Bisnis Transportasi masih Bergeliat di 2026
ilustrasi(Blue Bird)

Kebutuhan mobilitas masyarakat yang terus meningkat mendorong pertumbuhan kinerja keuangan Blue Bird di sepanjang semester I 2026. Di tengah tekanan ketidakpastian ekonomi global, perusahaan tetap mencatatkan pertumbuhan pendapatan dua digit berkat kontribusi berbagai lini bisnis serta optimalisasi operasional.

Sepanjang enam bulan pertama 2026, perusahaan membukukan pendapatan sebesar Rp2,97 triliun atau meningkat 11,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. EBITDA tercatat mencapai Rp714 miliar, sementara laba bersih mencapai Rp323,8 miliar.

Kinerja tersebut dinilai mencerminkan ketahanan model bisnis perusahaan di tengah tantangan berupa gejolak geopolitik, kenaikan biaya energi dan operasional, fluktuasi nilai tukar rupiah, serta persaingan industri transportasi yang semakin ketat.

Direktur Utama PT Blue Bird Tbk Andre Djokosoetono mengatakan perusahaan akan terus memperkuat investasi di berbagai lini usaha, meningkatkan kualitas operasional, serta mengembangkan sumber daya manusia guna menjaga pertumbuhan jangka panjang.

“Strategi tersebut dijalankan melalui pengembangan berbagai layanan mobilitas yang saling melengkapi sehingga mampu menjawab kebutuhan pelanggan yang terus berkembang,” tutur Andre.

Dari sisi pendapatan, layanan taksi masih menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi sekitar 69% terhadap total pendapatan dan mencatat pertumbuhan 11,4% secara tahunan. Sementara itu, segmen non-taksi yang mencakup layanan shuttle, rental, bus, dan layanan mobilitas lainnya menyumbang sekitar 31%. Pertumbuhan tersebut didukung peningkatan produktivitas armada, penguatan kinerja di berbagai wilayah operasional, serta optimalisasi layanan melalui kanal digital.

Di segmen non-taksi, layanan shuttle menjadi lini usaha dengan pertumbuhan tercepat. Peningkatan ini didorong bertambahnya ketersediaan armada, optimalisasi rute, dan meningkatnya mobilitas masyarakat selama periode libur sekolah.

Sementara itu, layanan bus tetap mencatatkan kinerja yang stabil berkat permintaan dari segmen korporasi dan perjalanan rombongan. Bisnis penyewaan kendaraan juga terus tumbuh seiring permintaan yang konsisten dari pelanggan korporasi.

“Perusahaan juga mengoptimalkan pengelolaan aset melalui penjualan kendaraan bekas operasional yang telah direkondisi sesuai standar perusahaan. Langkah tersebut dilakukan untuk memaksimalkan nilai armada sekaligus memenuhi permintaan pasar terhadap kendaraan bekas berkualitas,” jelasnya.

Di sisi lain, perusahaan juga melanjutkan berbagai program pengembangan kompetensi, pemberian apresiasi, dan peningkatan kesejahteraan pengemudi maupun karyawan sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas layanan kepada pelanggan.

Memasuki paruh kedua 2026, perusahaan berencana memperkuat portofolio layanan, meningkatkan produktivitas armada, serta menjaga disiplin operasional guna mempertahankan pertumbuhan bisnis di tengah dinamika industri transportasi.  (E-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *