Hemat Bahan Bakar untuk Mesin Pompa Air, Petani Gunakan LPG Tabung Melon
Petani di Majalengkan gunakan gas elpiji 3 kg sebagai bahan bakar mesin pompa air. Penggunaan gas tersebut menghemat pengeluaran petani.(MI/Nurul Hidayah)

PETANI mengonversi bahan bakar untuk mesin pompa dari pertalite menggunakan gas elpiji 3 kilogram hingga mampu menghemat pembelian bahan bakar lebih dari 80%. 

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, ancaman gagal panen membayangi petani di musim kemarau ini. Salah satunya dialami Engkus Kusnadi,  petani di Kecamatan Kertajati, Kabupaten Majalengka. 

“Air di saluran irigasi masih ada, tapi sudah tidak masuk lagi ke sawah karena debitnya kecil,” tutur Engkus, Selasa (28/7). 

Untuk itu, lanjut Engkus, petani pun mulai menggunakan mesin pompa air untuk memompa air dari saluran irigasi ke areal sawah. Namun untuk menggunakan mesin pompa air dibutuhkan biaya tambahan yang jumlahnya tidaklah kecil. 

“Biaya tambahan itu untuk membeli bahan bakar minyak yaitu perlite,” tutur Engkus.  

Untuk pompa air berdiameter 3 inci yang digunakan untuk mengairi sawah membutuhkan konsumsi sekitar 1,1 liter pertalite per jam. Jika dioperasikan selama 24 jam, kebutuhan bahan bakar mencapai 26,4 liter dengan biaya sekitar Rp264.000 per hari. 

“Itu kan bukan uang sedikit. Apalagi kalau kering sekali, pompa air akan semakin sering digunakan,” tutur Engkus. 

Namun kini untuk menghemat penggunaan bahan bakar minyak, petani memodifikasi mesin air menggunakan gas elpiji 3 kilogram. Satu tabung gas yang kerap disebut gas melon itu bisa digunakan hingga 18 jam dan untuk penggunaan sehari penuh hanya dibutuhkan 1,5 tabung. 

“Total biaya yang dikeluarkan hanya sekitar Rp33 ribu per hari,” tutur Engkus. 

Sehingga terdapat penghematan biaya operasional sebesar Rp231.000 setiap hari, atau sekitar 87,5% dibandingkan menggunakan pertalite.

Penghematan tersebut menurut Engkus tentu sangat membantu para petani yang saat ini harus mengeluarkan biaya tambahan untuk menjaga ketersediaan air di lahan pertanian.

“Kalau masih menggunakan Pertalite, biaya operasional pompa selama sehari bisa mencapai sekitar Rp264 ribu. Setelah kami beralih menggunakan gas elpiji 3 kilogram, biaya turun menjadi sekitar Rp33 ribu per hari. Selisihnya sangat besar dan benar-benar meringankan beban petani di tengah musim kemarau seperti sekarang,” kata Engkus.

Menurutnya, efisiensi biaya tersebut membuat petani tetap mampu mengoperasikan pompa air secara terus-menerus sehingga tanaman padi tidak mengalami kekeringan yang berpotensi menyebabkan gagal panen. Uang hasil penghematan bisa digunakan untuk kebutuhan lain seperti pupuk maupun perawatan tanaman dari serangan hama pengganggu. 

“Harapan kami, pemerintah juga terus menjaga ketersediaan elpiji agar petani tidak kesulitan memperoleh pasokan saat musim kemarau,” harap Engkus. 

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP4) Kabupaten Majalengka, Gatot Sulaeman, menjelaskan pemerintah daerah terus melakukan pemantauan terhadap wilayah-wilayah yang terdampak kekeringan. 

“Kecamatan Kertajati menjadi salah satu daerah yang paling terdampak dengan luas tanaman padi sekitar 5.258 hektare pada umur tanaman 45–75 Hari Setelah Tanam (HST),” tutur Gatot. 

Ada pun total luas tanaman padi di Kabupaten Majalengka yang mencapai 39.550,94 hektare di musim tanam ini. 

Dijelaskan Gatot dengan pasokan air irigasi yang terus menyusut menuntut langkah cepat dan efisien.

 “Kami terus berupaya agar petani dapat mempertahankan produktivitas tanamnya,” ujar Gatot. 

Gatot juga mengimbau para petani untuk tetap berkoordinasi dengan petugas penyuluh pertanian di masing-masing wilayah, memanfaatkan sumber air yang tersedia secara bergiliran, serta menerapkan pola pengairan yang efisien guna mengurangi risiko gagal panen akibat kekeringan. (UL/E-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *