Peternak Rakyat Terjepit Efek Domino Impor Pakan dan Krisis Likuiditas
ilustrasi(Antara)

Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Permindo) mengungkapkan bahwa rendahnya harga ayam hidup (Live Bird/LB) yang berkepanjangan saat ini bukan sekadar masalah kelebihan pasokan (over supply). Terdapat persoalan struktural mendalam, mulai dari tata kelola impor bahan baku pakan hingga krisis likuiditas yang mencekik peternak rakyat.

Ketua Umum Permindo, Kusnan, menjelaskan bahwa saat ini harga Live Bird di berbagai sentra produksi nasional anjlok ke kisaran Mata Uang Rupiah 15.000 hingga 17.000 per kilogram. Padahal, Biaya Pokok Produksi (HPP) peternak telah membengkak hingga Mata Uang Rupiah 22.000 per kilogram.

Kesenjangan ini diperparah oleh kenaikan harga pakan yang kini mencapai Mata Uang Rupiah 8.600 hingga 9.500 per kilogram, atau naik sekitar 1.000 per kilogram dari periode sebelumnya. Kondisi ini memaksa peternak menanggung kerugian antara 5.000 hingga 7.000 per kilogram ayam yang dijual.

Estimasi Kerugian Peternak:

  • Kerugian per kilogram: Mata Uang Rupiah 5.000 – 7.000
  • Rata-rata bobot panen: 2 kilogram per ekor
  • Total kerugian per ekor: Mata Uang Rupiah 8.000 – 10.000

Efek Domino Tata Kelola Impor

Kusnan menilai situasi ini sebagai bentuk Cost-Price Squeeze, di mana biaya produksi terus meroket sementara harga jual justru terjun bebas. Akar masalahnya ditengarai berasal dari perubahan mekanisme pengadaan bahan baku pakan impor yang kini semakin terkonsentrasi satu pintu dengan sistem Cash Before Delivery (CBD).

“Sistem CBD ini meningkatkan kebutuhan modal kerja industri pakan secara signifikan. Akibatnya, pabrik pakan mempercepat penagihan kepada peternak untuk menjaga likuiditas mereka. Tekanan ini berpindah ke peternak dan memicu panic selling,” ujar Kusnan dalam keterangan tertulis, Rabu (24/6).

Fenomena penjualan terpaksa ini membuat posisi tawar peternak rakyat melemah drastis di hadapan pasar. Harga ayam hidup pun tertekan jauh di bawah harga acuan pemerintah karena tidak lagi mencerminkan keseimbangan supply dan demand yang sehat, melainkan dipicu oleh ketimpangan modal.

Ancaman bagi Peternak Mandiri

PERMINDO memperingatkan bahwa jika kondisi ini dibiarkan, peternak rakyat dan pelaku usaha menengah akan menjadi pihak pertama yang tersingkir dari industri, sementara perusahaan besar dengan modal kuat dan fasilitas penyimpanan karkas yang memadai relatif lebih mampu bertahan.

Guna mengatasi krisis ini, PERMINDO mendesak pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas), Kementerian Pertanian, dan Kementerian BUMN untuk segera melakukan langkah korektif, di antaranya:








Poin Usulan Tujuan Strategis
Evaluasi Tata Kelola Impor Mengurangi tekanan likuiditas pada industri pakan.
Buffer Stock Nasional Menjamin ketersediaan bahan baku pakan secara stabil.
Penguatan Serapan BUMN Menstabilkan harga saat berada di bawah HPP.
Transparansi Data Nasional Sinkronisasi produksi DOC, populasi ayam, dan stok karkas.

“Yang dibutuhkan peternak rakyat bukan bantuan sesaat, melainkan perbaikan ekosistem usaha yang sehat, adil, dan transparan. Keberlangsungan peternak rakyat adalah pilar utama ketahanan pangan nasional,” pungkas Kusnan.



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *