbagai daerah. Selain itu, kapasitas kami juga bertambah dalam mendampingi masyarakat,” ujarnya.
Untuk mendukung ekspansi bisnis, FINGO menargetkan penyaluran pembiayaan senilai Rp96 miliar pada tahun pertama melalui kerja sama dengan 14 perusahaan multifinance.
Saat ini, pembiayaan dengan jaminan BPKB masih menjadi kontributor utama bisnis perusahaan dengan porsi sekitar 95 persen terhadap total pendapatan. Sementara itu, pembiayaan berbasis SHM menyumbang sekitar lima persen. Menurut Chris, dominasi pembiayaan kendaraan masih sejalan dengan kondisi industri nasional, namun segmen properti dinilai memiliki prospek yang terus berkembang.
“BPKB jelas menjadi segmen utama kami saat ini. Tapi kami tidak menutup mata pada properti. Tren KPR yang terus meningkat membuat kami yakin segmen ini bisa memberi andil yang lebih besar ke depan,” katanya.
Guna mendukung transformasi layanan, perusahaan juga berinvestasi pada pengembangan sistem telemarketing, mulai dari pembangunan customer relationship management (CRM), dashboard pemantauan, infrastruktur call center dan telephony, integrasi WhatsApp Business API, hingga perekrutan serta pelatihan sumber daya manusia.
Menurut Chris, investasi tersebut dilakukan secara bertahap agar sistem yang dibangun dapat berjalan efektif sekaligus meningkatkan produktivitas tim dan kualitas pelayanan kepada nasabah.
“Investasi ini kami lakukan secara bertahap. Tujuannya agar sistem telemarketing efisien terlebih dahulu, baru nanti agen bisa bekerja maksimal dan nasabah mendapatkan pengalaman yang optimal,” jelasnya.
Ia menambahkan, pemanfaatan teknologi yang terintegrasi menjadi faktor penting dalam mempercepat proses pembiayaan sekaligus memperluas jangkauan layanan ke berbagai wilayah di Indonesia.
“Kami menargetkan agar seluruh calon nasabah mendapatkan informasi yang jelas serta didampingi dalam setiap proses pengajuan. Proses pembiayaan menjadi lebih cepat dan mudah diakses oleh masyarakat jika dukungan teknologi dan tim yang terlatih,” ujar Chris.
Ke depan, FINGO berencana memperluas kemitraan dengan perusahaan multifinance sekaligus meningkatkan kapasitas operasional untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan masyarakat yang semakin beragam. Perusahaan juga menargetkan peningkatan kontribusi dari pembiayaan berbasis SHM sebagai bagian dari strategi diversifikasi bisnis.
“Kami optimistis dengan prospek pertumbuhan industri pembiayaan ke depan. Teknologi mumpuni, tim solid, dan mitra luas menjadi modal kami untuk terus berkembang,” tutup Chris. (E-3)
