
PERPADUAN biji kopi dari Gayo, Aceh, dan Temanggung, Jawa Tengah, dikembangkan menjadi satu profil rasa yang ditujukan bagi penikmat kopi sekaligus pelaku usaha kedai. Penggabungan dua daerah penghasil kopi tersebut mencerminkan upaya pelaku industri dalam menciptakan produk yang tetap membawa karakter kopi Indonesia, tetapi dapat digunakan untuk beragam jenis penyajian.
Blend bernama Cublak Suweng itu diperkenalkan Roemah Koffie di kawasan PIK 2, Tangerang, Kamis (16/7). Menurut perusahaan, biji kopi Gayo memberikan karakter yang khas, sedangkan kopi Temanggung menghadirkan sentuhan rasa karamel, hazelnut, dan cokelat.
CEO Roemah Koffie Felix TJ mengatakan, perpaduan tersebut dirancang untuk menghasilkan rasa yang seimbang dan tidak hanya ditujukan bagi konsumen dalam negeri. Perusahaan berharap produk itu dapat memperluas pengenalan terhadap kopi premium Indonesia di pasar internasional.
“Dengan kurasi rasa ini, kami berharap Cublak Suweng bisa menjadi pintu bagi lebih banyak masyarakat domestik maupun internasional untuk menikmati kopi premium khas Indonesia,” kata Felix.
Biji kopi tersebut diolah menggunakan kombinasi proses giling basah atau wet hulled dan proses natural. Metode itu menghasilkan tingkat keasaman yang relatif rendah, karakter rasa earthy, serta tekstur yang lebih padat. Profil tersebut dinilai memungkinkan kopi disajikan dalam bentuk kopi hitam maupun digunakan sebagai bahan dasar espresso.
Commercial Director Roemah Koffie Ryo Limijaya mengatakan, fleksibilitas penggunaan menjadi salah satu pertimbangan dalam pengembangan blend tersebut. Menurut dia, pelaku usaha kopi membutuhkan biji yang dapat digunakan untuk beberapa menu tanpa menghilangkan identitas rasa kopi Indonesia.
“Titik tengah inilah yang membuat Cublak Suweng bisa dinikmati sebagai black coffee maupun dieksplor sebagai base espresso untuk latte dan berbagai kreasi kopi lainnya,” ujar Ryo.
Selain menggabungkan kopi dari dua daerah, produk tersebut menggunakan unsur permainan tradisional Cublak Suweng sebagai identitas kemasan dan cerita produk. Perusahaan juga menampilkan ilustrasi cerita kancil dan kura-kura yang dikaitkan dengan falsafah Jawa “alon-alon asal kelakon”.
Penggunaan unsur budaya dalam produk konsumsi menjadi salah satu cara pelaku usaha membawa cerita tradisional ke ruang gaya hidup modern. Namun, pendekatan tersebut juga menuntut perusahaan memastikan budaya tidak hanya digunakan sebagai elemen visual, tetapi disertai informasi yang akurat mengenai asal-usul dan nilai yang terkandung di dalamnya.
Dalam rantai pasoknya, Roemah Koffie menyatakan bekerja sama langsung dengan petani lokal dan mengolah biji kopi melalui fasilitas roastery PT Dewa Kopi Indonesia. Perusahaan juga menyebut tengah menyiapkan program dukungan bagi petani kopi dan keluarga petani di Temanggung.
Program tersebut masih berada dalam tahap persiapan. Belum dijelaskan secara terperinci mengenai jumlah petani yang akan terlibat, bentuk bantuan, nilai program, maupun waktu pelaksanaannya. Data tersebut diperlukan untuk mengukur seberapa jauh peluncuran produk dapat memberikan dampak ekonomi bagi petani sebagai bagian paling awal dalam rantai industri kopi. (Z-10)
