
KEBIASAAN mengonsumsi kental manis sebagai minuman sehari-hari masih menjadi tantangan besar bagi banyak keluarga di Indonesia. Pola konsumsi yang terbentuk sejak usia dini ini sering kali sulit diubah karena telah menyatu dengan rutinitas harian anak.
Padahal, konsumsi minuman tinggi gula secara rutin membawa risiko kesehatan jangka panjang yang serius. Dokter Spesialis Gizi Klinik dari RS Qolbu Insan Mulia Batang, dr. Osa Endiputra, M.Sc., Sp.G.K., AIFO-K, menegaskan bahwa langkah awal yang paling krusial adalah mengubah persepsi orangtua mengenai produk tersebut.
“kental manis itu bukan susu ya, Bu. Hati-hati, itu gula. Gula bentuknya cair kental,” ujar dr. Osa melalui edukasi di media sosialnya.
Ia menekankan bahwa kandungan gula dalam kental manis jauh lebih dominan dibandingkan zat gizi yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang anak.
Risiko Kesehatan dan Regulasi
Pemerintah melalui Peraturan Badan POM Nomor 20 Tahun 2021 sebenarnya telah mempertegas aturan label pangan. Regulasi ini menyatakan bahwa kental manis tidak boleh dipromosikan sebagai susu dan tidak dapat dijadikan pengganti ASI maupun susu pertumbuhan bagi anak.
Berikut adalah ringkasan risiko dan dampak konsumsi kental manis berlebih pada anak berdasarkan penjelasan medis:
| Aspek | Dampak Kesehatan |
|---|---|
| Fisik | Kelebihan berat badan (obesitas) dan kerusakan gigi (karies). |
| Pola Makan | Menurunnya nafsu makan anak terhadap makanan bergizi seimbang. |
| Psikologis | Efek ketagihan yang membuat anak sulit lepas dari rasa manis ekstrem. |
| Jangka Panjang | Meningkatnya risiko Penyakit Tidak Menular (PTM) di masa dewasa. |
Strategi Pengalihan Secara Bertahap
dr. Osa menyarankan agar orangtua tidak menghentikan kebiasaan ini secara mendadak. Perubahan drastis sering kali memicu penolakan dari anak. Pendekatan yang lebih efektif adalah dengan melakukan penggantian secara perlahan dan konsisten.
Sebagai langkah awal, orang tua dapat memperkenalkan alternatif camilan atau minuman yang memiliki rasa manis alami namun tetap sehat. Beberapa pilihan yang disarankan antara lain:
- Air putih sebagai minuman utama.
- Buah-buahan segar potong.
- Pisang yang memiliki rasa manis alami dan mengenyangkan.
Pendekatan ini sejalan dengan anjuran Kementerian Kesehatan yang mendorong pola makan bergizi seimbang sejak dini. Peran orangtua sangat menentukan dalam proses ini. Dengan memberikan pilihan yang lebih sehat tanpa paksaan, anak diharapkan dapat menerima pola makan baru yang akan melindungi kesehatan mereka hingga dewasa.
“Ganti bertahap dengan misalnya air putih, pisang, buah potong, dan seterusnya. Intinya yang manis-manis coba kita kenalkan pengganti yang manis. Tapi pelan-pelan tentu saja,” pungkas dr. Osa. (Z-1)
