Restorasi Lahan tak Produktif Dinilai Mampu Tingkatkan Nilai Ekonomi Aset Tanah
Ilustrasi(Dok Bumibaru)

LAHAN tidak produktif dapat kembali memiliki nilai ekonomi melalui pendekatan restorasi berbasis data, menurut Bumibaru. Lahan terdegradasi masih menjadi persoalan di berbagai wilayah Indonesia. Mulai dari lahan tidur, bekas perkebunan yang tidak lagi dikelola, hingga kawasan yang pernah dieksploitasi, banyak aset tanah yang belum memberikan nilai ekonomi secara optimal. Kondisi tersebut mendorong munculnya berbagai pendekatan dalam pengelolaan lahan.

Salah satunya dilakukan Bumibaru yang bergerak di bidang jasa restorasi dan reklamasi lahan. Perusahaan itu memosisikan diri sebagai degraded land development partner atau mitra pengembangan lahan tidak produktif.

CEO Bumibaru Ramavito Mountaino mengatakan banyak pemilik lahan memiliki pertanyaan yang sama mengenai cara mengoptimalkan aset agar kembali bernilai.

“Yang kami tawarkan bukan sekadar janji pemulihan lingkungan, tetapi kalkulasi yang bisa dipegang. Mulai dari kondisi awal lahan, timeline intervensi, hingga proyeksi produktivitas setelah proses pengembangan selesai,” ujarnya.

Sebagai proyek percontohan, Bumibaru mengembangkan lahan di Tangkiling, Kalimantan Tengah. Saat mulai dikelola, lahan tersebut memiliki kandungan pasir mencapai 94% dengan tingkat keasaman (pH) 4,40 sehingga dinilai kurang layak untuk budidaya tanaman produktif.

Setelah menjalani proses restorasi selama tiga tahun, kondisi lahan disebut mengalami perubahan. Tingkat keasaman tanah meningkat menjadi pH 6,01, sementara tingkat keberhasilan hidup tanaman (survival rate) mencapai 94%. Dalam kurun waktu tersebut, lahan itu menghasilkan lebih dari 307 ribu kilogram hasil panen yang terdiri atas pisang, nanas, dan semangka. Nilai ekonomi lahan juga diklaim meningkat dibandingkan saat kondisi awal.

Ramavito menilai hasil tersebut menunjukkan bahwa lahan dengan kondisi terbatas masih memiliki peluang untuk dikembangkan apabila ditangani dengan pendekatan yang tepat. Ia menjelaskan setiap proyek diawali dengan analisis menyeluruh terhadap kondisi tanah untuk mengidentifikasi karakteristik dan tantangan di lokasi. Berdasarkan hasil analisis itu, perusahaan menyusun program pengembangan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing masing lahan.

Pendekatan berbasis data tersebut disebut dapat diterapkan tidak hanya pada lahan bekas tambang, tetapi juga lahan perkebunan yang sudah tidak produktif, kawasan yang lama terbengkalai, maupun lahan investasi yang belum pernah dikembangkan. Melalui pendekatan itu, pengelolaan lahan tidak hanya berfokus pada pemulihan kondisi tanah, tetapi juga diarahkan untuk meningkatkan nilai ekonominya melalui proses pengembangan yang terukur. (E-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *