
INGATAN masa kecil masih tertancap di benak Dani Trianto, 14, ketika diajak orang tuanya ke Pasar Wage, Banyumas, Jawa Tengah. Dani kecil bersama orang tuanya berangkat ke Pasar Wage Purwokerto dengan naik angkutan dilanjutkan berjalan kaki dari rumahnya di Desa Dawuhan Wetan, Kecamatan Kedungbanteng. Jarak Pasar Wage Purwokerto dari rumahnya kurang lebih 15 kilometer (km).
Dani digendong bapaknya, Casim, yang tidak bisa melihat. Bapaknya digandeng ibunya, Risem, yang mengalami tuli sejak lahir. Kedua orang tuanya yang merupakan penyandang disabilitas itu tidak memiliki pekerjaan tetap. Mereka biasanya ke pasar untuk meminta-minta.
Sejak kecil, Dani hidup dalam situasi yang penuh tantangan, terutama secara ekonomi akibat miskin ekstrem. Bahkan, dalam hal komunikasi sehari-hari di lingkungan keluarga juga mengalami kendala. Dani harus berkomunikasi dengan orang tuanya yang difabel, sehingga perlu menggunakan bahasa dan kode tertentu.
Perjalanan sebagai siswa di Sekolah Dasar (SD) tidaklah mudah bagi Dani. Orang tuanya tidak memiliki kemampuan untuk mengajari mata pelajaran sekolah karena keterbatasan pendidikannya dan sebagai penyandang disabilitas.
Di sekolah dia harus menerima perundungan dari teman-temannya, karena kondisi orang tuanya. “Pernah diejek karena kondisi orang tua saya yang begitu. Saya juga sering tidak bisa belajar, karena memikirkan orang tua. Bahkan, orang tua tidak dapat mengajari pelajaran dari sekolah,” ungkap Dani saat ditemui pada Kamis (11/6) lalu.
Tetapi, Dani tidak patah arang. Ia tetap belajar. Ada tetangganya yang dengan sukarela memberikan waktunya untuk mengajari Dani agar tidak ketinggalan pelajaran di sekolah. Kebetulan tetangganya adalah seorang guru. Guru tersebut kerap datang langsung ke rumah untuk mengajarkan membaca dan berhitung. “Dulu ada guru yang datang ke rumah, tetangga juga. Dia yang sering ngajarin saya membaca dan berhitung,” katanya.
Meski perjalanannya penuh onak dan duri, perjuangannya akhirnya membuahkan hasil. Dani bisa lulus SD. Sebetulnya, selepas SD, ia masih bimbang mau melanjutkan sekolah atau tidak. Karena masalah ekonomi dan terpikir untuk membantu kedua orang tuanya dengan bekerja.
Niat putus sekolah urung dilakukan. Sebab, ketika lulus SD, pemerintah meluncurkan program Sekolah Rakyat. Ini merupakan program pendidikan berasrama gratis yang ditujukan khusus bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem. Program ini betul-betul menjadi jawaban atas persoalan yang dihadapi Dani dan anak-anak miskin ekstrem lainnya, karena seluruh biaya siswa ditanggung, mulai dari biaya pendidikan, tempat tinggal, makan, pakaian, dan layanan kesehatan. Dan, Dani menjadi salah satu siswa yang terpilih untuk melanjutkan ke Sekolah Rakyat.
Ketika masuk di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 13 Banyumas yang berada di Kompleks UPT Kemensos Sentra Satria di Desa Ketenger, Kecamatan Baturraden, Dani betul-betul bahagia. Dia menemukan harapan baru setelah mendapatkan lingkungan belajar yang lebih kondusif. “Di sini saya merasa lebih nyaman karena bisa fokus belajar tanpa gangguan, termasuk tanpa ejekan dari teman sebaya,” ungkapnya.
Selain akademik, Dani juga aktif dalam kegiatan olahraga, terutama pencak silat. Ia bahkan sudah mulai mengikuti latihan secara rutin di sekolah. “Saya ikut pencak silat, sekarang masih sabuk hijau,” katanya bersemangat.
Ketika ditanya tentang masa depan pendidikan, Dani mengaku ingin melanjutkan hingga ke jenjang perguruan tinggi. Baginya, pendidikan adalah jalan untuk mengubah kehidupannya menjadi lebih baik. “Ingin kuliah sampai selesai,” ujarnya singkat.
Di lingkungan tempat belajar sekaligus tempat tinggalnya, Dani merasa lebih dihargai dan memiliki kesempatan untuk berkembang. Ia juga menikmati berbagai fasilitas yang tersedia serta suasana belajar yang lebih kondusif. “Di sini fasilitasnya cukup, teman-temannya juga baik,” ujarnya.
Anak Kembar
Kisah lainnya diungkapkan oleh anak kembar bernama Ahmad Hamdani dan Ahmad Rabani, warga Desa Kebumen, Kecamatan Baturraden. Dani, panggilan Ahmad Hamdani, dan Bani, panggilan Ahmad Rabani, mengalami masa kecil yang tidak mudah.
Lahir hingga usia sekitar tujuh tahun, keduanya tinggal di Palembang. Kemudian mereka pindah ke Jawa karena ibunya meninggal dunia. “Waktu itu lagi ujian kelas 1 SD, terus kami pindah ke Jawa,” ujar Dani.
Setelah berpindah tempat tinggal, keduanya kemudian diasuh oleh bibi mereka. Dalam satu rumah, mereka tinggal bersama beberapa anggota keluarga lain. Kondisi itu membuat mereka harus beradaptasi dengan lingkungan baru. “Dulu tinggal di Palembang, terus ibu tidak ada. Setelah itu ikut bude di sini (Banyumas),” tambahnya.
Mereka melewati masa-masa susah selama duduk di bangku SD. Begitu masuk ke SRMP 13 Banyumas, mereka mengaku hidupnya berubah. Sebelumnya, mau bangun jam berapa pun tidak ada yang marah. “Kalau dulu bangunnya bisa jam 12 siang. Sekarang lebih teratur,” ungkap Bani.
Dani dan Bani merasakan bagaimana perbedaannya bersekolah di SRMP 13 Banyumas. Rutinitas harian mereka kini dimulai sejak subuh dengan salat, dilanjutkan mengaji, olahraga, hingga bersih-bersih asrama sebelum berangkat sekolah. Setelah kegiatan belajar, aktivitas mereka diisi dengan ibadah, makan, hingga belajar malam dan refleksi diri. “Di sini lebih disiplin, lebih teratur. Kami lebih suka yang seperti ini,” jelasnya.
Mereka mengaku akan terus giat belajar untuk bisa menjadi seorang polisi. Alasan mereka adalah polisi merupakan sosok yang gagah dan disiplin. Nilai-nilai itu pula yang kini mulai mereka pelajari dalam kehidupan sehari-hari. “Karena polisi itu gagah dan disiplin,” tambahnya.
Para siswa SRMP 13 Banyumas tak hanya dididik dalam ilmu pengetahuan semata, melainkan juga dalam membangun karakter dan saling memperhatikan satu sama lain. Seperti yang terlihat pada pekan lalu, para siswa berkumpul di Lapangan Futsal untuk melakukan kegiatan kedisiplinan.
Tiba-tiba, di bagian akhir ada lagu dari Jamrud yang berjudul Selamat Ulang Tahun. Ternyata, salah satu siswa bernama Ardian tengah merayakan ulang tahun. Para siswa menyanyi bersama untuk mengucapkan selamat kepada Ardian. Ini merupakan tradisi sebagai upaya untuk mendekatkan para siswa agar semakin saling memahami dan memperhatikan.

Verifikasi Ketat
Kepala SRMP 13 Banyumas, Siti Isbandiyah, mengatakan kehadiran Sekolah Rakyat menjadi harapan baru bagi anak-anak yang datang dari keluarga miskin ekstrem. “Program yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto ini memberikan kesempatan memperoleh pendidikan yang layak, sekaligus berupaya memutus rantai kemiskinan antargenerasi melalui pembentukan karakter dan pengasuhan yang intensif,” katanya saat berbincang dengan Media Indonesia.
Menurutnya, 50 siswa yang dididik oleh SRMP 13 berasal dari keluarga yang masuk dalam Desil 1 dan 2 atau miskin ekstrem dan miskin sesuai Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).
“Tujuan utama program tersebut adalah memberikan kesempatan kepada anak-anak agar dapat mengubah masa depannya melalui pendidikan. Kami ingin memutus mata rantai kemiskinan. Anak-anak ini diharapkan tidak lagi mengalami kondisi yang sama dengan orang tuanya. Mereka harus memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang baik, pengasuhan yang baik, dan masa depan yang lebih cerah,” jelasnya.
Berbeda dengan sekolah pada umumnya, penerimaan siswa di SRMP tidak dilakukan melalui sistem pendaftaran terbuka. Sekolah menerima siswa berdasarkan data yang telah ditetapkan pemerintah melalui DTSEN.
“Data tersebut bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kemensos, kemudian ditindaklanjuti oleh Dinas Sosial di daerah bersama para pendamping Program Keluarga Harapan (PKH). Semua data calon siswa sudah ada di pemerintah. Pendamping PKH dan Dinas Sosial yang melakukan verifikasi langsung ke lapangan,” katanya.
Proses verifikasi dilakukan secara detail. Tidak hanya melihat identitas keluarga, tetapi juga kondisi rumah, pekerjaan orang tua, hingga jumlah penghasilan keluarga. “Data yang dimiliki sangat rinci. Bahkan kondisi rumah, atap, lantai, dapur, dan jumlah anggota keluarga semuanya tercatat. Ada pengecekan langsung ke lapangan. Data itu benar-benar detail. Karena itu, sasaran program ini bisa lebih tepat,” katanya.
Selain keluarga miskin dan miskin ekstrem, anak-anak yatim piatu juga menjadi kelompok yang diprioritaskan untuk memperoleh layanan pendidikan di Sekolah Rakyat. “Banyak anak yang sudah tidak memiliki orang tua dan hanya tinggal bersama kakek, nenek, atau kerabatnya. Mereka menjadi salah satu kelompok yang paling rentan dan membutuhkan perhatian lebih,” ungkapnya.
Dia mengungkapkan, sebagian besar siswa yang masuk ke SRMP 13 Banyumas berasal dari lingkungan dengan berbagai keterbatasan. Karena itu, banyak di antara mereka yang belum terbiasa dengan pola hidup disiplin dan kebiasaan-kebiasaan positif. “Bukan untuk merendahkan, tetapi memang kondisi yang kami temui di lapangan seperti itu. Ada anak yang belum terbiasa menjaga kebersihan, belum disiplin, dan belum memiliki kebiasaan-kebiasaan baik dalam kehidupan mereka sehari-hari,” ujarnya.
Ia mencontohkan, dari sisi kesehatan, banyak siswa yang datang dengan berbagai keluhan. “Ada yang sakit gigi, sakit mata, gangguan kulit, dan masalah kesehatan lainnya. Hal pertama yang kami lakukan adalah memastikan mereka sehat, bersih, dan siap belajar,” katanya.
Pihak sekolah kemudian bekerja sama dengan puskesmas dan tenaga kesehatan untuk menangani berbagai persoalan kesehatan yang dialami siswa. “Kalau anak sehat, maka proses belajar dan pembinaan juga bisa berjalan dengan baik,” kata dia.
Tanpa Gawai
Salah satu kebijakan yang diterapkan di Sekolah Rakyat adalah tidak memperbolehkan siswa membawa gawai. Pada awalnya, kebijakan tersebut sempat membuat para siswa merasa kesulitan. “Awalnya banyak yang bertanya kapan boleh menggunakan handphone. Namun sekarang mereka sudah terbiasa,” ujarnya.
Menurut Isbandiyah, tidak adanya telepon genggam justru memberikan dampak positif terhadap kemampuan sosial anak. “Mereka jadi lebih banyak berbicara, bermain, dan berinteraksi secara langsung dengan teman-temannya. Mereka menemukan kembali cara berkomunikasi yang lebih manusiawi,” katanya.
Bahkan, beberapa siswa mengaku merasa kurang nyaman ketika kembali ke rumah saat berkesempatan libur karena teman-temannya desanya yang lebih banyak bermain telepon genggam daripada berbincang secara langsung.
Meski begitu, pihak sekolah tetap memberikan kesempatan bagi siswa untuk berkomunikasi dengan orang tua melalui fasilitas video call yang didampingi guru dan wali asrama. “Kami membatasi penggunaan handphone, tetapi bukan berarti melarang anak berkomunikasi dengan keluarga,” ujarnya.
Untuk menghindari kejenuhan, pihak sekolah juga menyediakan berbagai kegiatan di luar pembelajaran formal. Mulai dari kegiatan vokasional seperti memasak dan berkebun, pelatihan kebencanaan bersama BPBD dan pemadam kebakaran, hingga kegiatan bersama perguruan tinggi dan berbagai komunitas.
Selain itu, siswa juga rutin mengikuti outing class ke sejumlah daerah. “Kami mengajak mereka ke Yogyakarta, Kebumen, Banjarnegara, dan beberapa tempat lainnya. Ada juga kegiatan menonton film bersama. Bagi sebagian siswa, pengalaman tersebut menjadi momen yang tidak terlupakan. Karena ternyata, ada anak yang baru pertama kali masuk pusat perbelanjaan dan naik eskalator,” ujarnya.
Saat ini, SRMP 13 Banyumas didukung 12 guru dan 15 wali asrama yang mendampingi para siswa secara intensif. Setiap wali asrama mendampingi sekitar 10 siswa sehingga proses pengasuhan dan pembinaan dapat dilakukan secara lebih mendalam.
Membangun Karakter
Ketika pertama kali masuk, pihak sekolah melakukan survei kecil-kecilan. Salah satu temuan yang cukup mengejutkan bagi pihak sekolah adalah rendahnya kebiasaan beribadah di kalangan siswa.
Karena kebetulan para siswa yang masuk SRMP 13 Banyumas semuanya muslim, maka Isbandiyah menanyakan kepada para siswa tentang kebiasaan melaksanakan salat lima waktu.
“Dari 50 siswa, yang mengaku rutin salat lima waktu hanya dua orang. Itu menjadi perhatian besar bagi kami,” katanya.
Kondisi tersebut mendorong pihak sekolah menjadikan pendidikan agama sebagai fondasi utama pembentukan karakter. “Kami ingin anak-anak memahami siapa Tuhannya, memahami nilai-nilai kehidupan, dan menyadari bahwa ibadah merupakan kebutuhan, tidak hanya kewajiban,” ujarnya.
Setiap hari, siswa dibangunkan sekitar pukul 04.00 WIB untuk melaksanakan salat Subuh berjamaah, dilanjutkan mengaji bersama ustaz yang didatangkan secara khusus oleh sekolah. “Awalnya mungkin mereka merasa terpaksa. Tetapi lama-kelamaan menjadi kebiasaan dan mudah-mudahan menjadi kebutuhan dalam hidup mereka,” katanya.
Selain pendidikan agama, sekolah juga menerapkan program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang dicanangkan pemerintah. Yakni bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat. Dalam praktiknya, kegiatan siswa dimulai sejak pagi hari dengan bangun lebih awal, membersihkan diri, merapikan tempat tidur, beribadah, berolahraga, dan mempersiapkan diri mengikuti kegiatan belajar. “Anak-anak dibiasakan bangun pagi, membersihkan tempat tidur, menjaga kebersihan, dan disiplin terhadap jadwal kegiatan sehari-hari,” kata Isbandiyah.
Menurutnya, kebiasaan sederhana seperti merapikan tempat tidur ternyata menjadi hal baru bagi sebagian siswa. “Mungkin di rumah mereka belum terbiasa. Di sini kami ajarkan perlahan-lahan agar menjadi kebiasaan baik,” ujarnya.
Setelah melaksanakan salat dan olahraga, siswa menjalani inspeksi pagi di asrama. Wali asrama memastikan kamar dalam keadaan bersih dan rapi sebelum siswa diperbolehkan menuju ruang makan dan mengikuti kegiatan belajar. “Kami ingin mereka memahami bahwa disiplin dimulai dari hal-hal kecil,” katanya.
Sebagai sekolah berasrama, proses pendidikan di Sekolah Rakyat berlangsung hampir sepanjang hari. Model pendidikan ini memungkinkan guru dan wali asrama mengenali setiap perkembangan siswa secara lebih mendalam. “Kami bisa melihat perubahan mereka dari hari ke hari, baik dari sisi perilaku, kedisiplinan, maupun kemampuan akademik,” jelas Kepala SRMP 13.
Perubahan pada diri siswa mulai terlihat setelah hampir 10 bulan mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat. “Karakter mereka mulai berubah, ibadahnya semakin baik, dan kedisiplinannya meningkat. Memang semuanya masih berproses, tetapi kami melihat perkembangan yang sangat positif,” kata Isbandiyah.
Ia berharap kehadiran Sekolah Rakyat benar-benar dapat menjadi jalan bagi anak-anak dari keluarga miskin untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik di masa depan. “Kami tidak ingin mereka datang ke Sekolah Rakyat tanpa perubahan. Ini adalah kesempatan besar yang harus dimanfaatkan untuk menjadi pribadi yang lebih baik, berkualitas, dan mampu mengubah masa depan termasuk keluarganya,” tandasnya.
Bagi Dani Trianto, si kembar Ahmad Hamdani dan Ahmad Rabani, serta puluhan anak lainnya, SRMP menjadi tempat yang nyaman untuk belajar, baik ilmu pengetahuan maupun pendidikan karakter. Sekolah menjadi kawah candradimuka untuk melahirkan anak-anak yang unggul dan berkarakter meski datang dari keluarga duafa. (H-2)
