Jebakan Manis PayLater: Ketika Kemudahan Bertransaksi Mengancam Masa Depan Finansial Gen Z
Elsa Maya Ryesta(DOK PRIBADI)

BAYANGKAN membeli sepatu seharga Rp800 ribu hanya dengan tiga ketukan jari, tanpa perlu mengecek saldo rekening. Itulah daya tarik utama layanan Buy Now Pay Later (BNPL) atau PayLater yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya belanja generasi Z. Kemudahan ini terasa seperti solusi ajaib hingga tagihan bulanan mulai menumpuk dan dompet digital terasa semakin berat.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, hingga Juni 2025, total kredit PayLater di Indonesia telah mencapai Rp31,55 triliun dengan jumlah pengguna sebanyak 26,96 juta rekening. Angka ini bukan sekadar statistik ia mencerminkan pergeseran besar dalam cara masyarakat, khususnya generasi muda, memandang dan mengelola keuangan mereka.

Fenomena ini tidak lahir dari ruang hampa. Di balik tombol “beli sekarang, bayar nanti” terdapat ekosistem kapitalisme digital yang tersusun rapi: algoritma yang hafal selera kita, influencer yang memamerkan gaya hidup impian, serta promo kilat yang menciptakan rasa urgensi semu. Platform e-commerce dan fintech secara cerdas memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk mendorong konsumsi tanpa henti.

Generasi Z menjadi kelompok yang paling rentan sekaligus paling aktif dalam ekosistem ini. Tumbuh bersama media sosial, mereka terpapar arus tren yang berputar sangat cepat. Fear of missing out (FOMO), rasa cemas tertinggal dari tren yang sedang popular, menjadi bahan bakar yang terus menggerakkan hasrat belanja. Ketika keinginan itu bertemu dengan kemudahan PayLater, batas antara kebutuhan dan keinginan pun semakin kabur.

Dalam perspektif ekonomi politik media, perilaku pengguna sesungguhnya adalah komoditas. Setiap klik, setiap transaksi, setiap momen kita “scroll” di platform digital menghasilkan data berharga yang digunakan perusahaan untuk mempertajam strategi pemasaran mereka. Sederhananya: kita bukan hanya konsumen produk, kita juga adalah produk itu sendiri. Perhatian kita dijual, dan PayLater adalah salah satu jalan tol menuju dompet kita.

Konsekuensinya tidak main-main. Kemudahan akses kredit tanpa edukasi finansial yang memadai ibarat memberikan pisau tajam tanpa pelatihan cara menggunakannya. Banyak anak muda yang akhirnya terjebak dalam lingkaran utang konsumtif: membayar cicilan bulan ini dengan mengandalkan penghasilan bulan depan, lalu berbelanja lagi dengan PayLater karena uang sudah habis untuk cicilan. Pola ini secara perlahan mengikis kemampuan menabung dan berinvestasi untuk masa depan.

Tentu saja, PayLater bukan monster yang harus dihindari sepenuhnya. Bagi sebagian orang, layanan ini benar-benar membantu membiayai kebutuhan mendesak ketika arus kas sedang seret, atau memanfaatkan promo terbatas yang menguntungkan. Persoalannya terletak bukan pada teknologinya, melainkan pada literasi dan kesadaran penggunanya.

Solusinya tidak cukup hanya dengan seruan “bijak belanja”. Diperlukan pendekatan berlapis: literasi keuangan yang diajarkan sejak bangku sekolah, regulasi yang mewajibkan platform fintech menampilkan informasi risiko secara transparan, serta kesadaran kritis terhadap cara kerja algoritma media sosial yang mempengaruhi keputusan belanja kita. Generasi Z yang melek teknologi semestinya juga melek terhadap cara teknologi itu bekerja membentuk perilaku mereka.

Di tengah gempuran kapitalisme digital yang semakin canggih, kemampuan untuk berhenti sejenak dan bertanya “apakah ini kebutuhan atau sekadar keinginan?” adalah bentuk kebebasan paling nyata. Sebab masa depan finansial yang kokoh tidak dibangun dari kemudahan bertransaksi, melainkan dari keberanian untuk tidak bertransaksi ketika memang tidak perlu.

 

Daftar Pustaka

Mosco, Vincent. (2009). The Political Economy of Communication (2nd ed.). SAGE Publications.

Smythe, Dallas W. (1977). Communications: Blindspot of Western Marxism. Canadian Journal of Political and Social Theory, 1(3).

Otoritas Jasa Keuangan (OJK). (2025). Konferensi Pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan Juli 2025. Jakarta: OJK.

Bank Indonesia. (2024). Laporan Perekonomian Indonesia 2024. Jakarta: Bank Indonesia.

Kementerian Komunikasi dan Digital RI. (2024). Status Literasi Digital Indonesia 2024. Jakarta: Komdigi.

Pratama, A. A. (2025, 5 Agustus). Utang Paylater Masyarakat RI Tembus Rp31,55 Triliun per Juni 2025. iNews.id.

DataReportal & We Are Social. (2025). Digital 2025: Indonesia Report.

Journal of Consumer Behaviour. (2023). Fear of Missing Out, Social Media Use, and Consumer Behavior among Generation Z.



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *