Tingkatkan Pembinaan Terhadap Cabor-cabor yang Lolos Asian Games 2026
Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir (kiri) menyampaikan paparan saat rapat kerja dengan Komisi X DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (2/6/2026).(Antara)

SKEMA alokasi dana Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) 2025 tengah menjadi bahan perbincangan. Sektor sepak bola kembali mendominasi anggaran, sementara sejumlah cabang olahraga (cabor) yang menjadi lumbung medali emas bagi Indonesia justru harus beroperasi dengan dana yang sangat terbatas.

Berdasarkan data terbaru, total alokasi dana Pelatnas 2025 mencapai Rp407,72 miliar. Dari jumlah tersebut, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) mengantongi jatah sebesar Rp199,78 miliar. Angka ini setara dengan 49% dari total anggaran nasional untuk pembinaan atlet, yang berarti hampir separuh dana negara hanya terserap oleh satu cabang olahraga.

Ironi Lumbung Emas yang Terpinggirkan

Ketimpangan ini terlihat kontras saat disandingkan dengan anggaran yang diterima oleh lima cabor penyumbang emas terbanyak pada multievent internasional. Meski rutin mengharumkan nama bangsa, jatah yang mereka terima berada jauh di bawah angka Rp40 miliar. Berikut adalah rincian perbandingannya:











Cabang Olahraga Alokasi Anggaran (Mata Uang Rupiah)
Sepak Bola (PSSI) 199,78 Miliar
Panjat Tebing 24,9 Miliar
Panahan 20,3 Miliar
Atletik 19,9 Miliar
Dayung 19,3 Miliar
Menembak 18 Miliar
Judo 10,6 Miliar

Di sisi lain, Timnas Indonesia dipastikan gagal lolos ke Asian Games 2026, ajang yang seharusnya menjadi tolok ukur keberhasilan pembinaan. Sebaliknya, cabor seperti panahan yang menyumbang 6 emas di SEA Games 2025 dan atletik dengan 9 emas, justru dipaksa bekerja dengan anggaran minimalis.

Desakan Evaluasi Berbasis Prestasi

Hamdi Putra dari Forum Sipil Bersuara (FORSIBER) menegaskan perlunya evaluasi total terhadap rasionalitas anggaran di Kemenpora. Menurutnya, APBN olahraga tidak boleh sekadar menjadi “subsidi popularitas” bagi cabang tertentu.

“Cabang yang menghasilkan emas justru diperlakukan seperti pelengkap. Evaluasi bukan berarti memusuhi sepak bola, tapi skema saat ini berisiko tidak adil dan tidak efisien,” ujar Hamdi di Jakarta, Jumat (12/6). FORSIBER mendesak penerapan empat indikator baru dalam penyusunan anggaran: rekam jejak medali, peluang medali masa depan, kebutuhan teknis, dan akuntabilitas.

Total anggaran Kemenpora untuk 2026 mengalami penurunan signifikan hingga 50 persen menjadi Rp1,15 triliun.

Tantangan Asian Games 2026

Di tengah polemik anggaran PSSI, persiapan menuju Asian Games 2026 secara umum menghadapi kendala finansial. Menpora Erick Thohir menyebutkan dana Pelatnas untuk ajang tersebut hanya tersedia Rp81 miliar, merosot tajam dibandingkan edisi 2022 yang mencapai Rp389,81 miliar.

Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir menyebut anggaran yang tersedia di kementerian yang dipimpinnya untuk mendukung kontingen Indonesia ke Asian Games 2026 saat ini mencapai Rp61 miliar.

“Dengan tentu keikhlasan seluruh deputi yang hadir, saya apresiasi, kami akhirnya terus menyisir anggaran hingga akhirnya mendapatkan Rp61 miliar,” kata Erick Thohir dalam rapat kerja Komisi X DPR RI di Jakarta, Selasa (2/6/2026).

Erick mengakui bahwa kebutuhan anggaran untuk pemusatan latihan nasional (pelatnas) berbagai cabang olahraga masih belum ideal. Saat ini, dana yang tersedia untuk mendukung program latihan atlet menjelang Asian Games hanya sekitar Rp81 miliar. “Ini sangat jauh menurun,” katanya. (Ant/I-1)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *