
PRESIDEN Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan kapal-kapal dagang kini mulai kembali melintasi Selat Hormuz. Jalur pelayaran minyak vital dunia tersebut diproyeksikan akan “terbuka sepenuhnya” pada Jumat, menyusul pengumuman kesepakatan antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri perang di Timur Tengah.
Pembukaan kembali salah satu titik penyumbat energi terpenting di dunia ini, menandai langkah besar menuju akhir dari konflik mematikan selama berbulan-bulan yang sempat memicu gejolak ekonomi global.
“Kapal-kapal mulai bergerak, banyak yang memuat Minyak, keluar dari Selat Hormuz,” ujar Trump, seraya menambahkan bahwa dirinya tidak “berpikir kita akan membutuhkan banyak bantuan” untuk menjaga jalur perairan tersebut tetap terbuka.
Sebelumnya, blokade Iran di selat tersebut sejak awal perang telah melambungkan harga minyak dunia dan memicu kekhawatiran akan guncangan inflasi yang berkepanjangan.
AS, Iran, dan Pakistan selaku mediator menyatakan perjanjian formal akan ditandatangani hari Jumat di Swiss. Namun, pejabat senior pemerintah AS mengungkapkan bahwa Trump, Wakil Presiden JD Vance, dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf sebenarnya telah menandatangani naskah tersebut secara elektronik.
“Presiden ingin menandatanganinya secara pribadi karena beliau ingin menunjukkan… dedikasinya untuk membawa hal ini menuju penyelesaian yang sukses,” kata pejabat tersebut.
Ketika ditanya di sela-sela pertemuan G7 di Prancis mengenai kapan draf dokumen akan dirilis, Trump menjawab, “Ini adalah dokumen yang sangat kuat, dan saya ingin dokumen ini dirilis. Jadi mungkin dalam waktu dekat.”
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menyebut kesepakatan ini membawa “akhir segera” bagi perang, dengan negosiasi menuju “perjanjian final” yang akan digelar dalam waktu dua bulan. Kendati militer Iran menyambutnya sebagai kemenangan, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bersikap lebih berhati-hati.
“Kita memiliki sejarah komitmen yang dilanggar… kita memiliki sejarah perjanjian yang dirobek. Semua ini ada dalam pikiran kami,” tutur Araghchi.
Di sisi lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menegaskan Washington harus memastikan Israel menghentikan pertempuran di Lebanon sesuai kesepakatan.
“Amerika Serikat harus menghormati komitmennya. Mereka harus memastikan rezim Zionis juga menghormati komitmennya sendiri terkait Lebanon,” tegas Baqaei.
Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu justru menyatakan pasukannya akan tetap bertahan di Libanon, Suriah, dan Gaza “selama diperlukan”. Bahkan, media pemerintah Libanon melaporkan terjadinya serangan fatal pertama dari Israel di wilayah selatan yang menewaskan satu orang sesaat setelah pengumuman damai tersebut.
Terkait poin kesepakatan, Baqaei mengeklaim Washington telah berkomitmen untuk mencairkan dana Iran yang dibekukan di luar negeri senilai US$12 miliar dan membayar kompensasi kerusakan perang. Selain itu, Trump sempat mengonfirmasi kepada The NY Times bahwa AS masih menegosiasikan jangka waktu penangguhan pengayaan nuklir Iran antara 15 dan 20 tahun.
Kabar pembukaan kembali jalur yang memasok 20% minyak mentah dunia ini langsung membuat harga minyak mentah dunia anjlok hampir lima persen mendekati angka US$80 per barel, sekaligus memicu lonjakan pada bursa saham global. (AFP/Z-2)
