
AKTRIS, pengusaha, sekaligus aktivis Prilly Latuconsina menyoroti fenomena penggunaan media sosial yang kian masif di kalangan masyarakat. Dalam gelar wicara bertajuk Satu Abad Rahmi Hatta 1926-2026, yang berlangsung di Jakarta pada Rabu (1/7), ia menekankan pentingnya membangun kebiasaan mengevaluasi informasi guna meminimalkan dampak negatif digitalisasi.
Prilly mengemukakan bahwa kemudahan akses informasi melalui berbagai platform membuat masyarakat, khususnya kaum muda, menjadi sangat rentan terhadap pengaruh tren maupun opini yang beredar cepat.
“Sekarang ada platform sosial media banyak sekali. Ada Instagram, ada TikTok, ada Threads, ada X. Kita swipe sekali ada satu informasi, swipe satu lagi ada berita yang lain lagi,” ujar Prilly.
Tantangan Generasi Digital
Menurut Prilly, kecepatan peredaran informasi di platform digital menghadirkan tantangan tersendiri bagi kesehatan mental dan prinsip hidup seseorang. Ia menilai media sosial sering kali menciptakan tekanan yang tidak terlihat bagi penggunanya.
“Saya rasa tantangannya kita menjadi generasi yang akhirnya gampang terpengaruh sama suasana, gampang terpengaruh sama berita, walaupun belum tentu berita itu relevan sama nilai yang kita mau junjung di hidup kita,” tuturnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti bagaimana media sosial mendorong standar kesuksesan yang terkadang semu. “Sosial media seperti mendorong kita untuk menjadi generasi yang cepat sukses, harus berprestasi, harus banyak bisa, kita jadi cenderung ingin coba semuanya, tapi jadi kehilangan arah,” tambah Prilly.
Strategi Menghadapi Arus Informasi
Sebagai langkah mitigasi, Prilly membagikan metode personalnya dalam menyaring informasi. Ia mengaku selalu membiasakan diri untuk melakukan evaluasi mandiri sebelum menyerap atau mengikuti sebuah tren.
| Aspek Evaluasi | Pertanyaan Refleksi Diri (Prilly Latuconsina) |
|---|---|
| Kesesuaian Nilai | “Apakah ini sesuai sama nilai yang saya ingin junjung?” |
| Tujuan Hidup | “Apakah ini sesuai dengan arah yang ingin saya tuju?” |
Prilly juga mengingatkan bahwa kecerdasan intelektual dalam menguasai teknologi harus dibarengi dengan karakter yang kuat. Ia berpendapat bahwa perkembangan teknologi semestinya dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan positif.
“Semua orang punya kecerdasan, semua orang punya kepintaran. Tapi tidak semua orang punya kejujuran atau kedisiplinan yang bisa membuat kecerdasan itu ke arah yang lebih baik,” tegasnya.
Menutup pernyataannya dalam peringatan Satu Abad Rahmi Hatta tersebut, Prilly mengajak generasi muda untuk tidak sekadar menjadi konsumen konten, tetapi juga meneladani keteguhan serta integritas tokoh bangsa seperti Rahmi Hatta dalam menjalani kehidupan di era modern. (Ant/Z-1)
