El Nino Berpotensi Sangat Kuat pada Oktober-November 2026
ilustrasi(Antara)

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan Indonesia menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang semakin serius dalam beberapa bulan ke depan seiring menguatnya fenomena El Nino yang diperkirakan mencapai kategori sangat kuat pada Oktober hingga November 2026. Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto mengatakan saat ini El Nino sudah berada pada kategori moderat dengan anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3.4 mencapai 1,4 derajat Celsius. Namun, fenomena tersebut diprediksi terus menguat mulai Juli dan mencapai puncaknya pada Oktober-November.

“Ini tahun ini ada El Nino, dengan pasti sudah terdeteksi hari ini, dengan prediksi akan kuat di bulan-bulan berikutnya. Jadi kita harus sangat waspada di tahun ini,” kata Tri dalam rapat koordinasi penanganan karhutla, Kamis (18/6).

Menurut dia, anomali suhu di Samudra Pasifik diperkirakan meningkat hingga mendekati 2 derajat Celsius pada Juli yang menandakan El Nino kuat. Kondisi itu terus berlanjut pada Agustus dan September sebelum mencapai level sangat kuat pada Oktober dan November dengan nilai anomali di atas 3 derajat Celsius.

Pada saat yang sama, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) diperkirakan berubah menjadi positif. Kondisi ini menyebabkan wilayah perairan Indonesia menjadi lebih dingin sehingga pembentukan awan hujan berkurang dan cuaca semakin kering.

“Dua efek dari Pasifik dan Samudra Hindia akan menyebabkan curah hujan Indonesia berkurang sejak bulan Juni sampai dengan Oktober,” ujarnya.

BMKG mencatat saat ini baru sekitar 33 persen zona musim di Indonesia yang telah memasuki musim kemarau. Namun pada Juli nanti hampir seluruh wilayah Indonesia diperkirakan sudah berada dalam musim kemarau.

Wilayah yang perlu mendapat perhatian khusus adalah daerah-daerah rawan karhutla seperti Sumatera Selatan, Jambi, Riau, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. BMKG memperkirakan curah hujan di wilayah tersebut mulai turun signifikan setelah 20 Juni dan terus menurun hingga September.

“Dasarian ketiga setelah tanggal 20 Juni akan terjadi penurunan curah hujan yang signifikan di wilayah-wilayah yang rawan karhutla,” kata Tri.

Ia menjelaskan puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung pada Agustus hingga September. Pada periode tersebut peluang terbentuknya awan hujan semakin kecil sehingga upaya operasi modifikasi cuaca juga akan menghadapi tantangan besar.

“Di puncak musim kemarau nanti peluang awannya mungkin seminggu hanya satu sampai dua hari ada awan. Sehingga operasi modifikasi cuaca harus benar-benar memperhatikan prediksi dan monitoring pertumbuhan awan secara cermat,” ujarnya.

Meski jumlah hotspot saat ini masih relatif terkendali, BMKG meminta seluruh pihak tidak lengah. Menurut Tri, kondisi cuaca yang semakin kering mulai Juli berpotensi mempercepat munculnya titik panas dan meningkatkan risiko kebakaran apabila terdapat pemicu di lapangan.

Karena itu, BMKG mendorong langkah antisipasi sejak dini melalui patroli, pengawasan kawasan rawan, serta pemanfaatan peluang hujan yang masih tersedia pada Juni hingga awal Juli sebelum memasuki periode puncak kemarau dan El Nino kuat. (E-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *