
TEKANAN darah tinggi atau hipertensi sering kali dianggap sebagai penyakit orang tua. Namun, pakar kesehatan mengingatkan bahwa hipertensi yang tidak terkontrol sejak usia muda dapat memicu kerusakan organ serius dalam jangka panjang, terutama pada fungsi ginjal.
Dokter spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), dr. Anindia Larasati, Sp.PD, FINASIM, menjelaskan bahwa pembuluh darah pada ginjal memiliki struktur yang sangat kecil dan halus. Tekanan darah yang terus-menerus tinggi akan berdampak buruk pada elastisitas pembuluh darah tersebut.
“Pembuluh darah ginjal itu kecil-kecil. Jadi, kalau misalkan tekanan darahnya cenderung tinggi terus-menerus, maka pembuluh darah di ginjal akan menjadi kaku dan keras, dan bisa menyebabkan gangguan atau penurunan fungsi ginjal,” ujar Anindia di Jakarta, Senin (22/6).
Ancaman Komplikasi Jangka Panjang
Selain ginjal, kekakuan pembuluh darah akibat hipertensi juga mengintai organ jantung. Kondisi ini secara signifikan meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke di masa depan. Bagi penderita hipertensi di usia muda, Anindia menyebutkan bahwa bom waktu komplikasi ini biasanya akan meledak dalam kurun waktu dua dekade.
“Komplikasinya mungkin baru akan dijumpai jangka panjang, bisa 20-25 tahun ke depan bila tekanan darah tidak terkontrol,” tambahnya.
Berikut adalah ringkasan parameter dan gejala hipertensi yang perlu diwaspadai:
| Kategori | Keterangan |
|---|---|
| Ambang Batas Hipertensi | Tekanan darah konsisten di angka 140/90 mmHg atau lebih tinggi. |
| Gejala Umum | Nyeri kepala hebat, pusing yang tidak hilang dengan obat biasa, mual, hingga muntah. |
| Karakteristik Usia Muda | Sering tanpa gejala karena pembuluh darah masih elastis; gejala baru muncul saat tekanan sudah sangat tinggi. |
| Estimasi Komplikasi | Muncul dalam rentang 20 hingga 25 tahun jika tidak ditangani. |
Pentingnya Gaya Hidup Sehat
Hipertensi merupakan penyakit multifaktorial yang sangat dipengaruhi oleh gaya hidup. Meskipun seseorang memiliki faktor genetik atau riwayat keluarga dengan darah tinggi, risiko tersebut tetap bisa diminimalisir atau bahkan dicegah sepenuhnya.
Anindia menekankan bahwa penerapan pola hidup sehat adalah kunci utama bagi kelompok berisiko. Upaya pencegahan yang dapat dilakukan antara lain:
- Rutin berolahraga secara teratur.
- Menerapkan diet rendah garam.
- Menjaga berat badan ideal.
- Menghindari kebiasaan merokok.
“Kalau anaknya rajin berolahraga, diet rendah garam, menjaga berat badan, tidak merokok, maka masih ada kemungkinan bahwa anaknya tidak akan menderita hipertensi walaupun mungkin pada orang tua menderita hipertensi,” pungkasnya. (Ant/Z-1)
