Warga Asia Selatan Alami Kanker Sebelas Tahun Lebih Awal dari Ras Lain
Ilustrasi(Magnific)

SEBUAH penelitian medis terbaru mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai penyebaran penyakit kanker di dunia. Warga keturunan Asia Selatan, termasuk individu yang memiliki garis keturunan dari India, Pakistan, Bangladesh, Nepal, dan Sri Lanka, ternyata menghadapi risiko terkena kanker rata-rata satu dekade atau sekitar 10 hingga 11 tahun lebih awal dibandingkan dengan populasi ras lainnya.

Kondisi ini diperparah oleh temuan bahwa alat penilaian risiko medis standar yang digunakan saat ini sering kali gagal mendeteksi ancaman tersebut. Sebagian besar sistem prediksi risiko kanker yang dipakai di dunia barat saat ini dikembangkan berdasarkan data genetik dan sampel dari populasi kulit putih keturunan Eropa. Akibatnya, algoritma medis tersebut tidak mampu membaca indikator risiko spesifik yang dimiliki oleh kelompok etnis di luar Eropa secara akurat.

Ketika model prediksi ini diterapkan pada warga keturunan Asia Selatan, sistem cenderung meremehkan tingkat bahaya yang mengintai mereka. Kegagalan deteksi ini menyebabkan banyak pasien dari wilayah tersebut baru terdiagnosa ketika kanker sudah memasuki stadium lanjut, yang secara signifikan menurunkan peluang keberhasilan pengobatan.

Para peneliti mencatat bahwa faktor genetik yang unik, variasi biologis, pola makan, hingga perbedaan gaya hidup menjadi alasan mengapa kanker berkembang jauh lebih cepat pada populasi Asia Selatan. Sayangnya, karena alat skrining standar menetapkan batas usia pemeriksaan yang sama bagi semua ras, biasanya dimulai pada usia 50 tahun, banyak warga Asia Selatan yang sudah terkena kanker di usia 40-an terlewat dari radar pemantauan medis.

Temuan ini memicu desakan kuat dari para komunitas ilmuwan dan praktisi kesehatan global untuk segera merombak dan memperbarui instrumen medis yang ada. Kebutuhan akan alat penilaian risiko yang disesuaikan secara khusus berdasarkan latar belakang etnis (ethnicity-specific risk tools) dinilai sudah sangat mendesak.

Melalui pembaruan sistem deteksi yang lebih inklusif, dokter diharapkan dapat mengidentifikasi pasien berisiko tinggi jauh lebih cepat, memulai skrining di usia yang lebih muda, dan memberikan intervensi medis yang tepat waktu. Langkah ini dianggap sebagai satu-satunya jalan keluar untuk memangkas kesenjangan penanganan kesehatan global serta menyelamatkan lebih banyak nyawa dari ancaman kanker dini. (Earth/Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *