Waspada! Penurunan Hormon saat Menopause Picu Perburukan Gejala ADHD
Perubahan hormon seperti estrogen dan progesteron memengaruhi gejala ADHD pada wanita.(Dok. Magnific)

PERUBAHAN hormon yang terjadi sepanjang siklus hidup perempuan, mulai dari pubertas, kehamilan, hingga menopause, ternyata memiliki dampak signifikan terhadap perkembangan gejala Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). Fluktuasi hormon reproduksi diketahui dapat memperingan atau justru memperparah kondisi kognitif pengidapnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari Healthline, hormon estrogen memegang peranan krusial dalam fungsi otak. Estrogen memengaruhi neurotransmiter seperti dopamin dan serotonin yang mengatur konsentrasi, suasana hati, dan kontrol perhatian. Saat kadar estrogen menurun, gejala ADHD cenderung memburuk, sementara peningkatan estrogen dapat membantu fungsi kognitif tertentu.

Dinamika Hormon dari Pubertas hingga Menstruasi

Pada masa pubertas (usia 8-13 tahun), peningkatan estrogen dan progesteron mulai memengaruhi kondisi emosional remaja perempuan. Menariknya, peningkatan progesteron pada fase tertentu justru dapat menurunkan efektivitas obat ADHD, sehingga gejala tetap terasa berat meski sudah menjalani pengobatan.

Dalam siklus menstruasi bulanan, gejala ADHD sering kali memburuk pada dua minggu terakhir siklus saat kadar progesteron meningkat. Fenomena ini kerap dibarengi dengan sindrom pramenstruasi (PMS) yang menambah kesulitan konsentrasi dan sifat pelupa. Di pertengahan siklus, beberapa perempuan juga dilaporkan lebih rentan terhadap perilaku impulsif.

Tantangan Kehamilan dan Menopause

Masa kehamilan membawa perubahan hormonal besar yang memengaruhi kondisi mental. Pada trimester pertama, gejala ADHD sering kali terasa lebih berat. Mengingat riset mengenai penggunaan obat ADHD selama kehamilan masih terbatas, pasien sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum melakukan penyesuaian dosis atau menghentikan pengobatan.

Memasuki masa perimenopause dan menopause (sekitar usia 40 tahun ke atas), penurunan drastis estrogen dan progesteron menjadi tantangan baru. Penurunan ini tidak hanya memperburuk ADHD, tetapi juga memicu gejala khas menopause seperti gangguan memori dan kabut otak (brain fog).

Saran Medis: Memahami pola fluktuasi hormon sangat penting bagi perempuan dengan ADHD untuk menentukan langkah penanganan yang tepat. Jika gejala memburuk secara signifikan pada fase tertentu, segera konsultasikan dengan tenaga medis profesional untuk mendapatkan penyesuaian terapi yang sesuai dengan kebutuhan hormonal.

Secara keseluruhan, dinamika hormon sepanjang hidup perempuan merupakan faktor kunci dalam manajemen ADHD. Kesadaran akan keterkaitan ini diharapkan dapat membantu para perempuan mengenali pola gejala mereka dan mencari solusi medis yang lebih personal dan efektif. (Healthline/Z-10)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *