
UTUSAN Khusus Sekjen PBB untuk Isu Air, Retno Marsudi, menyatakan bahwa perubahan iklim telah menjadi faktor utama yang memperburuk berbagai tantangan global, terutama krisis air. Ia menyebut fenomena ini sebagai “pengganda ancaman” yang mengeskalasi kerentanan akses air bersih di seluruh dunia.
“Perubahan iklim adalah pengganda ancaman yang dapat memperburuk semua tantangan yang dihadapi dalam isu air,” ujar Retno dalam forum Indonesia Net Zero Summit (INZS) 2026 di Jakarta, Sabtu (1/8).
Retno menegaskan bahwa persoalan air tidak boleh hanya dipandang sebagai masalah teknis atau sektoral semata. Menurutnya, air merupakan masalah politik sekaligus isu pembangunan menyeluruh yang memerlukan penanganan lintas sektor.
Akselerasi Target SDGs 2030
Untuk mengatasi krisis ini, Retno menekankan pentingnya percepatan implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) nomor enam mengenai air bersih dan sanitasi layak. Ia memaparkan data bahwa Indonesia membutuhkan lompatan besar untuk mencapai target tersebut pada 2030.
Secara rinci, Indonesia memerlukan peningkatan delapan kali lipat dari tingkat kemajuan saat ini untuk pengelolaan air minum yang aman, peningkatan enam kali lipat untuk sanitasi aman, serta dua kali lipat untuk layanan kebersihan dasar. “Jika kita tidak lakukan ini, maka target-target SDG nomor enam baru akan tercapai pada 2049,” tegasnya.
Peran Sektor Swasta dan Kolaborasi
Selain akselerasi, Retno menyoroti perlunya kolaborasi erat antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil. Ia mengungkapkan ketimpangan besar dalam pembiayaan sektor air dan sanitasi yang saat ini masih didominasi anggaran publik.
“Sebagian besar pembiayaan yang ada untuk air dan sanitasi berasal dari anggaran publik, yakni 86 persen. Sementara sektor swasta hanya berkontribusi 2 persen,” ungkap Retno. Ia mendorong peningkatan keterlibatan swasta untuk memperluas akses layanan air bagi masyarakat luas.
Data Krisis Air Global
Dalam kesempatan tersebut, Retno memaparkan fakta mengkhawatirkan mengenai kondisi air dunia saat ini:
- Lebih dari 2,2 miliar orang (1 dari 4 penduduk dunia) belum memiliki akses air minum aman.
- Sekitar 3,5 miliar orang tidak memiliki akses sanitasi layak.
- Sekitar 4 miliar orang mengalami kelangkaan air.
- Ketersediaan air tawar terbarukan per kapita turun 7 persen dalam satu dekade terakhir.
Tantangan ini diprediksi akan semakin berat seiring pertumbuhan populasi dunia yang diperkirakan mencapai 9,7 miliar jiwa pada 2050. Kondisi tersebut akan memicu kebutuhan tambahan pangan sebesar 50 persen dan tambahan air lebih dari 25 persen.
Retno juga mengingatkan bahwa 72 persen penggunaan air segar dialokasikan untuk sektor agrikultur, sehingga ketersediaan air akan berdampak langsung pada ketahanan pangan, ekonomi, hingga pendidikan. Selain itu, transformasi digital dan ekspansi kecerdasan buatan (AI) turut menambah beban, dengan proyeksi lonjakan kebutuhan air hingga 129 persen di beberapa wilayah akibat operasional pusat data. (Ant/H-3)
