
SEORANG mahasiswi berkebangsaan Amerika Serikat-Palestina, Sama Safi, 20, dilaporkan ditahan oleh militer Israel selama hampir dua minggu tanpa dakwaan resmi. Penahanan ini memicu kekhawatiran mendalam dari pihak keluarga dan sejumlah legislator AS, terutama terkait kondisi kesehatan kronis yang dideritanya.
Safi, yang merupakan mahasiswi psikologi di Universitas Birzeit, Tepi Barat, ditangkap dalam penggerebekan dini hari di rumah keluarganya pada 2 Juni lalu. Juru bicara militer Israel menyatakan bahwa Safi bersama tiga perempuan lain ditahan atas tuduhan, “Mempromosikan aktivitas teroris yang bermusuhan,” meskipun hingga saat ini belum ada bukti atau dakwaan formal yang diajukan ke pengadilan.
Kekhawatiran Kondisi Medis
Keluarga Safi mengungkapkan bahwa perempuan muda tersebut menderita penyakit autoinflamasi kronis yang membutuhkan perawatan rutin dan pengobatan spesifik. Penyakit ini dapat menyebabkan demam yang melumpuhkan dan rasa sakit yang luar biasa. Sebelum ditahan, Safi baru saja mulai pulih setelah sempat terbaring di tempat tidur selama berbulan-bulan.
Meskipun perwakilan Kedutaan Besar AS di Jerusalem mengunjungi Safi dan melaporkan bahwa ia dalam kondisi baik, pihak keluarga menegaskan bahwa obat-obatan yang diberikan di pusat penahanan tidak memadai untuk menangani kondisi medisnya secara tepat.
Tekanan Diplomatik dan Politik
Kasus itu menarik perhatian Washington. Senator Peter Welch, Jeff Merkley, Chris Van Hollen, serta Perwakilan Ayanna Pressley menyuarakan desakan agar Safi segera dibebaskan. Mereka sebelumnya juga sukses mengadvokasi pembebasan Mohammed Ibrahim, remaja AS-Palestina yang ditahan selama sembilan bulan.
Pengacara hak asasi manusia, Lea Tsemel, yang mewakili Safi, menyatakan bahwa kliennya menjadi target setelah ada informasi yang diduga diekstraksi secara paksa dari mahasiswa lain yang ditahan sebelumnya. Tsemel membantah keterlibatan Safi dalam organisasi mahasiswa Qutub yang dilarang oleh Israel.
“Sama tahu dia tidak melakukan kesalahan apa pun,” ujar Tsemel. Namun, ia menyoroti tren penggunaan penahanan administratif oleh Israel, yakni ribuan warga Palestina ditahan tanpa proses hukum yang jelas.
Respons Pemerintah AS
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa pemerintahan Trump memantau situasi ini dengan serius. “Ketika warga Amerika ditahan di luar negeri, Departemen mengadvokasi akses ke perawatan medis yang memadai dan mencari akses konsuler secepat mungkin,” ungkapnya.
Hingga berita ini diturunkan, Kementerian Luar Negeri Israel belum memberikan komentar resmi terkait penahanan Sama Safi. Sidang lanjutan untuk menentukan status hukum Safi dijadwalkan akan berlangsung pada Minggu (14/6). (The Guardian/I-2)
