
Serangan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran berdampak langsung pada stabilitas pasar keuangan domestik. Nilai tukar Rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dilaporkan mengalami pelemahan pada perdagangan Rabu (8/7) akibat meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.
Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, mengonfirmasi bahwa serangan tersebut menjadi pemicu utama koreksi pasar. Rupiah dibuka melemah tipis ke level Rp17.984 dibandingkan penutupan hari sebelumnya di Rp17.980. Tekanan terus berlanjut hingga Rupiah sempat menyentuh angka Rp17.993 pada sesi pagi.
Kondisi serupa terjadi pada pasar modal. IHSG yang sebelumnya diproyeksikan melanjutkan reli menuju level 6.000–6.200 setelah menguat 1,19% kemarin, justru berbalik arah. Pada penutupan sesi pertama, indeks terkoreksi sekitar 1,1–1,2% ke kisaran 5.912–5.920.
“Jadi ya, pola pelemahan rupiah dan koreksi IHSG memang sedang terjadi, meski belum dalam skala krisis,” ujar Sutopo saat dihubungi, Rabu (8/7).
Faktor Penahan dan Cadangan Devisa
Meski mengalami tekanan, Sutopo menilai pelemahan kali ini tidak sedalam episode sebelumnya di tahun 2026, seperti saat Rupiah menembus Rp18.188 pada awal Juni lalu. Terdapat faktor fundamental yang menjaga kepercayaan pasar, salah satunya adalah posisi cadangan devisa Indonesia.
“Cadangan devisa Indonesia akhir Juni tercatat naik ke US$145,6 miliar. Ini memberi sedikit bantalan kepercayaan pasar terhadap kemampuan Bank Indonesia menjaga stabilitas,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa koreksi hari ini juga merupakan bentuk penyesuaian pasar setelah sebelumnya sempat terlalu optimis bahwa konflik akan mereda.
Risiko Eskalasi dan Selat Hormuz
Sutopo menegaskan bahwa pergerakan pasar ke depan sangat bergantung pada durasi dan intensitas konflik. Berdasarkan pola sepanjang tahun 2026, pasar cenderung bereaksi negatif dalam hitungan hari setelah serangan, namun akan menguat tajam begitu ada sinyal de-eskalasi.
Namun, risiko besar tetap mengintai jika konflik menyebabkan gangguan pada distribusi minyak di Selat Hormuz. Sebagai importir minyak neto, Indonesia sangat rentan terhadap lonjakan harga minyak yang dapat membebani defisit transaksi berjalan dan memicu inflasi domestik.
Analisis Risiko: Jika eskalasi berlanjut, Rupiah berisiko melemah kembali ke atas Rp18.000 dan IHSG berpotensi terkoreksi lebih dalam menuju area support 5.780–5.850 sesuai proyeksi BNI Sekuritas.
Faktor Global Lainnya
Selain isu Timur Tengah, pasar juga tengah menantikan rilis risalah FOMC hari ini. Penguatan dolar AS akibat ekspektasi suku bunga tinggi The Fed diprediksi akan menambah tekanan terhadap mata uang regional, termasuk Rupiah.
“Kombinasi kedua faktor inilah (geopolitik dan risalah FOMC) yang akan menentukan apakah pelemahan hari ini hanya koreksi singkat atau awal dari tren yang lebih panjang,” pungkas Sutopo.
