
PERANG Iran telah menelan biaya yang sangat besar bagi pemerintah Amerika Serikat. Menurut data awal dari analisis mendatang yang dirilis oleh Center for Strategic and International Studies (CSIS), Departemen Pertahanan AS (Pentagon) telah menghabiskan sekitar US$40 miliar (sekitar Rp630 triliun) akibat konflik tersebut.
Penasihat Senior CSIS, Mark Cancian, menyampaikan kepada CNN bahwa angka tersebut mencakup biaya pengadaan amunisi, penggantian peralatan yang hancur, serta perbaikan kerusakan di pangkalan-pangkalan militer. Kendati demikian, nominal ini belum termasuk biaya operasional rutin yang sebenarnya sudah dimasukkan ke dalam anggaran Departemen Pertahanan tahun fiskal 2026 yang nilainya mencapai lebih dari US$1 triliun.
Meski Departemen Pertahanan menanggung beban pengeluaran terbesar, konflik ini juga menguras anggaran lembaga pemerintah AS lainnya. Data awal CSIS menunjukkan Departemen Keamanan Dalam Negeri dan Departemen Urusan Veteran harus merogoh kocek hingga US$1 miliar akibat dampak perang.
Dampak ekonomi dari perang ini juga dirasakan langsung oleh masyarakat luas, khususnya para konsumen di sektor energi. Harga bahan bakar minyak (BBM) di Amerika Serikat melonjak tajam, dari yang sebelumnya rata-rata di bawah US$3 per galon menjadi jauh di atas US$4 per galon selama sebagian besar masa perang berlangsung.
Berdasarkan data pelacak biaya energi dari Brown University, rumah tangga di Amerika Serikat rata-rata harus menghabiskan pengeluaran ekstra sebesar US$253 (sekitar Rp4 juta) dibandingkan dengan situasi normal tanpa adanya perang.
Kondisi ini diperparah oleh terhentinya pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah selama hampir empat bulan. Firma analisis data Kpler mencatat bahwa dunia telah kehilangan pasokan minyak mentah hingga 1,15 miliar barel selama konflik bersenjata ini pecah.
Akibat didorong oleh lonjakan harga energi tersebut, inflasi tahunan di AS kini menembus angka di atas 4 persen untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir. Menurut data terbaru dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS, kenaikan harga barang saat ini bergerak lebih cepat daripada pertumbuhan rata-rata gaji warga Amerika selama setahun terakhir. Dengan kata lain, tingginya inflasi pada bulan April dan Mei telah memotong nilai kenaikan upah pekerja, sebuah fenomena yang pertama kali terjadi lagi sejak 2023. (CNN/Z-2)
