
TREN busana kasual atau daily wear diprediksi masih akan mendominasi industri fesyen Indonesia dalam beberapa tahun ke depan. Namun, dominasi gaya sehari-hari itu dinilai tidak lagi cukup hanya mengandalkan desain yang nyaman dipakai, melainkan harus dibarengi dengan inovasi dan praktik keberlanjutan yang nyata.
Advisor JF3 Fashion Festival 2026, Thresia Mareta, mengatakan masyarakat Indonesia kini semakin berani mengeksplorasi gaya berpakaian. Kondisi tersebut menjadi peluang bagi desainer lokal untuk menghadirkan karya yang tetap dekat dengan kebutuhan pasar, tetapi memiliki gagasan baru.
“Kalau kita melihat tren fashion Indonesia ya pastinya masih yang banyak dipakai untuk hari-hari ya, tapi kita juga melihat bahwa masyarakat kita sekarang lebih fashionable, mereka juga lebih banyak mengeksplorasi fashion. Jadi itu adalah kesempatan para desainer sebenarnya untuk menghadirkan satu ide yang baru,” kata Thresia usai media preview JF3 Fashion Festival 2026 di Summarecon Mall Kelapa Gading, Jakarta, Kamis (2/7).
Menurut Thresia, karakter pasar fesyen Indonesia tidak selalu bergerak mengikuti tren internasional. Masyarakat dinilai lebih banyak memilih busana yang dapat digunakan dalam aktivitas sehari-hari, sehingga kategori daily wear masih menjadi ruang penting bagi perkembangan industri mode nasional.
“Indonesia nggak selalu ngikutin tren internasional sih, tapi lebih ke daily wear kalau menurut saya,” ujarnya.
Di tengah tren tersebut, Thresia menekankan bahwa isu sustainability tidak boleh berhenti sebagai klaim pemasaran. Menurutnya, keberlanjutan harus diterapkan dalam seluruh proses produksi, mulai dari pengelolaan limbah, pemanfaatan material, hingga eksekusi produksi yang lebih bertanggung jawab.
“Nggak cuma sekadar jargon, ‘oh saya sustainable karena saya pakai sisa produksi’, tapi di titik-titik eksekusi lainnya kan itu harus diimplementasikan juga perkara sustainable ini,” kata Thresia.
Ia menilai isu keberlanjutan kini sudah menjadi kebutuhan mendesak bagi industri fesyen. Dampak perubahan iklim yang semakin terasa membuat pelaku industri perlu menempatkan sustainability sebagai bagian dari cara kerja, bukan sekadar narasi.
“Kalau buat kami sekarang sebenarnya isu sustainability itu kan jadi isu yang udah biasa ya. Sudah selayaknya itu jadi pemikiran banyak orang karena semua orang sudah merasakan kayak panas dan lain-lain itu sudah harus jadi satu perhatian,” tuturnya.
JF3 Fashion Festival 2026 turut mengangkat pembahasan mengenai sustainability melalui seminar PINTU Incubator. Program tersebut menjadi bagian dari rangkaian festival yang tahun ini mengusung tema “Recrafted: Shaping the Future”.
Melalui tema tersebut, JF3 Fashion Festival 2026 berupaya memperkuat ekosistem fesyen Indonesia dengan menghubungkan kreativitas, craftsmanship, pengembangan talenta, bisnis, serta akses pasar.
Gelaran tahun ini juga menghadirkan desainer dan jenama dari Indonesia, Prancis, Korea Selatan, serta sejumlah negara di Asia Tenggara. JF3 Fashion Festival 2026 dijadwalkan berlangsung pada 22-29 Juli 2026 di Summarecon Mall Kelapa Gading, Jakarta. (Ant/Z-10)
