Pentingnya Memantau Kualitas Udara untuk Menjaga Kesehatan Pernapasan
Seorang wanita melintas dengan latar belakang Monas yang tertutup polusi udara di Jakarta.(Dok. Antara)

MASYARAKAT diimbau untuk meningkatkan kesadaran terhadap fluktuasi kualitas udara guna menjaga kesehatan pernapasan. Dokter spesialis anak subspesialis respirologi, Wahyuni Indawati, menekankan pentingnya memantau kondisi udara secara rutin melalui berbagai aplikasi yang tersedia saat ini.

“Informasi terkait fluktuasi kualitas udara, kapan dia buruk dan kapan sedikit lebih baik, sangat penting. Jadi paling tidak kita lebih aware terhadap kondisi tersebut,” ujar dr. Wahyuni saat ditemui di Jakarta, Kamis (2/7).

Langkah Preventif Menghadapi Polusi

Dokter yang berpraktik di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) tersebut menyarankan sejumlah langkah praktis saat kualitas udara memburuk:

  • Mengurangi atau membatasi aktivitas di luar ruangan (outdoor).
  • Menggunakan masker saat harus beraktivitas di luar rumah.
  • Menutup jendela untuk menghindari masuknya udara kotor ke dalam hunian.

Selain polusi udara luar ruangan, dr. Wahyuni mengingatkan bahaya polusi dalam ruangan (indoor pollution). Paparan asap rokok dan vape di dalam rumah dinilai sama bahayanya bagi kesehatan paru-paru. “Dari dua aspek itu, baik outdoor maupun indoor pollution, harus dijaga supaya masalah pernapasan bisa dikurangi,” tambahnya.

Dampak Buruk bagi Anak dan Kelompok Sensitif

Kualitas udara yang buruk dapat memicu berbagai gangguan kesehatan serius, mulai dari infeksi berulang (recurrent infection) hingga eksaserbasi atau serangan akut pada penderita asma dan alergi.

Pada anak-anak, polutan yang terhirup berisiko mengganggu mekanisme bersihan jalan napas. Hal ini terjadi karena produksi lendir meningkat, sementara gerakan silia (rambut halus di saluran napas) terhenti akibat polutan seperti asap rokok.

“Ketika asap rokok terhirup, gerakan silia di saluran napas kita berhenti bergerak. Akibatnya muncul suara ‘grok-grok’ karena lendir menumpuk di sana,” jelas dr. Wahyuni.

Berdasarkan data IQAir pada Kamis (2/7) pukul 05.50 WIB, indeks kualitas udara (AQI) Jakarta mencapai angka 174. Angka ini masuk dalam kategori tidak sehat dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 73 mikrogram per meter kubik. Kondisi ini sangat berisiko bagi kelompok sensitif dan dapat merugikan kesehatan manusia serta ekosistem.

Melihat kondisi tersebut, masyarakat diharapkan tidak hanya mengandalkan perlindungan fisik seperti masker, tetapi juga aktif menciptakan lingkungan dalam ruang yang bebas polusi demi kesehatan jangka panjang. (Ant/H-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *