AI Tiongkok Vs AS: Menang lewat Efisiensi dan Adopsi Massal
Ilustrasi.(Magnific)

DALAM persaingan global memperebutkan dominasi kecerdasan buatan (AI), para pemimpin teknologi Tiongkok kini menempuh jalur yang berbeda dari pesaing mereka di Amerika Serikat. Alih-alih hanya berfokus pada pengembangan kemampuan model yang paling canggih secara teknis, perusahaan-perusahaan Tiongkok mulai memprioritaskan penawaran model cukup baik (good enough) dengan harga yang jauh lebih murah agar dapat diadopsi secara luas di seluruh dunia.

Pergeseran strategi ini terlihat jelas di pusat-pusat AI Tiongkok seperti Shanghai dan Hangzhou. Cherie Shi, Manajer Bisnis Global di MiniMax, menyatakan bahwa tolok ukur keberhasilan kini bukan lagi sekadar pencapaian teknis di garis depan (frontier), melainkan seberapa banyak orang di dunia nyata yang menggunakan model tersebut setiap hari.

Ekspansi Global dan Adopsi di Pasar Berkembang

Selama setahun terakhir, perusahaan AI Tiongkok memperoleh kemajuan signifikan dalam mendorong adopsi model mereka oleh perusahaan, pemerintah, dan pengguna individu, mulai dari Asia Tenggara hingga kawasan Teluk Persia. Beberapa proyek strategis yang melibatkan teknologi Tiongkok meliputi:

  • Singapura: Inisiatif AI yang didukung pemerintah memilih untuk membangun kapabilitasnya menggunakan model Qwen milik Alibaba.
  • Malaysia: Konglomerat properti memulai proyek smart city senilai Rp328 triliun (US$20 miliar) yang mencakup pusat riset AI dengan dukungan perusahaan teknologi Tiongkok.
  • Arab Saudi: Bermitra dengan ByteDance dan Huawei untuk menerapkan AI dalam infrastruktur perkotaan.

Di sisi lain, Amerika Serikat tetap memegang teguh posisi sebagai pemimpin inovasi. Presiden Donald Trump baru-baru ini menyatakan bahwa AS memimpin jauh di atas Tiongkok dalam pertempuran memperebutkan masa depan ini.

Namun, laporan dari JPMorganChase Center for Geopolitics pada Mei lalu memperingatkan bahwa keunggulan teknis AS mungkin menyesatkan dan berumur pendek, karena laboratorium AI Tiongkok sedang memproduksi model yang dirancang untuk menang dalam adopsi.

Efisiensi Biaya: Senjata Utama Tiongkok

Banyak perusahaan saat ini mulai terbebani oleh biaya penggunaan AI yang meroket, terutama terkait konsumsi token (unit dasar data AI). Hal ini membuka peluang bagi firma Tiongkok yang menawarkan tarif token lebih murah dan model yang beroperasi lebih efisien.

Perspektif Industri: “Jika kami dapat memberikan 80 persen nilai dengan biaya yang jauh lebih rendah, itu sudah cukup. Kami akan mengambil pangsa pasar tersebut,” ujar seorang tenaga penjual di firma AI terkemuka Tiongkok.

Gunja Gargeshwari dari Bright Data mengonfirmasi tren ini, menyebut efisiensi biaya dan token dari AI Tiongkok sebagai hal yang luar biasa. Perusahaan-perusahaan global kini semakin terbuka untuk menggunakan solusi dari Tiongkok tanpa bias, selama solusi tersebut tepat untuk kebutuhan bisnis mereka.

Perbandingan Strategi: Rolls-Royce vs Mercedes

Zixuan Li, eksekutif dari Zhipu AI (dikenal sebagai Z.ai), memberikan analogi menarik dalam konferensi SuperAI di Singapura. Ia mengibaratkan perusahaan AS menjual Rolls-Royce (sangat mewah dan canggih), sementara perusahaan Tiongkok menjual Mercedes (berkualitas tinggi tetapi lebih terjangkau dan massal).







Fitur Utama Model AS (OpenAI/Anthropic) Model Tiongkok (Alibaba/Zhipu)
Fokus Utama Kemampuan teknis mutakhir (Frontier) Adopsi massal & efisiensi biaya
Aksesibilitas Dominan berbasis Cloud (Tertutup) Banyak opsi Open-Source
Biaya Premium/Mahal Ekonomis/Kompetitif

Keunggulan Open-Source dan Kedaulatan Data

Selain harga, daya tarik utama produk AI Tiongkok ialah sifatnya yang open-source. Hal ini memungkinkan pemerintah atau perusahaan untuk mengunduh dan menjalankan model secara lokal di pusat data mereka sendiri, tanpa harus bergantung pada layanan cloud pihak ketiga yang berisiko mengalami kebocoran data atau perubahan harga mendadak.

Namun, dominasi AS belum sepenuhnya goyah. Beberapa pengguna tetap memilih model AS karena fitur-fitur transformatif yang belum bisa disamai. Bo Bai, CEO MetaComp di Singapura, sempat beralih ke model Tiongkok, tetapi kembali menggunakan sistem Claude dari Anthropic setelah fitur Skills dirilis, yang menurutnya jauh melampaui kemampuan model lain dalam hal alur kerja berulang.

Pertarungan ini bukan sekadar soal teknologi, melainkan soal pengaruh ekonomi dan politik. Jika Tiongkok berhasil menguasai pangsa pasar global melalui strategi Digital Silk Road, mereka akan memiliki kekuatan lebih besar dalam menetapkan standar aturan teknologi digital dunia di masa depan. (Washington Post/I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *