
SEBUAH foto satelit yang menakjubkan berhasil menangkap fenomena alam langka di atas Samudra Atlantik. Terlihat formasi awan melingkar yang berbentuk sempurna menyerupai papan sasaran panah (bull’s-eye). Awan konsentris misterius ini muncul tepat di atas sebuah gunung berapi yang tengah meletus di Pulau La Palma, Kepulauan Kanari, Spanyol.
Fenomena visual yang mencengangkan tersebut terekam oleh instrumen MODIS (Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer) di atas satelit Aqua milik NASA. Cincin awan raksasa ini terbentuk akibat kombinasi antara kolom asap letusan gunung berapi dengan gangguan atmosfer yang sangat tidak biasa.
Gunung berapi yang menjadi dalang di balik fenomena ini adalah Cumbre Vieja, yang mulai meletus sejak pertengahan September 2021 setelah tertidur selama 50 tahun. Erupsi hebat ini menciptakan lubang angin baru setinggi 200 meter yang terus-menerus menyemburkan lava, abu, dan gas hidrogen sianida, hingga memaksa ribuan warga sekitar dievakuasi karena kehancuran infrastruktur yang masif.
Namun, efek atmosfer yang terekam kali ini jauh lebih unik. Biasanya, kolom asap dan gas panas dari erupsi gunung berapi akan membubung lurus ke atas hingga mencapai lapisan stratosfer. Hal ini terjadi karena udara panas memiliki massa yang lebih ringan daripada udara dingin di sekitarnya.
Akan tetapi, kondisi yang terjadi saat foto tersebut diambil justru sebaliknya. Sebuah fenomena langka yang disebut “inversi suhu” sedang berlangsung di atmosfer wilayah tersebut. Inversi suhu menciptakan lapisan udara hangat yang letaknya berada di atas udara dingin. Lapisan hangat ini bertindak layaknya sebuah “tutup wadah” raksasa di atmosfer pada ketinggian sekitar 5,3 kilometer.
Kolom asap tebal yang membubung dari gunung berapi menabrak lapisan hangat tersebut, sehingga tidak bisa naik lebih tinggi lagi. Akibatnya, asap dan uap air terpaksa menyebar secara horizontal. Karena intensitas letusan gunung berapi memiliki ritme alami yang naik-turun, dorongan emisi yang terjadi secara berkala ini menciptakan riak bergelombang di udara.
Dalam dunia meteorologi, fenomena riak melingkar ini dikenal dengan istilah “gelombang gravitasi” (gravity wave). Proses pembentukannya sangat mirip dengan riak air yang melebar saat kita menjatuhkan batu ke dalam kolam yang tenang. Meski menggunakan kata gravitasi, fenomena cuaca ini murni merupakan gelombang atmosfer dan sama sekali tidak berkaitan dengan gelombang ruang-waktu (gelombang gravitasional) dalam ilmu fisika kuantum.
Penjelasan mendalam mengenai mekanisme terbentuknya formasi awan unik akibat letusan gunung berapi dapat disaksikan secara visual melalui Video Dokumentasi Cincin Awan Misterius NASA. Video ini mengulas bagaimana satelit ruang angkasa mendeteksi fenomena atmosfer tak biasa yang sempat memicu berbagai teori spekulatif di internet. (Live Science/Z-2)
