Kenapa Nyamuk Kebal dari Virus yang Ditularkannya? Begini Kata Ilmuwan
Ilustrasi(Magnific)

NYAMUK dikenal sebagai salah satu hewan paling mematikan di dunia karena mampu menularkan berbagai penyakit berbahaya, seperti demam berdarah dengue, chikungunya, hingga Zika. Menariknya, meski membawa virus-virus tersebut sepanjang hidupnya, nyamuk tidak pernah menunjukkan gejala sakit.

Fenomena ini telah lama menjadi teka-teki bagi para ilmuwan. Jika virus dapat menyebabkan demam tinggi hingga kerusakan organ pada manusia, mengapa nyamuk justru tetap hidup normal dan terus menggigit tanpa mengalami gangguan kesehatan?

Sebuah penelitian terbaru yang dimuat dalam jurnal PLOS Biology mulai memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut. Studi yang dilansir Earth.com itu mengungkap bahwa rahasianya bukan karena nyamuk memiliki kekebalan luar biasa, melainkan karena virus mengubah cara berkembang biaknya ketika berada di dalam tubuh serangga pengisap darah tersebut.

Virus Hidup Berdampingan dengan Nyamuk

Penyakit yang ditularkan nyamuk kini tidak lagi hanya menjadi masalah di wilayah tropis. Perubahan iklim, meningkatnya mobilitas manusia, dan meluasnya habitat nyamuk membuat penyakit seperti dengue dan chikungunya semakin banyak ditemukan di berbagai negara.

Bahkan, sejumlah penelitian memperkirakan lebih dari 80% penduduk dunia kini tinggal di wilayah yang berisiko terpapar virus yang ditularkan nyamuk.

Saat seekor nyamuk mengisap darah dari orang yang terinfeksi, virus akan masuk ke dalam tubuhnya dan menetap hingga nyamuk tersebut mati. Selama itu pula virus terus berkembang biak, tetapi tanpa menyebabkan kerusakan pada tubuh nyamuk.

Untuk mengetahui penyebabnya, tim peneliti dari Pompeu Fabra University (UPF), Barcelona, Spanyol, menginfeksi sel-sel nyamuk dengan virus chikungunya dan mengamati proses yang terjadi di dalamnya.

Hasil penelitian menunjukkan sesuatu yang tidak biasa. Materi genetik virus terus bertambah di dalam sel nyamuk, tetapi produksi protein virus tetap rendah. Padahal, protein inilah yang dibutuhkan virus untuk memperbanyak diri dalam jumlah besar.

Artinya, virus tidak berkembang secara agresif seperti saat menginfeksi manusia. Sebaliknya, virus justru membatasi aktivitasnya sendiri sehingga tidak merusak sel-sel nyamuk.

Peneliti menyebut kondisi ini sebagai translational repression, yaitu ketika proses penerjemahan materi genetik virus menjadi protein sengaja diperlambat.

Pemimpin penelitian, Juana Díez, bersama timnya menilai mekanisme tersebut memungkinkan virus tetap bertahan hidup tanpa membunuh inangnya. Dengan demikian, nyamuk tetap memiliki energi yang cukup, sel-selnya tetap sehat, dan serangga tersebut dapat terus hidup sekaligus menyebarkan virus ke manusia lainnya.

Salah satu penulis utama penelitian, Marc Talló-Parra, menggambarkan mekanisme itu seperti virus yang mengecilkan volume aktivitasnya sendiri.

“Seolah-olah virus sengaja menurunkan tingkat aktivitasnya sendiri. Dengan cara itu, sel nyamuk tetap hidup sehingga virus dapat bertahan lebih lama di dalam tubuh inangnya,” jelas Talló-Parra dikutip dari laman earth.com.

Perbedaan Saat Menginfeksi Manusia

Keadaan tersebut sangat berbeda ketika virus memasuki tubuh manusia. Di dalam sel manusia, virus justru mengambil alih mesin pembuat protein milik sel untuk memperbanyak diri secepat mungkin. Virus juga mematikan aktivitas gen sel manusia dan mengubah sistem pembacaan materi genetik agar proses reproduksinya berlangsung lebih efisien.

Akibatnya, sel-sel tubuh mengalami kerusakan, memicu peradangan, dan menimbulkan berbagai gejala seperti demam tinggi, nyeri sendi, hingga rasa lemas. Namun, strategi agresif itu ternyata tidak digunakan saat virus berada di dalam tubuh nyamuk.

Peneliti menemukan protein virus yang biasanya masuk ke inti sel manusia justru tetap berada di luar inti sel nyamuk. Mesin pembuat protein milik nyamuk pun tetap bekerja normal sehingga virus harus berbagi dengan aktivitas sel yang lain. Kondisi ini membuat jumlah virus tetap terkendali dan tidak sampai menghancurkan sel.

Tidak Hanya Terjadi Pada Virus Chikungunya

Untuk memastikan temuan tersebut bukan hanya terjadi pada virus chikungunya, para ilmuwan melakukan percobaan serupa menggunakan virus Zika. Hasilnya ternyata sama. Materi genetik virus Zika terus bertambah di dalam sel nyamuk, tetapi produksi proteinnya tetap rendah.

Karena kedua virus berasal dari keluarga yang berbeda, para peneliti menduga mekanisme ini merupakan strategi evolusi yang telah berkembang sejak lama antara virus dan nyamuk.

Bagi virus, strategi tersebut sangat menguntungkan. Jika virus berkembang terlalu cepat hingga membunuh nyamuk, maka ia akan kehilangan “kendaraan” yang membawanya berpindah ke manusia berikutnya. Sebaliknya, dengan berkembang secara terkendali, virus dapat bertahan selama berminggu-minggu di dalam tubuh nyamuk yang tetap sehat dan aktif mencari mangsa.(earth/Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *