
SELAMA bertahun-tahun, serangan jantung dikenal sebagai penyakit yang lebih banyak menyerang orang berusia di atas 50 tahun. Namun, kondisi tersebut kini mulai berubah. Dalam beberapa tahun terakhir, kasus serangan jantung pada usia muda semakin banyak ditemukan, bahkan pada mereka yang masih berusia 20-an tahun.
Meningkatnya kasus ini membuat generasi muda, termasuk Gen Z, perlu lebih peduli terhadap kesehatan jantung. Pasalnya, berbagai kebiasaan sehari-hari yang terlihat sepele ternyata dapat meningkatkan risiko terjadinya serangan jantung jika berlangsung dalam jangka panjang.
Dilansir dari Alodokter, berikut tujuh faktor yang dapat meningkatkan risiko serangan jantung pada usia muda.
1. Tekanan Darah Tinggi
Hipertensi tidak hanya dialami oleh orang lanjut usia. Anak muda juga bisa mengalaminya, terutama akibat pola makan yang tinggi garam, lemak, serta rendah konsumsi buah dan sayuran.
Tekanan darah yang terus tinggi membuat jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Lama-kelamaan, kondisi ini dapat menyebabkan penebalan otot jantung dan meningkatkan risiko terjadinya serangan jantung.
2. Kolesterol Tinggi
Konsumsi makanan cepat saji, makanan olahan, serta minimnya aktivitas fisik menjadi penyebab tingginya kadar kolesterol pada usia muda.
Kolesterol yang berlebih dapat membentuk plak di dinding pembuluh darah koroner. Akibatnya, aliran darah menuju jantung menjadi terhambat sehingga risiko serangan jantung pun meningkat.
3. Diabetes
Diabetes juga menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai. Kadar gula darah yang tinggi dalam waktu lama dapat merusak pembuluh darah dan saraf, termasuk yang berperan dalam menjaga fungsi jantung.
Pada usia muda, diabetes sering dipicu oleh resistensi insulin yang banyak berkaitan dengan obesitas serta kurangnya aktivitas fisik.
4. Kebiasaan Merokok
Merokok, baik sebagai perokok aktif maupun pasif, sama-sama dapat meningkatkan risiko penyakit jantung.
Kandungan nikotin pada rokok mampu meningkatkan tekanan darah, mempercepat denyut jantung, mengurangi suplai oksigen ke jantung, serta mempercepat terbentuknya plak pada pembuluh darah. Kombinasi faktor tersebut membuat risiko serangan jantung menjadi lebih tinggi.
5. Stres yang Tidak Terkendali
Stres berkepanjangan sering kali membuat seseorang mengabaikan gaya hidup sehat. Mulai dari kurang tidur, jarang berolahraga, hingga lebih sering mengonsumsi makanan tinggi gula dan lemak.
Selain itu, stres juga dapat memicu kenaikan tekanan darah dan menurunkan kadar kolesterol baik (HDL), sehingga kesehatan jantung semakin terganggu.
6. Gaya Hidup Serba Praktis dan Kurang Bergerak
Kemajuan teknologi memang memudahkan aktivitas sehari-hari. Namun, di sisi lain, kebiasaan terlalu lama bermain media sosial, duduk di depan layar, menggunakan transportasi daring, hingga memilih lift atau eskalator dibanding berjalan kaki membuat tubuh menjadi kurang aktif.
Kurangnya aktivitas fisik dapat meningkatkan risiko obesitas dan sindrom metabolik, yaitu kumpulan kondisi seperti tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, lemak berlebih di area perut, serta gangguan kolesterol yang berkontribusi terhadap penyakit jantung.
7. Faktor Genetik atau Keturunan
Riwayat penyakit dalam keluarga juga berpengaruh terhadap risiko serangan jantung. Seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat hipertensi, diabetes tipe 1, hiperkolesterolemia, trombofilia, maupun sindrom antifosfolipid berisiko lebih tinggi mengalami penyakit jantung koroner sejak usia muda. Risiko tersebut akan semakin besar apabila tidak diimbangi dengan pola hidup sehat.
Cara Mencegah Serangan Jantung Sejak Usia Muda
Meski terdapat beberapa faktor yang tidak dapat diubah, seperti usia dan keturunan, sebagian besar risiko serangan jantung sebenarnya dapat ditekan melalui perubahan gaya hidup.
Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan jantung sejak dini:
- Terapkan pola makan sehat dan bergizi seimbang dengan memperbanyak konsumsi sayur, buah, biji-bijian, serta sumber protein rendah lemak.
- Lakukan aktivitas fisik atau olahraga secara rutin minimal 30 menit setiap hari.
- Hindari kebiasaan merokok dan jauhi paparan asap rokok.
- Kelola stres dengan baik, misalnya melalui olahraga, tidur yang cukup, meditasi, atau melakukan hobi yang disukai.
- Pertahankan berat badan tetap ideal agar risiko obesitas dan sindrom metabolik dapat ditekan.
- Batasi konsumsi makanan tinggi garam, gula, dan lemak jenuh.
- Lakukan pemeriksaan tekanan darah, kadar kolesterol, dan gula darah secara berkala, terutama bila memiliki riwayat penyakit jantung dalam keluarga.
Serangan jantung tidak lagi hanya menjadi ancaman bagi kelompok usia lanjut. Gaya hidup yang kurang sehat, ditambah berbagai faktor risiko lainnya, membuat Gen Z juga perlu lebih waspada.
Dengan menerapkan pola hidup sehat sejak sekarang dan rutin memantau kondisi kesehatan, risiko serangan jantung dapat dikurangi sehingga kesehatan jantung tetap terjaga hingga usia lanjut.
Sumber: Alodokter
