
KANKER usus besar atau kanker kolorektal merupakan salah satu jenis kanker yang masih menjadi ancaman serius bagi masyarakat Indonesia. Sayangnya, penyakit ini sering kali sulit dikenali sejak dini karena gejalanya mirip dengan berbagai gangguan pencernaan lain, termasuk ambeien atau wasir.
Tidak sedikit penderita yang menganggap keluhan seperti buang air besar berdarah, sakit perut, atau perubahan pola buang air besar sebagai masalah pencernaan biasa. Akibatnya, kanker baru terdeteksi ketika sudah memasuki stadium lanjut dan menyebar ke organ lain.
Berdasarkan data Globocan 2022, kanker usus besar menempati urutan keempat kanker dengan jumlah kasus terbanyak di Indonesia setelah kanker payudara, kanker paru-paru, dan kanker serviks. Tahun tersebut tercatat sebanyak 35.676 kasus kanker usus besar, dengan 19.255 kasus berakhir dengan kematian.
Dokter Spesialis Bedah Konsultan Bedah Digestif Mitra Keluarga, dr. Suijanta Kartadinata, menjelaskan kanker usus besar pada tahap awal umumnya tidak menimbulkan gejala yang khas. “Pada fase awal kanker usus besar biasanya tidak menimbulkan gejala. Gejala akan mulai terlihat atau terasa pada fase lanjut,” ujar dr. Suijanta dikutip dari laman RS Mitra Keluarga.
Ciri-Ciri Kanker Usus Besar
Salah satu gejala yang paling sering menimbulkan kesalahpahaman adalah keluarnya darah saat buang air besar. Banyak orang langsung menganggap kondisi tersebut sebagai ambeien, padahal bisa menjadi tanda adanya kanker usus besar.
Selain BAB berdarah, kanker usus besar juga dapat ditandai dengan berbagai keluhan lain, seperti:
- Nyeri atau kram pada perut.
- Perut terasa kembung dan sering bergas.
- Diare yang berlangsung terus-menerus.
- Sembelit berkepanjangan.
- Perubahan bentuk tinja menjadi lebih kecil, tipis, atau encer dari biasanya.
- Muncul rasa ingin buang air besar terus-menerus meski sudah selesai BAB.
- Tubuh mudah lelah.
- Wajah terlihat pucat akibat anemia.
- Penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas.
Darah pada tinja akibat kanker usus besar dapat membuat feses berwarna cokelat tua hingga hitam. Namun, pada beberapa kasus, darah juga bisa tampak merah terang keluar melalui dubur sehingga sering disangka sebagai gejala wasir.
Pada stadium yang lebih lanjut, penderita juga dapat mengalami nyeri perut yang semakin berat dan penurunan berat badan yang signifikan. Jika kanker telah menyebar ke organ lain seperti hati, penderita bahkan bisa mengalami penyakit kuning.
Pada wanita, kanker usus besar juga dapat menimbulkan gejala tambahan berupa nyeri saat menstruasi, anemia selama masa haid, hingga siklus menstruasi yang tidak teratur.
Faktor Risiko yang Perlu Diwaspadai
Menurut dr. Suijanta, gaya hidup menjadi salah satu faktor penting yang dapat meningkatkan risiko kanker usus besar. “Faktor risiko kanker usus besar bisa beragam, mulai dari gaya hidup, misalnya jarang olahraga, merokok, konsumsi alkohol, itu bisa jadi faktor yang menyebabkan sel kanker tumbuh. Apalagi jika di atas usia 50 tahun, wajib waspada,” kata dia.
Selain faktor usia dan gaya hidup, beberapa kondisi lain yang dapat meningkatkan risiko kanker usus besar meliputi riwayat keluarga dengan kanker kolorektal, riwayat polip usus, penyakit radang usus kronis seperti kolitis ulseratif dan penyakit Crohn, obesitas, diabetes, serta pola makan yang tinggi konsumsi daging merah.
Faktor genetik tertentu seperti Familial Adenomatous Polyposis (FAP) dan Sindrom Lynch juga diketahui dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami kanker usus besar.
Berawal dari Polip yang Berkembang Menjadi Kanker
Menurut American Cancer Society (ACS), penyebab pasti kanker usus besar belum diketahui. Namun, penyakit ini sering kali diawali oleh munculnya polip pada dinding bagian dalam usus besar.
Polip merupakan pertumbuhan jaringan yang umumnya bersifat jinak. Meski demikian, beberapa jenis polip, terutama polip adenomatosa, dapat berkembang menjadi kanker apabila tidak terdeteksi dan ditangani sejak dini.
Kanker terjadi ketika terdapat perubahan atau mutasi pada DNA sel yang membuat sel tumbuh secara tidak terkendali. Seiring waktu, sel kanker dapat membentuk tumor ganas dan menyebar ke bagian tubuh lain melalui aliran darah maupun sistem getah bening.
Proses penyebaran tersebut dikenal sebagai metastasis dan menjadi salah satu alasan mengapa kanker usus besar yang terlambat terdiagnosis cenderung lebih sulit diobati.
Kenali Gejala Sejak Dini
Karena gejalanya sering menyerupai ambeien maupun gangguan pencernaan lainnya, masyarakat disarankan tidak mengabaikan keluhan yang berlangsung terus-menerus, terutama BAB berdarah, perubahan pola buang air besar, nyeri perut berkepanjangan, serta penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
Pemeriksaan medis sedini mungkin dapat membantu mendeteksi kanker usus besar pada tahap awal, ketika peluang keberhasilan pengobatan masih jauh lebih tinggi. Oleh karena itu, mengenali tanda-tanda kanker usus besar sejak dini menjadi langkah penting untuk mencegah penyakit berkembang ke stadium yang lebih berat. (RS Mitra Keluarga/Z-2)
