
INDUSTRI kuliner kini menghadapi perubahan besar. Pelaku usaha tidak lagi cukup mengandalkan kualitas rasa semata, tetapi dituntut mampu membangun pengalaman, memperluas jaringan bisnis, hingga membuka akses investasi untuk bertahan dan berkembang.
Perubahan ini terlihat dari semakin kuatnya keterkaitan antara sektor food and beverage (F&B) dengan industri lain seperti waralaba, perjalanan bisnis, hingga kebutuhan korporasi. Model bisnis kuliner pun bergeser dari sekadar menjual produk menjadi membangun ekosistem yang terintegrasi.
Data menunjukkan, minat terhadap industri ini tetap tinggi. Pada penyelenggaraan Cafe Brasserie Expo (CBE) sebelumnya, tercatat 45.910 pengunjung dan 100 brand exhibitor berpartisipasi. Angka tersebut mencerminkan besarnya potensi pasar sekaligus meningkatnya kebutuhan pelaku usaha untuk memperluas jaringan dan peluang bisnis.
President Director Panorama Media, Royanto Handaya, menilai bahwa industri F&B saat ini tidak lagi berdiri sendiri. Pertumbuhannya sangat dipengaruhi oleh model bisnis, pengalaman pelanggan, hingga keterhubungan dengan sektor lain.
“Industri F&B hari ini tidak lagi berdiri sendiri. Pertumbuhannya sangat terkait dengan model bisnis, pengalaman pelanggan, investasi, hingga kebutuhan korporasi,” ujarnya, Kamis (9/7).
Kondisi ini mendorong munculnya pendekatan baru dalam pengembangan bisnis kuliner, yakni melalui integrasi lintas sektor. Salah satu bentuknya adalah konsep 3-in-1 Mega Ecosystem yang menggabungkan sektor F&B, waralaba, dan corporate outing dalam satu platform.
Melalui pendekatan ini, pelaku usaha kuliner tidak hanya bertemu dengan konsumen, tetapi juga investor, pemilik waralaba, hingga pengambil keputusan di perusahaan. Hal ini membuka peluang baru bagi ekspansi bisnis, termasuk melalui kemitraan dan investasi.
Project Manager pameran, Marzuki Herry, menyebut konsep tersebut sebagai ruang pertemuan berbagai kepentingan bisnis dalam satu wadah.
“Platform ini tidak hanya membuka peluang pasar baru, tetapi juga mempercepat penetrasi bisnis ke kawasan strategis yang sedang berkembang,” kata Marzuki.
Selain itu, tren kuliner juga bergerak ke arah pengalaman atau experiential dining. Konsumen kini tidak hanya mencari makanan atau minuman, tetapi juga pengalaman yang menyertainya. Hal ini mendorong pelaku usaha untuk menghadirkan konsep yang lebih kreatif dan bernilai tambah.
Di sisi lain, kebutuhan akan akses investasi dan kemitraan juga semakin penting. Melalui skema business matching dan jejaring yang lebih luas, pelaku usaha dapat mempercepat pertumbuhan bisnisnya, termasuk menjangkau pasar baru.
Dukungan terhadap penguatan ekosistem ini juga datang dari sektor kopi. Sekretaris Jenderal Asosiasi Kopi Indonesia, Dwiki Cahyadi, menilai industri kopi nasional membutuhkan lebih banyak ruang kolaborasi untuk berkembang.
Menurutnya, pelaku usaha kopi perlu memperluas jaringan kemitraan agar mampu bersaing di pasar global yang semakin kompetitif. (Z-10)
