
DI tengah pesatnya perkembangan media sosial, promosi pariwisata kini tidak lagi bergantung pada baliho atau brosur. Cukup dengan satu video yang menarik di Tiktok atau unggahan Instagram yang viral, sebuah destinasi wisata dapat dikenal oleh ribuan bahkan jutaan orang dalam waktu singkat. Namun tidak semua desa wisata mampu memanfaatkan peluang tersebut dengan mudah.
Hal itu dirasakan oleh sejumlah pengelola desa wisata di Kabupaten Bogor. Meski memiliki potensi alam, budaya, dan produk lokal yang menarik, banyak diantara mereka mengaku masih kesulitan memanfaatkan media digital sebagai sarana promosi. Bukan karena tidak memiliki akses internet, melainkan karena keterbatasan keterampilan dalam membuat dan mengelola konten.
“Kami punya banyak potensi yang bisa ditampilkan, tetapi sering bingung harus membuat konten seperti apa agar menarik perhatian orang,” ungkap salah satu pengelola desa wisata dalam diskusi yang melibatkan para pelaku wisata di Kabupaten Bogor.
Kesulitan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengambil foto atau merekam video. Banyak warga desa yang belum memahami cara menyusun cerita, membuat narasi promosi, mengedit konten, hingga membaca tren yang sedang berkembang di media sosial. Akibatnya, berbagai potensi wisata yang dimiliki desa sering kali kalah saing dengan destinasi lain yang lebih aktif dan lebih terampil dalam memanfaatkan ruang digital.
Padahal, di era saat ini, perhatian publik menjadi sesuatu yang sangat berharga. Destinasi yang mampu menarik perhatian di media sosial akan lebih mudah dikenal dan dikunjungi wisatawan. Sebaliknya, destinasi yang minim eksposur berisiko tenggelam di tengah derasnya arus informasi digital.
Persoalan lain yang juga banyak disampaikan adalah masih rendahnya pemahaman masyarakat mengenai sistem keuangan digital. Sejumlah desa wisata telah mulai menggunakan QRIS sebagai metode pembayaraan, namun tidak semua pelaku usaha lokal memahami cara penggunaannya. Sebagian masih merasa kesulitan dalam mengelola transaksi digital, melakukan pencatatan keuangan, maupun memanfaatkan aplikasi keuangan yang tersedia.
Kondisi ini menunjukkan bahwa transformasi digital tidak hanya berbicara soal ketersediaan teknologi, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia untuk menggunakannya. Ketika kemampuan digital masyarakat masih terbatas, teknologi yang seharusnya menjadi peluang justru belum mampu dimanfaatkan secara maksimal.
Dalam perspektif ekonomi politik media, persoalan tersebut tidak sekadar berkaitan dengan promosi wisata. Ada persoalan ketimpangan akses terhadap produksi informasi. Mereka yang memiliki keterampilan membuat konten, memahami algoritma media sosial, dan memiliki sumber daya yang memadai akan lebih mudah mendapatkan perhatian publik dibandingkan dengan kelompok yang memiliki keterbatasan kemampuan.
Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Noam Chomsky yang menjelaskan bahwa mmemiliki peran penting dalam membentuk persepsi publik. Realitas yang muncul di ruamedia sering kali ditentukan oleh pihak yang memiliki kemampuan untuk memproduksi menyebarkan informasi secara lebih efektif. Ketika masyarakat desa belum memiliki kapastersebut, maka potensi yang mereka miliki berisiko kurang terlihat di ruang publik dibandingkan dengan pihak lain yang lebih siap secara digital.
Di sisi lain, para pengelola desa wisata juga menyoroti minimnya pendampingan yang berkelanjutan. Berbagai pelatihan memang pernah dilakukan, tetapi sebagian besar hanya berlangsung dalam waktu singkat. Setelah kegiatan selesai, masyarakat kembali menghadapi berbagai kendala tanpa adanya pendampingan lanjutan yang membantu mereka menerapkan keterampilan yang telah dipelajari.
Padahal, kebutuhan masyarakat tidak berhenti pada pelatihan dasar. Mereka membutuhkan pendampingan yang berkelanjutan dalam pengelolaan media sosial, pembuatan konten kreatif, pemasaran digital, hingga literasi keuangan digital. Dengan dukungan tersebut, masyarakat tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi untyuk mengembangkan potensi ekonomi desa secara mandiri.
Di tengah semakin kuatnya pengaruh media digital terhadap sektor pariwisata, desa wisata dituntut untuk mampu beradaptasi. Namun adaptasi tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada masyarakat. Dukungan pemerintah, perguruan tinggi, komunitas kreatif, dan berbapihak terkait tetap dibutuhkan agar transformasi digital benar-benar mampu memberi manfaat yang merata.
Desa wisata sebenarnya tidak pernah kekurangan cerita. Yang masih menjadi pekerjaan rumah adalah bagaimana membantu masyarakat memiliki kemampuan untuk menceritakan potensi tersebut kepada dunia.
