
GUNUNG Api Anak Krakatau mulai menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan. Berdasarkan pantauan terkini Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sejak 26 Juni 2026, terjadi peningkatan intensitas gempa embusan yang disertai dengan asap kawah berwarna kelabu dan muatan abu vulkanik tipis.
Aktivitas asap kawah tersebut bahkan telah terdeteksi oleh satelit yang dioperasikan oleh Volcanic Ash Advisory Centres (VAAC) Darwin, Australia. Plt Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa fenomena ini mengindikasikan adanya dinamika magmatisme di dekat permukaan.
“Gejala peningkatan magmatisme di permukaan tersebut bisa menjadi awal peningkatan aktivitas Gunungapi Anak Krakatau menuju erupsi. Jika terjadi erupsi, potensi ancaman bahaya berasal dari awan panas, lava, lontaran batu pijar, serta hujan abu,” ungkap Lana Saria di Bandung, Minggu (28/6).
Kronologi Peningkatan Aktivitas
Peningkatan aktivitas ini sebenarnya terdeteksi sejak awal bulan. Pada 1 Juni 2026, Satelit Sentinel memperlihatkan ada emisi gas SO2 dan anomali panas. Kemudian, titik api di kawah mulai muncul sejak 10 Juni 2026, diikuti asap kawah berintensitas tinggi dan peningkatan gempa dangkal.
Lonjakan drastis terjadi pada 18 dan 19 Juni 2026, di mana jumlah gempa embusan, gempa Hybrid/Fase Banyak, dan Low Frequency mencatat rerata kejadian lebih dari 50 kali per hari.
“Meskipun tidak disertai dengan peningkatan gempa-gempa dalam dan deformasi, peningkatan gempa yang berasosiasi dengan gempa dangkal mengindikasikan adanya dinamika magma Gunungapi Anak Krakatau di bagian permukaan,” tambah Lana.
Status Waspada dan Rekomendasi Keamanan
Gunung yang terletak di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan ini, memiliki sejarah erupsi besar pada 1883 dan peristiwa longsoran tubuh gunung yang memicu tsunami pada 22 Desember 2018. Setelah fase konstruksi pertumbuhan kembali hingga akhir 2023, gunung ini sempat mengalami jeda erupsi panjang namun tetap menunjukkan aktivitas magmatik berenergi rendah.
- Tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini berada pada Level II (Waspada).
- Pengunjung, wisatawan, dan pendaki dilarang mendekati atau beraktivitas dalam radius 2 km dari pusat aktivitas.
- Masyarakat diminta waspada terhadap ancaman awan panas, lava, lontaran batu pijar, dan hujan abu lebat.
Lana Saria mengimbau masyarakat di pesisir pantai Banten dan Lampung untuk tetap tenang dan menjalankan aktivitas seperti biasa. Namun, ia menekankan pentingnya mengikuti arahan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat guna mengantisipasi perkembangan situasi lebih lanjut. (I-2)
