Dokter: Waspadai Mitos, Kanker Payudara tak hanya Dipicu Faktor Genetik
Pita pink, simbol kepedulian pada kanker payudara.(Dok. Magnific)

ANGGAPAN bahwa perempuan tanpa riwayat atau faktor genetik keluarga akan terbebas dari risiko kanker payudara merupakan sebuah mitos. Dokter subspesialis Bedah Onkologi, I Gusti Ayu Nari Laksmi Dewi, menegaskan bahwa penyakit ini bersifat multifaktorial dan tidak hanya dipengaruhi oleh faktor keturunan atau hereditary.

“Mitos. Jadi sebetulnya kalau kanker payudara itu multifaktorial penyebabnya, jadi enggak bisa cuma karena riwayat keturunan saja, tapi juga sebab-sebab lain,” ujar dr. Gusti saat ditemui di Kaiser Cancer Center, BSD City, Tangerang, Kamis (30/7).

Faktor Pemicu Selain Genetik

Berdasarkan laporan Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan, terdapat beberapa faktor risiko lain yang memicu kanker payudara, di antaranya:

  • Perubahan hormonal, terutama kadar estrogen yang tinggi.
  • Paparan lingkungan terhadap radiasi elektromagnetik.
  • Gaya hidup tidak sehat, seperti konsumsi alkohol berlebihan.

Selain masalah genetik, dr. Gusti juga meluruskan mitos bahwa setiap benjolan pada payudara adalah kanker. Menurut lulusan Universitas Airlangga ini, benjolan cukup sering ditemukan pada perempuan di bawah usia 35 tahun. Namun, pemeriksaan medis tetap diperlukan untuk memastikan apakah benjolan tersebut bersifat tumor jinak atau ganas.

Bahaya Gejala Tanpa Rasa Sakit (Painless)

Salah satu tantangan dalam penanganan kanker payudara adalah minimnya keluhan pada stadium awal. Banyak pasien baru menyadari kondisi mereka setelah benjolan membesar secara signifikan.

“Banyak pasien dengan keluhan benjolan yang ternyata tumor ganas, awalnya memang tidak menimbulkan gejala atau painless (tidak sakit). Benjolan itu ternyata membesar dengan cepat dan kemudian baru menimbulkan gejala,” jelas dr. Gusti.

Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya edukasi deteksi dini kanker. Semakin cepat kanker terdeteksi, peluang kesembuhan pasien akan semakin besar. Ia menyarankan perempuan untuk rutin melakukan Periksa Payudara Sendiri (SADARI) setiap bulan.

Peningkatan Kasus di Indonesia

Founder dan Managing Director Kaiser Cancer Center, dr. Adithia Kwee, menambahkan bahwa satu dari delapan perempuan berisiko terkena kanker payudara. Saat ini, kanker payudara menempati insiden tertinggi di antara perempuan, diikuti oleh peningkatan kasus kanker serviks, ovarium, dan rahim.

Berdasarkan data BPJS Kesehatan periode 2021-2025, kasus kanker payudara melonjak drastis sekitar 860 ribu kasus. Angka ini meningkat dari 1.080.031 kasus pada 2021 menjadi 1.941.410 kasus pada 2025.

Melihat tren peningkatan ini, masyarakat diimbau untuk tidak mengabaikan pemeriksaan medis sekecil apa pun benjolan yang ditemukan, guna memastikan penanganan yang tepat sejak dini. (Ant/H-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *