
SEBANYAK 800 perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akan ditutup pada 31 Desember 2026. Presiden Prabowo Subianto mengaku pemerintah telah menutup 240 BUMN yang disebutnya tidak beres.
Prabowo menjelaskan bahwa 800 BUMN tersebut merugi terus dan tidak efisien. Oleh karena itu, pemerintah memutuskan untuk menutupnya.
“Kita sudah tutup 240 BUMN yang tidak beres, sudah kita tutup. Nanti akhir Juli ini akan 250 BUMN kita tutup,” ujar Prabowo dalam peresmian lima bendungan yang berpusat di Bendungan Meninting, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Jumat (10/7).
Ia mengungkapkan penertiban BUMN tersebut mampu menghemat anggaran hingga mencapai hampir Rp70 triliun, terutama dari komponen gaji direksi dan biaya operasional.
Prabowo mengira jumlah BUMN hanya sekitar 300 hingga maksimal 400 perusahaan. Namun, faktanya ada sekitar 1.077 BUMN di Indonesia.
“Saya tidak pernah tahu bahwa BUMN kita begitu banyak,” ucap dia.
Jumlah ribuan BUMN itu, kata dia, dapat bertambah dengan adanya anak-anak perusahaan. Menurutnya struktur BUMN yang tidak sehat dapat menjadi celah menyembunyikan uang.
Oleh karena itu, pemerintah melakukan penertiban terhadap BUMN.
“Jangan lagi ada anak perusahaan, ada lagi cucu perusahaan, ada lagi cicit perusahaan, dan itu adalah cara mereka sembunyi, sembunyiin uang negara,” cetusnya.
Selama puluhan BUMN beroperasi, sebut Prabowo, ada banyak yang mengalami kerugian. Ia pun menyinggung keberadaan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara yang kini menaungi BUMN.
“Pelan-pelan kita perbaiki,” ucap dia. (Ant/H-4)
