
BRASIL dan Jepang kembali bertemu di panggung Piala Dunia. Kali ini, Selecao mengusung misi balas dendam atas kekalahan 2-3 dari Samurai Biru pada laga persahabatan tahun lalu demi mengamankan tiket ke babak 16 besar Piala Dunia 2026.
Pertandingan di NRG Stadium, Houston, pada Selasa (30/6) dini hari WIB, Houston, tidak hanya menjadi perebutan tiket menuju babak 16 besar, tetapi juga menjadi ajang pembuktian sejauh mana perkembangan Brasil di bawah kepemimpinan Ancelotti sejak mengambil alih tim nasional.
Brasil masih mengingat kekalahan menyakitkan 2-3 dari Jepang pada Oktober 2025 di Tokyo. Saat itu, Selecao sempat unggul dua gol lebih dulu sebelum tuan rumah bangkit dan mencetak tiga gol dalam waktu kurang dari 20 menit. Hasil tersebut menjadi kemenangan pertama Jepang atas Brasil setelah 14 kali pertemuan.
Kekalahan itu menjadi salah satu tantangan awal yang dihadapi Ancelotti setelah meninggalkan Real Madrid untuk menangani tim nasional Brasil dengan waktu persiapan yang relatif singkat menuju Piala Dunia.
Pelatih asal Italia tersebut mewarisi skuad yang tengah mengalami penurunan performa. Brasil bahkan mencatatkan kampanye kualifikasi Piala Dunia terburuk di zona Amerika Selatan dengan finis di posisi kelima setelah berganti empat pelatih dalam satu periode kualifikasi.
Dengan hanya lima agenda internasional sebelum menentukan skuad berisi 26 pemain untuk Piala Dunia, Ancelotti memanfaatkan tiga jendela pertandingan terakhir untuk menguji timnya menghadapi berbagai lawan dari Asia, Eropa, dan Afrika.
Tur uji coba di Asia diawali dengan kemenangan telak 5-0 atas Korea Selatan di Seoul. Namun, hasil positif itu gagal berlanjut ketika Brasil menyerah 2-3 dari Jepang meski sempat unggul nyaman.
Kini situasinya jauh berbeda. Brasil datang ke babak gugur dengan kepercayaan diri tinggi setelah menunjukkan peningkatan sepanjang fase grup.
Sempat ditahan imbang 1-1 oleh Maroko pada pertandingan pembuka, Selecao bangkit dengan meraih dua kemenangan beruntun yang mengantarkan mereka finis sebagai juara grup.
Performa Vinicius Junior menjadi salah satu kunci kebangkitan Brasil. Penyerang Real Madrid itu telah mengoleksi empat gol sepanjang turnamen, sementara Neymar kembali memperkuat tim nasional setelah absen hampir tiga tahun akibat cedera berkepanjangan.
Carlo Ancelotti mengakui timnya belum mencapai performa sempurna, tetapi melihat perkembangan yang signifikan dibandingkan awal turnamen.
“Kami tidak sempurna,” kata Ancelotti setelah Brasil mengalahkan Skotlandia 3-0.
“Kami bisa meningkatkan diri. Misalnya, kecepatan kami dalam menguasai bola. Kami bisa lebih cepat,” ucapnya.
“Tetapi saya senang karena tim telah banyak berkembang sejak pertandingan pertama. Sekarang ini adalah kompetisi sistem gugur. Kita perlu menunjukkan ketangguhan yang sesungguhnya,” lanjutnya.
Di sisi lain, pelatih Jepang Hajime Moriyasu meyakini Brasil akan tampil dengan motivasi lebih besar setelah kekalahan pada pertemuan sebelumnya.
“Mungkin, mereka akan lebih termotivasi,” kata Moriyasu kepada wartawan usai hasil imbang 1-1 melawan Swedia yang memastikan Jepang lolos sebagai runner-up Grup F.
“Kami akan bermain melawan tim Brasil yang sangat ingin menang. Saya menantikannya,” ujarnya.
Meski demikian, Jepang tidak datang dengan kekuatan penuh. Moriyasu dipastikan kehilangan sejumlah pemain penting akibat cedera, termasuk kapten Wataru Endo, Kaoru Mitoma, Takefusa Kubo, serta Takumi Minamino yang menjadi salah satu pencetak gol saat mengalahkan Brasil tahun lalu.
Brasil pun mengalami perubahan besar dibandingkan skuad yang tampil di Tokyo. Lini belakang yang saat itu menjadi sorotan tidak lagi menjadi bagian dari skuad Piala Dunia, sementara Ancelotti berhasil membangun pertahanan yang lebih solid selama turnamen berlangsung.
Selain rivalitas terkini, duel ini juga memiliki nilai sejarah yang panjang. Brasil selama puluhan tahun menjadi inspirasi perkembangan sepak bola Jepang, terutama melalui sosok legenda Selecao, Zico.
Setelah mengakhiri kariernya di Brasil dan Eropa, Zico melanjutkan karier bermain bersama Sumitomo Metal, yang kemudian berkembang menjadi Kashima Antlers pada 1991 hingga 1994. Ia turut membantu perkembangan sepak bola profesional Jepang sebelum kemudian melatih klub tersebut dan kini menjabat sebagai penasihat teknis.
Zico juga pernah menangani tim nasional Jepang pada periode 2002 hingga 2006. Di bawah kepemimpinannya, Jepang menjuarai Piala Asia 2004 dan tampil di Piala Dunia 2006.
Pada edisi tersebut, Jepang harus tersingkir setelah kalah 1-4 dari Brasil di fase grup. Kini, hampir dua dekade kemudian, kedua negara kembali bertemu di panggung Piala Dunia dengan misi masing-masing dan sejarah panjang yang kembali dipertaruhkan di Houston. (Japantimes/fer)
