Ekspor Sawit ke Rusia Melonjak 35 Persen, Pelaku Usaha Incar Pasar EAEU
GAPKI kini membidik perluasan pasar ke kawasan Eurasia melalui kerja sama industri.(Dok. MI)

NILAI ekspor produk sawit Indonesia ke Rusia melonjak hampir 35% sepanjang 2025. Pertumbuhan tersebut mendorong pelaku usaha memperluas pasar ke negara-negara yang tergabung dalam Eurasian Economic Union atau EAEU.

Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), nilai ekspor sawit Indonesia ke Rusia meningkat dari US$681 juta pada 2024 menjadi US$919 juta pada 2025. Dari sisi volume, ekspor bertambah sekitar 16,5%, dari 680 ribu ton menjadi 792 ribu ton.

Hingga April 2026, ekspor produk sawit Indonesia ke Rusia telah mencapai 189 ribu ton dengan nilai US$237 juta.

Ketua Umum GAPKI Eddy Martono mengatakan Rusia memiliki posisi strategis dalam upaya Indonesia memperluas dan mendiversifikasi pasar ekspor sawit. Potensi tersebut tidak hanya berasal dari pasar Rusia, tetapi juga negara-negara EAEU yang memiliki sekitar 180 juta penduduk.

Untuk memperkuat akses ke pasar tersebut, GAPKI menandatangani nota kesepahaman dengan The Fat and Oil Union of Russia dan Association of Enterprises of Fat and Oil Industry of the Eurasian Economic Union.

“Nota kesepahaman ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat kemitraan jangka panjang antara industri minyak nabati Indonesia dan Rusia,” kata Eddy.

Menurut dia, kerja sama yang lebih erat dapat membuka peluang perdagangan, investasi, dan inovasi, sekaligus memperluas akses pasar dan meningkatkan daya saing industri minyak nabati kedua negara.

Penandatanganan nota kesepahaman itu disaksikan Duta Besar Republik Indonesia untuk Federasi Rusia dan Republik Belarus Jose Tavares, Atase Perdagangan KBRI Moskow, jajaran pejabat KBRI Moskow, serta perwakilan Badan Pengelola Dana Perkebunan.

Pasar Eurasia Terbuka Lebih Lebar

Ekspansi ke Rusia dan kawasan Eurasia memperoleh momentum setelah Indonesia dan negara-negara anggota EAEU menandatangani Perjanjian Perdagangan Bebas atau Free Trade Agreement pada 21 Desember 2025 di St. Petersburg, Rusia.

EAEU beranggotakan Rusia, Kazakhstan, Belarus, Armenia, dan Kirgistan. Melalui perjanjian tersebut, negara-negara anggota EAEU akan menghapus atau menurunkan tarif terhadap lebih dari 90% kategori produk asal Indonesia.

Penurunan tarif tersebut dinilai dapat meningkatkan daya saing produk Indonesia, termasuk minyak sawit dan produk turunannya, di pasar Eurasia.

Nota kesepahaman antara GAPKI dan asosiasi industri minyak nabati Rusia menjadi langkah pelaku usaha untuk memanfaatkan peluang yang dihadirkan perjanjian perdagangan tersebut.

Kerja sama tersebut mencakup pertukaran informasi mengenai perkembangan industri, promosi bersama, pengembangan jejaring bisnis, serta perluasan akses pasar bagi minyak sawit dan produk turunannya.

Kedua pihak juga sepakat memfasilitasi dialog antarpelaku industri, membentuk kelompok kerja bersama untuk membahas isu-isu strategis, serta menyelenggarakan seminar dan promosi investasi.

Kolaborasi juga akan diarahkan pada pengembangan teknologi dan inovasi, advokasi kebijakan, dan peningkatan hubungan perdagangan bilateral di sektor minyak nabati.

“GAPKI dan The Fat and Oil Union of Russia berkomitmen membangun komunikasi yang lebih intensif, memperkuat pertukaran informasi, serta mendorong berbagai inisiatif kerja sama yang saling menguntungkan,” ujar Eddy.

Ekspor Masih Didominasi Produk Olahan Dasar

Meski menunjukkan pertumbuhan, struktur ekspor sawit Indonesia ke Rusia masih didominasi produk olahan dasar.

Pada 2025, ekspor refined palm oil atau minyak sawit olahan tercatat sebanyak 689 ribu ton dengan nilai US$726 juta. Ekspor refined palm kernel oil mencapai 81 ribu ton senilai US$159 juta, sedangkan ekspor produk oleokimia mencapai 23 ribu ton senilai US$34 juta.

Indonesia juga mengekspor produk hilir berupa hydrogenated palm oil, shortening, vegetable ghee, dan emulsifier. Namun, volumenya masih relatif kecil, yakni sekitar 31 ribu ton dengan nilai US$57 juta pada 2025.

Komposisi tersebut menunjukkan masih terbukanya peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspor produk sawit bernilai tambah ke Rusia dan negara-negara Eurasia.

Selain memperbesar volume perdagangan, kerja sama antara pelaku industri diharapkan dapat mendorong investasi dan pengembangan produk hilir yang sesuai dengan kebutuhan pasar setempat.

Rusia selama ini belum termasuk tiga pasar ekspor sawit terbesar Indonesia seperti India, China, dan Pakistan. Namun, negara tersebut dinilai penting dalam strategi diversifikasi pasar, terutama di tengah meningkatnya hambatan perdagangan dan persyaratan keberlanjutan di pasar Uni Eropa.

Salah satu tantangan tersebut adalah penerapan European Union Deforestation Regulation atau EUDR yang mensyaratkan ketertelusuran komoditas dan jaminan bahwa produk tidak berasal dari lahan yang mengalami deforestasi.

Dalam kondisi tersebut, Rusia dan kawasan Eurasia dapat menjadi pasar alternatif untuk menjaga pertumbuhan ekspor sawit Indonesia. Meski demikian, perluasan pasar tetap perlu diikuti dengan penguatan tata kelola keberlanjutan dan peningkatan ekspor produk bernilai tambah.

Produksi dan Ekspor Sawit Meningkat

Upaya memperkuat pasar Rusia menjadi bagian dari rangkaian kegiatan GAPKI di negara tersebut pada 6-10 Juli 2026. Delegasi GAPKI juga mengikuti pameran industri internasional INNOPROM 2026 di Yekaterinburg.

Dalam forum bertajuk Palm Oil and the Future of Sustainable Energy: Balancing Climate Goals, Energy Security and Economic Development, Kepala Bidang Luar Negeri GAPKI Fadhil Hasan menyampaikan bahwa produksi minyak sawit Indonesia terus meningkat.

Produksi minyak sawit Indonesia yang terdiri atas minyak sawit mentah dan minyak inti sawit atau CPO dan PKO mencapai 56,6 juta ton pada 2025. Angka tersebut meningkat sekitar 7,2% dibandingkan produksi 2024 yang mencapai 52,76 juta ton.

Pada periode yang sama, volume ekspor naik sekitar 9,5%, dari 29,5 juta ton pada 2024 menjadi 32,3 juta ton pada 2025.

Nilai ekspor sawit Indonesia juga meningkat dari sekitar US$27,8 miliar pada 2024 menjadi US$35,9 miliar pada 2025.

Fadhil mengatakan minyak sawit memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan energi dan daya saing industri. Namun, peningkatan permintaan ekspor akan berjalan beriringan dengan bertambahnya konsumsi domestik menyusul implementasi program biodiesel B50 mulai Juli 2026.

Program tersebut diproyeksikan meningkatkan penyerapan minyak sawit di dalam negeri sekaligus memperkuat kontribusi industri sawit terhadap ketahanan energi nasional.

Di sisi keberlanjutan, Indonesia juga memperluas cakupan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil atau ISPO hingga sektor hilir dan bioenergi. Penguatan dilakukan pada aspek ketertelusuran, transparansi, dan perbaikan berkelanjutan.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian hingga Oktober 2025, sebanyak 1.169 perusahaan dan pelaku usaha tercatat memiliki sertifikat ISPO yang masih berlaku.

GAPKI berharap pertumbuhan ekspor, fasilitas tarif melalui perjanjian perdagangan bebas, dan penguatan hubungan antarpelaku industri dapat menjadikan Rusia serta kawasan EAEU sebagai pasar yang semakin penting bagi produk sawit Indonesia.

Kolaborasi tersebut juga diharapkan tidak berhenti pada ekspor minyak sawit olahan dasar, tetapi berkembang ke perdagangan produk hilir, investasi, inovasi teknologi, serta pembangunan rantai pasok minyak nabati yang lebih efisien dan berkelanjutan. (Z-10)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *