
BERAWAL dari dugaan gigitan lalat kuda saat berkebun pada Mei lalu, seorang wanita asal Nova Scotia, Kanada, bernama Melissa Baines kini harus memangkas habis konsumsi daging merah dan produk olahan susu dari piring makannya akibat mengidap Alpha gal syndrome alergi langka yang dipicu oleh gigitan kutu lone star.
Sengatan kecil di bahunya itu terjadi ketika Baines sedang merapikan tanah di pekarangan rumahnya di kawasan McLellans Brook, Pictou County. Sekitar dua pekan kemudian, ia baru menyadari keberadaan seekor kutu yang menancap di area bekas gigitan tersebut.
Tanpa rasa curiga, ia langsung mencabut dan membuangnya. Baines saat itu menduga dirinya hanya berisiko terpapar penyakit Lyme tanpa mengira ada bahaya kesehatan lain yang jauh lebih kompleks.
Seiring berjalannya waktu, kondisi fisik Baines justru merosot tajam hingga mengalami pusing parah, pembengkakan pada persendian, rasa mual, hingga kesulitan berjalan. Setiap kali mencoba mengonsumsi produk susu, ia langsung muntah hebat dan muncul bentol-bentol gatal di kulit.
Masih mengira dirinya hanya terserang kombinasi flu dan penyakit Lyme, ia terus bertahan hingga kondisinya memburuk dan terpaksa dilarikan ke rumah sakit menggunakan ambulans.
“Jika saya menunggu satu atau dua hari lagi, Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi. Saya benar-benar sangat sakit. Seperti sangat sakit. Saya hanya bersyukur masih berada di sini,” ujar Baines.
Di rumah sakit, tim medis mencurigai Baines mengidap Alpha-gal syndrome reaksi imun terhadap molekul gula mamalia dari air liur kutu lone star (Amblyomma americanum). Hasil tes darahnya menunjukkan penurunan trombosit drastis, yang menandakan kondisinya berbeda dari penyakit Lyme.
Diagnosis tersebut merombak total pola hidup Baines. Dokter mewajibkannya berhenti mengonsumsi daging merah serta seluruh produk turunan susu, dan mewajibkannya beralih ke sajian berbasis tanaman. Ia juga harus selalu membawa EpiPen untuk mengantisipasi potensi serangan alergi hebat (anafilaksis).
Trauma atas kejadian ini bahkan membuatnya enggan beraktivitas di luar rumah, terlebih setelah kucing peliharaannya juga sempat membawa masuk kutu sejenis. Namun, ia enggan menyemprotkan racun hama di halaman rumahnya karena khawatir akan keselamatan kucing serta satwa liar di sekitarnya.
Dr. Jonathan Ross dari otoritas kesehatan Nova Scotia menjelaskan bahwa air liur kutu lone star mengakibatkan konsumsi daging atau susu beberapa hari hingga minggu setelah digigit dapat memicu respons alergi, mulai dari bentol ringan hingga ancaman penyumbatan saluran pernapasan.
Masyarakat diimbau untuk mengambil langkah perlindungan saat beraktivitas di luar ruangan:
- Mengoleskan atau menyemprotkan cairan penolak serangga (insect repellent) sebelum bepergian ke luar rumah.
- Menggunakan pakaian berwarna terang agar kutu yang merayap lebih mudah terlihat dan terdeteksi.
- Memasukkan ujung celana ke dalam kaos kaki serta tetap berjalan di jalur yang bersih dan sudah jelas.
- Segera memeriksa tubuh sendiri dan hewan peliharaan dari penempelan kutu sesaat setelah menghabiskan waktu di luar ruangan.
Pengalaman pahit yang nyaris merenggut nyawanya mendorong Baines untuk mengingatkan masyarakat agar tidak meremehkan gigitan serangga dan segera mencari bantuan tenaga medis profesional tanpa menunggu sakit parah.
Sumber: The Weather Network, CBC
