
MENTERI Pertahanan RI Jenderal TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin menegaskan pentingnya mencetak perwira militer yang memiliki karakter kepemimpinan adaptif dan visioner. Hal ini dinilai krusial agar jajaran komando Tentara Nasional Indonesia (TNI) mampu merespons dinamika lingkungan strategis global yang perubahannya kian cepat dan kompleks.
Pesan dan arahan strategis tersebut disampaikan Menhan saat memberikan pembekalan kepada 100 Perwira Siswa (Pasis) Sekolah Staf dan Komando Angkatan Udara (Seskoau) Angkatan ke-64 Tahun Pendidikan 2026 di Gedung Widya Mandala I Seskoau, Lembang, Bandung Barat, Rabu (17/6/2026).
Dalam acara yang turut dihadiri langsung oleh Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI M. Tonny Harjono tersebut, Sjafrie memaparkan bahwa sejarah perjuangan bangsa bukan sekadar catatan masa lalu. Sejarah harus dijadikan instrumen aktif dan sumber inspirasi utama untuk mempertebal daya juang serta mentalitas prajurit.
Sjafrie menggarisbawahi tiga aspek mutlak yang saling terintegrasi dalam pembentukan kapasitas seorang pemimpin militer di masa depan. Pertama, pendidikan berkelanjutan dengan menguasai literasi taktis, teknologi dirgantara modern, dan geo-strategi.
Kedua, pengalaman penugasan dengan menempa mentalitas kepemimpinan melalui penugasan lapangan yang dinamis. Ketiga, pengembangan kapasitas diri terbuka terhadap inovasi pertahanan tanpa menanggalkan identitas prajurit.
“Ketiga aspek tersebut menjadi fondasi utama untuk membangun pemimpin yang visioner, mampu beradaptasi terhadap perubahan, serta siap mengambil keputusan strategis di tengah lingkungan global yang sangat dinamis,” ujar Sjafrie.
Berdasarkan keterangan resmi Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara (Dispenau), pembekalan ini merupakan bagian dari kurikulum strategis untuk memperkuat wawasan kebangsaan, kualitas kepemimpinan, dan profesionalisme para perwira.
Sebagai calon pimpinan masa depan, para Pasis Seskoau Angkatan ke-64 ini disiapkan untuk memegang tongkat komando yang akan mengawal arah transformasi taktis kekuasaan udara (air power) Indonesia, termasuk modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) siber dan pertahanan udara modern.
Menhan mengingatkan bahwa nilai-nilai dasar seperti patriotisme, nasionalisme, dan profesionalisme tertinggi harus tetap menjadi doktrin mati yang melandasi setiap kebijakan pertahanan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). (H-2)
